Lembaga Dakwah Kampus Al-Iqtishod STEI Tazkia

Pengecas Ruhani Pemberi Inspirasi

Artikel

Sahabat bisa dapatkan artikel seputar Islam yang bisa menambah pemahaman kita mengenai Islam.

Audio

Download audio kajian dari asatidz terpercaya agar kita lebih mantap dalam memahami agama ini.

Join Us

Bergabung dengan sahabat lainnya di page facebook, twitter dan instagram untuk update artikel keren dan artwork awesome.

Dasar Dalam Sengketa

Oleh Ayu Aisyah.

Dasar dalam sengketa bisa kita ketahui karena beberapa hal, seperti : 

1. Tidak satu pemahaman 

2. Ada keinginan yang tidak tercapai 

3. Adanya kelemahan dalam perjanjian / akad antara kedua belah pihak 

Sangat disayangkan apabila terjadi sengketa saat bekerjasama dengan suatu perusahaan atau siapapun, langsung diselesaikan di meja hijau, padahal ada cara lebih baik dan tidak memerlukan uang yang banyak untuk membayar pengacara atau pun membuang-buang waktu hanya untuk menyelesaikan masalah yang sebenarnya bisa diselesaikan secara kekeluargaan atau bermusyawarah antara satu sama lain yang sedang melakukan perjanjian. 

Dari ketiga hal itulah akan kita bahas dan kita selesaikan dengan cara musyawarah sesuai syariat Islam. 

Pertama, Tidak satu pemahaman

Setiap individu memiliki pemikiran yang berbeda-beda saat melihat kondisi atau membaca situasi yang sedang dialaminya, disinilah setiap individu yang sedang berinteraksi harus bisa saling memberikan pemahaman dalam suatu hal yang akan dikerjakan atau dijalankan bersama, agar mencapai tujuan yang diinginkan secara bersama tanpa adanya sengketa antara kedua belah pihak yang sedang melakukan kerjasama, karena ketidak pemahaman diantara salah satu pihak. 

Misalnya: jika kita sebagai praktisi salah satu perbankan khususnya perbankan syariah, banyak sekali masyarakat yang tidak faham akan produk-produk yang terdapat dalam perbankan syariah. Disinilah seharusnya tugas sebagai praktisi untuk memahamkan para nasabah dengan pemahaman yang bisa dimengerti dengan mudah dan sampaikan berita gembira saat bergabung dengan instusi kita, sampaikan keuntungan, kelebihan dan kekurangan saat kita menjelaskan produk yang sedang kita jelaskan, agar terciptanya transparan dan kejelasan saat nasabah memilih salah satu produk dalam perbankan syariah. Kejujuran yang tinggi tetap kita jaga, jangan sampai terucap kebohongan dalam menjelaskan sesuatu, atau jika kalian tidak mengetahui lebih dalam tentang hal itu maka lebih baik untuk DIAM, atau sampaikan kepada seorang yang bertanya bahwa diri kita belum mempunyai ilmu tentang hal itu (tidak tahu). 

Jadi, suatu pemahaman kejelasan saat kita bekerjasama dengan orang lain sangat diperlukan, agar kemungkinan sengketa sangat kecil bisa terjadi saat itu. Dan Islam pun sebenarnya telah mengajarkan kepada kita untuk selalu terbuka(transparan) dalam melakukan perjanjian tidak ada yang ditutup-tutupi dan tidak membohongi. 

Kedua, Ada keinginan yang tidak tercapai 

Keinginan salah satu pihak yang tidak puas bisa mengakibatkan sengketa, karena salah satu diantara mereka melihat ada peluang ataupun sesuatu yang seharusnya bisa didapat atau dimiliki tetapi tidak bisa dimiliki karena keterbatasan. Disini juga biasanya ada rasa ingin menjatuhkan partner karena mungkin ada kelalaian ataupun usaha yang tidak maksimal yang menyebabkan sesuatu yang seharusnya bisa tercapai malah disini tidak tercapai. 

Disinilah peran Islam muncul untuk menasehati kita agar selalu Qana’ah dalam hal kepuasan yang tidak didapatkan secara maksimal. Kita sebagai manusia bisa saling mengingatkan dalam kebaikan agar tidak terjadi sengketa yang apabila ada suatu keinginan yang tidak tercapai langsung menghakimi oranglain bahwa mereka tidak bekerja dengan baik. Dalam Islam kepuasan ataupun hal yang telah kita dapati seharusnya bisa kita rasakan sebagai keridha’an dalam hati terhadap apa yang telah diberikan Allah berupa rezeki. Karena memang kepuasan yang dirasakan manusia ataupun keinginan untuk suatu hal pada hakekatnya ingin mendapatkan kekayaan(harta). 

Tidak perlu sampai terjadi sengketa saat kita mamahami Islam, dengan saling menasehati dan memberikan kabar gembira dengan ketentuan ajaran Islam maka, sesuatu yang tidak dicapai dengan rasa puas harus bisa menerimanya sebagai salah satu tingkat yang paling utama dalam syukur dan syukur adalah setengahnya dari Iman, ia sebagai pundi-pundi kebajikan, dan kebajikan adalah salah satu cabang iman. 

Tafsir firman Allah (An-Nahl:97) ; 
“…maka, sesungguhnya akan kami berikan kepadanya kehidupan yang baik..” Dikatakan, “kehidupan yang baik didunia adalah rasa puas. Kehidupan adalah sebagian dari iman karena kehidupan jasmani.” 

Ketiga, Adanya kelemahan dalam perjanjian/akad 

Akad tertulis maupun yang tidak tertulis terkadang memiliki suatu kelemahan maka bisa menimbulkan sengketa. 

Akad memiliki konsekuensi yang berbeda-beda, seperti : 

  • Tidak mengikat, contohnya dalam penitipan, dan wasiat. 
  • Mengikat satu pihak, contohnya dalam anggunan dan pegadaian. 
  • Mengikat dua pihak, contohnya jual beli, sewa menyewa dan pernikahan. 
Dari perbedaan itulah terkadang terjadi sengketa melalui kombinasi antara permasalahan sengketa kurangnya pemahaman dalam akad dan juga karena ada sesuatu yang ingin dicapai saat mendapatkan hasil yang kurang memuaskan karena akad yang lemah. 

Menyelesaikan sengketa tidak harus melalui hukum perdata yang telah ditetapkan oleh negara, sesuai dengan undang-undang yang dibuat oleh manusia secara tertulis. 

Karena ada hal yang lebih mudah dan lebih menciptakan kekeluargaan yaitu dengan cara bermusyawarah dengan baik diantara kedua belah pihak. Mulai dari awal memahamkan dengan baik apa yang kurang difahami, menciptakan kepuasan yang didapatkan walaupun tidak sesuai dengan keinginan, dan membuat akad atau perjanjian dengan ilmu. 

Saat kita ingin menciptakan atau menjadi seorang yang konsistensi dalam melakukan pekerjaan sesuai dengan syariat Islam akan menjadikan kita sebagai pekerja dambaan setiap ummat. Khususnya bila menjadi pegawai bank syariah. 

Ada tiga(K) jika kita ingin menciptakan itu semua : 

K.1 { Karakter } 

Setiap manusia memiliki karakter yang berbeda-beda dan jika ingin mengikuti karakter dalam syariat Islam maka ciptakan karakter dalam diri kita, seperti: 

  • Shidiq = jujur 
  • Qana’ah = kepuasan 
  • Haya’ = pemalu 
  • Fathanah = cerdas 
  • Istiqomah = sungguh-sungguh 
  • Tawadhu’ = rendah hati 
  • Amanah = professional 
  • Khusnudzon = baik sangka 
  • Wara’ = hati-hati 
  • Al-faruq = pemberani 

Setidaknya kita selalu berusaha selalu melakukan hal-hal tersebut dalam kehidupan kita sehari-hari yang telah dicontohkan Rasulullah kepada kita maka dengan sendirinya akan tercipta karakter kita seperti itu saat kita sedang bekerja. 

K.2 { Kompetensi } 

Harus ada dalam Ilmu saat kita ingin melakukan suatu amalan apalagi saat kita bekerja di perbankan khususnya perbankan syariah, banyak sekali Ilmu yang harus kita pelajari terlebih dahulu, seperti : 

  • Ilmu syariah 
  • Produk syariah 
  • Ekonomi 
  • Statistic 
  • Hukum 
  • Akuntansi 
  • Keuangan 
  • Teknologi Perpajakan 
  • Resiko Usaha 

Dalam memasuki dunia ekonomi Islam, khususnya sebagai praktisi perbankan syariah maka haruslah menjadi utama untuk kita mempelajari dan memahami Ilmu syariah itu sendiri, dan kemudian produk-produk yang mendukung perbankan syariah dan keilmuan ekonomi terkait dengannya dan yang paling penting Ilmu resiko saat terjun dalam usaha. Karena saat kita melakukan suatu usaha bisa mendapatkan keuntungan atau kerugian. Sebagai orang yang telah memiliki ilmu, kita bisa menyikapi saat kita untung ataupun saat kita mengalami kerugian. 

K.3 { Kalahkan } 

Setiap kita menginginkan sesuatu untuk dicapai maka ada sesuatu yang harus bisa kita kalahkan, seperti : 
  • Kadzab = Dusta 
  • Kibr = Sombong 
  • Kaslan = Malas 
  • Khauf = Takut 
  • Hasad = Iri 
  • Su’udzon = Buruk sangka 
Dusta atau Bohong perkataan ini walaupun kecil akan berakibat fatal, karena saat kita sekali berkata bohong akan ada kebohongan yang lain yang akan mengikuti setelahnya, maka jangan sampai kita terbiasa dengan perkataan dusta atau kebohongan. Kemudian selamatkan diri kita dari sifat sombong atau meremehkan manusia lainnya, merasa kita paling mulia dibandingkan dengan orang lain. Serta rasa malas saat bekerja, iri hati, dan selalu buruk sangka atas apa yang terjadi. Hal ini lah yang harus kita kalahkan dan jauhkan dari diri kita jangan sampai hal ini menjadi salah satu dari karakter pribadi kita. Na’udzubillah.

0 komentar:

Share is caring, Silahkan berbagi apa saja di sini.