Lembaga Dakwah Kampus Al-Iqtishod STEI Tazkia

Pengecas Ruhani Pemberi Inspirasi

Artikel

Sahabat bisa dapatkan artikel seputar Islam yang bisa menambah pemahaman kita mengenai Islam.

Audio

Download audio kajian dari asatidz terpercaya agar kita lebih mantap dalam memahami agama ini.

Join Us

Bergabung dengan sahabat lainnya di page facebook, twitter dan instagram untuk update artikel keren dan artwork awesome.

Ketika Islam Direndahkan

Mengantisipasi Upaya Pendangkalan Akidah Ummat
 
Oleh Shaifurrokhman Mahfudz, Lc. M.Sh*

“Jika mereka meminta pertolongan kepadamu dalam (urusan pembelaan) agama, maka kamu wajib memberikan pertolongan”. (Qs. al-Anfal 73).

Umat Islam tengah diuji lagi. Untuk ke sekian kalinya, kita dihadapkan dengan berbagai realitas yang merendahkan citra ‘ummat terbaik’ (khaira ummah) dan menciderai syariah Islam sebagai agama penebar rahmat. Masih kuat dalam penglihatan mata kita, kasus Ahmadiyah yang dengan nyata merupakan penyimpangan terhadap ajaran Islam, tidak dianggap bentuk penodaan agama, tetapi justru dipolitisasi sebagai penindasan umat mayoritas terhadap kelompok minoritas. Genderang opini media yang bertalu-talu turut ‘berjasa’ mendorong pemerintah untuk membubarkan ormas yang dianggap anarkis. Sebagian masyarakat pun kemudian dengan mudah menyimpulkan bahwa pelaku kerusuhan itu adalah orang-orang Islam bergaris keras.

Penodaan Agama yang “Dibiarkan”

Meski kita tidak setuju dengan anarkisme dalam bentuk apapun, namun harus diakui bahwa pemerintah yang didominasi oleh orang-orang Islam ini ternyata belum bisa ‘membuka mata’ dan tidak bisa bersikap tegas terhadap kelompok Ahmadiyah, yang jelas-jelas melanggar UU No. 1/PNPS/1965 dan SKB. Jika merujuk pada aturan ini, para pemimpinnya pun seharusnya sudah ditangkap dan diadili. Sikap pemerintah yang selalu “bimbang” dalam menyelesaikan persoalan-persoalan ummat membawa dampak buruk bagi kewibawaan negara dan bangsa ini. Simak saja, setiap kali isu-isu kebebasan beragama dibangkitkan di negeri muslim ini, maka selalu saja Amerika dan Barat melakukan campur tangan bahkan tekanan-tekanan yang serius terhadap pemerintah. Untuk kasus Ahmadiyah, kita diberitahu tentang tindakan 27 anggota kongres AS yang dengan jelas mengintervensi pemerintah RI dengan menulis surat kepada Presiden SBY agar membatalkan SKB pelarangan Ahmadiyah dan UU tahun 1965 tentang penodaan agama. Sampai saat ini, langkah pemerintah belum menyentuh inti persoalan, dan terkesan ‘dibiarkan’ mengambang tanpa memberikan formula penyelesaian yang tuntas.

Pihak luar Islam meyakini bahwa persoalan kebebasan beragama (freedom of religion) adalah tema rutin yang selalu ‘layak dijual’. Tentu saja, anggota kongres yang sebagian besarnya pemeluk Nasrani itu tidak main-main. Tetapi, sayangnya mereka tidak dibekali dengan informasi yang utuh tentang Islam dan sejarah peradabannya yang mempesona. Gustave Le Bon (1884) dalam La civilisation des Arabes menuturkan: “Setelah umat Nasrani berhasil menaklukkan Granada; kota yang terbilang berada di garis paling akhir dari serantaian kota yang telah ditaklukkan umat Islam di Eropa, tidak terpikir sedikitpun oleh umat Nasrani untuk meniru bangsa Arab tentang cara memperlakukan generasi-generasi yang tersisa di daerah taklukkannya, dimana umat Islam jika menaklukkan suatu wilayah selalu memperlakukan penduduk pribumi dengan cara yang baik dan lembut, menepis fanatisme kelompok dan agama. Sebaliknya, instruksi yang pertama kali dikeluarkan oleh umat Narsani setelah menaklukkan kota itu adalah penyiksaan penduduk pribumi yang beragama Islam dan memperlakukannya dengan kejam dengan melanggar perjanjian yang telah disepakati sebelumnya”.

Boleh jadi mereka memang benar-benar belum mengenal Islam lebih dalam, ataupun sengaja menutup rapat-rapat telinga dan nurani mereka dari kebenaran sejati yang diketahui untuk kemudian berkoalisi dengan musuh internal ummat Islam sendiri. Namun, kita tidak mungkin menyalahkan pihak luar yang setiap saat berusaha menghancurkan ummat ini, tetapi secara objektif harus diakui dengan jujur adanya kegagalan dakwah Islam dan lemahnya dialog keagamaan dalam masyarakat kita. Sebagian efeknya dapat dirasakan dengan munculnya kelompok-kelompok ummat yang memonopoli kebenaran dalam penafsiran teks-teks agama, sehingga dengan itu mereka dapat melakukan segala tindak kekerasan yang mengatasnamakan agama.

Dibalik Kampanye ‘Perang Melawan Terorisme’

Tidak berselang lama, kita juga diperlihatkan dengan maraknya teror ‘bom buku’ dan paket-paket mencurigakan yang meresahkan masyarakat. Opini yang berkembang lagi-lagi mengarah kepada kelompok muslim. Dibongkarnya ‘borok’ partai-partai Islam yang dianggap paling bermoral di tanah air ini secara sistematis tidak hanya berimbas pada partai-partai tersebut tetapi juga mengesankan citra buruk syariah Islam. Dengan dalih itu semua, instrumen keamanan negara ini bisa saja dengan represif melakukan tindakan-tindakan liar dengan menangkapi tokoh-tokoh dan ormas-ormas Islam yang dianggap ‘berbahaya’. Berselindung dibalik slogan ‘perang melawan terorisme’, pemerintah yang ditumpangi pihak-pihak islamophobia serasa memiliki otoritarianisme baru untuk melakukan berbagai pembenaran dalam upaya menghabisi seluruh potensi dan kekuatan dakwah Islam.

Langkah ini serupa dengan apa yang dilancarkan AS dan tentara sekutu NATO terhadap Libya yang berdalih melengserkan rezim diktator Muammar Qaddafi. Alih-alih melindungi rakyat sipil, justeru akibat serangan membabi buta mereka, ribuan masyarakat harus meregang nyawa dan banyak lagi kerugian besar yang harus ditanggung ummat Islam Libya. Namun, seperti yang berlaku sebelumnya, bagi mereka, jalan inilah yang dianggap paling ‘elegan’ untuk mengeruk kekayaan negeri Islam. Cara ini juga dipandang paling tepat untuk menghabisi umat Islam sekaligus menghancurkan image Islam di mata warga dunia, sehingga semakin lama ummat ini tidak yakin dengan ajarannya. Diantara mereka sudah tidak terlihat lagi identitas keislamannya dan kemudian secara sadar mereka tinggalkan Islam secara total (murtad).

Allah Swt mengingatkan kita semua: “…mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu dari agamamu (kepada kekafiran), seandainya mereka sanggup. barangsiapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, Maka mereka Itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat, dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya. (Qs. Al-Baqarah 217).

Kebencian Abadi terhadap Al-Qur’an
Berbagai upaya yang dapat mengobarkan kebencian terhadap ummat ini akan terus berlangsung, dengan cara dan media apapun yang bisa digunakan. Salah satunya dengan ‘menghabisi’ kitab suci ummat Islam yang sangat besar pengaruhnya bagi umat manusia. Berita terbaru yang dilansir Agence France-Presse (AFP) pada Ahad 20 Maret 2011 yang lalu menyebutkan bahwa di sebuah gereja kecil di Gainesville, Florida, Pendeta Wayne Sapp dibawah pengawasan Terry Jones, telah melakukan aksi pembakaran Al-Qur’an. Jones yang dianggap pastor oleh 50 orang pengikutnya di Dove World Outreach Center (DWOC) Florida itu mengaku, ia tidak bisa menggelar sebuah pengadilan sungguhan tanpa melakukan hukuman yang sesungguhnya yakni dengan membakar Al-Qur’an.

Perbuatan provokatif dan keji itu dilakukan dengan alasan Al-Qur’an dianggap bersalah terhadap beberapa kejahatan. Tidak ada penjelasan soal kejahatan apa yang dimaksud oleh pendeta tersebut. Sebelumnya, al-Qur’an yang akan dibakar tersebut direndam dalam bensin selama satu jam. Wayne Sapp kemudian mengambil pemantik api yang biasa digunakan untuk menyalakan tungku barbeque. Lalu, al-Quran yang telah basah oleh bensin itu diletakkan di sebuah nampan berbahan metal agar efek pembakarannya tidak meluas. Dengan pemantik itu, pendeta itu pun membakar Al-Qur’an yang telah diletakkan di tengah gereja. Kitab suci itu terbakar selama sepuluh menit sebelum akhirnya menjadi abu. Ketika api masih menyala, beberapa orang berpose untuk difoto disamping Al-Qur’an yang sedang dilalap api. Sungguh sebuah perilaku yang sangat tidak beradab. Meski aksi itu dihadiri tidak kurang dari 30 orang, namun pesan yang ditinggalkan cukup jelas, seperti yang diekspresikan salah seorang pendukung Jones yang gusar dengan perkembangan Islam di Eropa; "These people, for me, are like monsters. I hate these people."

Jones memang dikenal sebagai pendeta yang rajin mengkampanyekan anti Islam. Sebelumnya pada Juli 2010, Jones mengumumkan akan menggelar "International Burn a Koran Day" atau "Hari Internasional Pembakaran Al Qur’an." Jones memilih tanggal 11 September 2010 yang bertepatan dengan peringatan kesembilan tragedi 11 September. Namun karena niatnya mendapatkan kecaman dari berbagai pihak, Jonespun membatalkan rencana tersebut. Jones juga pernah meluncurkan seri video dengan semangat anti-Islam. Dampaknya, ceramah-ceramah SARA-nya menjangkau audiens yang sangat luas, melewati 50 keluarga jemaat gerejanya. Jones juga mengarang buku "Islam sama dengan Iblis". Kampanye negatif ini dia luncurkan sejak 2002, setahun setelah serangan 11 September dan kemungkinan besar masih akan terus terjadi sepanjang sejarah manusia di bumi ini.

Perkuat dan Bela Akidah Ummat

Paparan fenomena yang dikemukakan di atas bukan bertujuan menyulut kebencian kita sebagai muslim terhadap warga non muslim. Sebagai ummat yang menjunjung moralitas dan menjadikan Al-Quran sebagai pedoman hidup, pantang bagi kita untuk melakukan tindakan buruk seperti itu. Di dalam banyak ayat-Nya, Allah Swt mengingatkan kita akan bahaya ‘peperangan’ yang mengancam fisik dan bertujuan untuk memurtadkan ummat ini. Peringatan Allah itu juga memberikan pengertian kepada kita semua bahwa menjaga iman atau akidah Islam sampai mati adalah wajib bagi umat Islam dan tidak boleh diabaikan sama sekali.

Pembelaan terhadap akidah dan harga diri agama ini harus tetap diperjuangkan. “Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu”. (Qs. Muhammad 7)

Penguatan persoalan akidah inilah yang menjadi salah satu pekerjaan besar ummat ini. Diantara langkah yang bisa dilakukan dalam upaya memperkuat akidah ummat adalah dengan memberikan pemahaman yang utuh tentang akidah Islam yang ditunjukkan dalam beberapa hal berikut;

Pertama, doktrin Islam menyebutkan pentingnya ummat ini menyadari hakikat diri dan kewujudan Tuhannya. Bagi siapa yang mengenal jati dirinya, maka dengan sendirinya ia akan mampu mengenal siapa Tuhannya; “Man ‘arrafa nafsahu, ‘arrafa rabbahu”.

Kedua, Perkukuh akidah dengan kesungguhan menjalankan syriat Islam secara total, baik dalam aspek ibadah ataupun muamalah yang berkaitan dengan hubungan sesama manusia dan penjagaan nilai-nilai kemanusiaan. Ketika seseorang berbuat baik kepada sesamanya dengan memberikan bantuan sosial misalnya, maka sesungguhnya ia tengah mendekatan dirinya (taqarrub) kepada Allah Swt. Dalam suatu Hadits Qudsi, Rasulullah Saw bersabda: Allah SWT berfirman: “Tidaklah mendekatkan diri kepadaku hamba-Ku dengan sesuatu yang lebih Ku cintai daripada apa yang Ku wajibkan kepadanya…” (Shahih Bukhari Juz 8/131).

Ketiga, Tegakkan amar makruf nahi munkar dan berikan ruang nasehat yang cukup dalam setiap komunitas masyarakat. Diriwayatkan hadits dari Abu Hurairah Ra. bahwa Rasulullah Saw bersabda: Ad-Din nashihah “Agama itu nasihat”. Beliau ucapkan hal ini sebanyak tiga kali. Lalu para sahabat bertanya: Bagi siapa ya Rasulullah? Rasulullah Saw menjawab: “Bagi Allah, kitab-Nya, Rasul-Nya, para pemimpin ummat dan kaum muslimin umumnya (Sunan at-Tirmidzi Juz 4/324).

Hadits ini tidak bisa diartikan secara literal sebagai sebuah bentuk perintah memberikan nasehat. Karena, bagaimana mungkin kita harus memberikan nasihat kepada Allah, kitab-Nya, Rasul-Nya, dan para pemimpin kaum muslim? Barangkali, ada baiknya jika maksud hadits itu ditafsirkan dengan makna yang lebih realistis sebagaimana yang dikemukakan Prof. Jalaluddin Rahmat bahwa ‘Dasar agama adalah kecintaan yang tulus”. Karena dalam etimologi bahasa Arab, kata nashîhah selain berarti nasihat, juga berarti mengikhlaskan, memurnikan, atau membersihkan kecintaan seseorang. Orang yang memiliki kecintaan yang tulus disebut sebagai nâshih. Taubat yang keluar dari hati yang tulus disebut sebagai taubatan nashûha. Orang Arab menyebut madu yang murni sebagai 'asalun nâsh. Jadi, kata nashîhah berarti kecintaan yang tulus. Dasar yang pertama tentu saja adalah kecintaan yang tulus kepada Allah Swt. Selanjutnya kepada Rasul dan kitab-Nya serta pemimpin umat Islam dan masyarakat muslim secara umum.

Dalam kehidupan bermasyarakat, bukan mudah mendasarkan sikap kita dengan landasan cinta yang tulus. Terutama ketika kita harus ‘mengingatkan’ para pemimpin sebagai wujud cinta dan kepedulian terhadap kondisi ummat. Karena itu, tidak bisa dinafikan pentingnya peranan pemerintah untuk turut bertanggung jawab dan berperan aktif dalam membela harga diri ummat. Keberhasilan dan efektifitas upaya kita sangat ditentukan oleh ‘ketulusan cinta’ pemerintah terhadap umat Islam di negeri ini dengan mendukung sepenuhnya pemberlakuan ajaran Islam (tathbiq asy-syari’ah) bagi seluruh kaum muslimin. Karena memang itulah tugas pemerintah yakni menjaga agama dan memelihara urusan umat (hirasah ad-din wa siyasah ad-dunya), sebagaimana ditegaskan oleh Imam al- Mawardi dalam al-Ahkam as-Sulthaniyah. Namun demikian, ketika pemerintah dengan kekuasaan yang dimilikinya, tidak mampu menunaikan tugas ini, yakinlah ummat ini akan tetap dalam penjagaan-Nya. “Mereka berkehendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahayanya, walaupun orang-orang yang kafir tidak menyukai. (QS. At-Taubah 32). Wallahu A’lam bi ash-Shawab.

Permata Cimanggu,
30 Rabiul Akhir 1432 H / 4 April 2011 M

*) Sekjen Andalusia Islamic Centre, Sentul City Bogor.

0 komentar:

Share is caring, Silahkan berbagi apa saja di sini.