Lembaga Dakwah Kampus Al-Iqtishod STEI Tazkia

Pengecas Ruhani Pemberi Inspirasi

Artikel

Sahabat bisa dapatkan artikel seputar Islam yang bisa menambah pemahaman kita mengenai Islam.

Audio

Download audio kajian dari asatidz terpercaya agar kita lebih mantap dalam memahami agama ini.

Join Us

Bergabung dengan sahabat lainnya di page facebook, twitter dan instagram untuk update artikel keren dan artwork awesome.

Keutamaan Ilmu dalam Islam

oleh Mhd. Jabal Alamsyah

بسم الله الرحمن الرحيم 

…Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. Al Mujadalah : 11) 

Mukaddimah

Segala puji hanya bagi Allah Allah 'Azza wa Jalla, shalawat dan salam semoga selalu tercurah kepada Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam, keluarga, para sahabat dan pengikut setia mereka sampai hari kiamat.

Al-Quran dan Hadits, sebagai referensi tertinggi dalam Islam, telah menegaskan keutamaan ilmu. Dan sudah ditunjukkan pula dengan sikap para sahabat Rasulullah SAW, para tabi’in hingga zaman sekarang, terhadap pemahaman yang benar akan posisi ilmu dan ilmuwan.

Dalam Al Qur’an, Allah 'Azzawa Jalla berfirman: “...Katakanlah: "Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?" Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.” (QS. Az Zumar: 9).

Ilmu, telah menjadi simbol kemajuan dan kejayaan suatu bangsa. Islam merupakan agama yang punya perhatian besar kepada ilmu pengetahuan. Islam sangat menekankan umatnya untuk terus menuntut ilmu.

Ayat pertama yang diturunkan Allah adalah Surat Al-‘Alaq, di dalam ayat itu Allah memerintahan kita untuk membaca dan belajar. Dalam surat Al-‘Alaq, Allah Swt memerintahkan kita untuk menuntut ilmu. Setelah itu kewajiban kedua adalah mentransfer ilmu tersebut.

Ilmu dalam Islam 

Ilmu dalam Perspektif Al-Qur'an

Dalam Al Quran banyak ayat yang menegaskan hal ini, diantaranya:

Pertama. Ulama adalah tempat bertanya. Allah 'Azza wa Jalla befirman:

“Maka, bertanyalah kepada ahli dzikr jika kalian tidak tahu.” (QS. An Nahl: 43)

Ahli dzikri dalam ayat ini adalah bermakna Ahlul ‘Ilmi (Ulama), Ulama dijadikan tempat rujukan bagi manusia untuk mengetahui perkara yang mereka belum ketahui dan ingin mereka ketahui. Masing-masing urusan ada ilmunya, masing-masing ilmu ada ahlinya, dan kepada ahlinyalah kita diperintahkan untuk bertanya.

Kedua. Derajat yang diberi ilmu ditinggikan oleh Allah 'Azza wa Jalla

Allah 'Azza wa Jalla berfirman:
“Allah mengangkat derajat orang-orang beriman di antara kalian dan orang-orang yang diberikan ilmu. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kalian lakukan.” (QS. Al Mujadallah: 11)

Orang yang beriman adalah baik, orang berilmu adalah bagus, tapi berilmu tanpa iman atau sebaliknya tidak baik dan tidak sempurna. Islam menghendaki paduan keduanya dalam pribadi seorang muslim yakni iman dan ilmu. Berilmu tanpa iman, maka hidup tanpa arah, ilmu yang dimilikinya tidak memiliki panduan kearah kebaikan . Sebaliknya, akan tidak sempurna juga. Maka muslim yang seharusnya adalah seorang mukmin dan berilmu sekaligus. Mulia di mata Allah 'Azza wa Jalla, dan berwibawa di mata manusia.

Ketiga. Allah 'Azza wa Jalla memuji, bahwa orang yang tahu tidaklah sama derajatnya dengan orang yang tidak tahu.

Allah Ta’ala berfirman:
Katakanlah: "Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?" (QS. Az Zumar (39): 9)

Ilmu Dalam Perspektif As Sunnah

Dalam berbagai hadits Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam pun banyak disebutkan tentang keutamaan ilmu dan orang berilmu. Di sini akan disebutkan beberapa saja:

Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda:

“Barangsiapa yang menempuh perjalanan untuk mencari ilmu maka akan Allah mudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim No. 2699, At Tirmidzi No. 2689)

Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda:

“Sesungguhnya para malaikat meletakkan sayap-sayapnya karena ridha terhadap penuntut ilmu, sesungguhnya orang yang berilmu akan dimintakan ampun oleh siapa saja yang di langit, di bumi, ikan-ikan yang di laut, sesungguhnya keutamaan orang berilmu di atas ahli ibadah seumpama keutamaan rembulan di malam purnama dibanding semua bintang. Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi, dan para nabi tidaklah mewariskan dinar dan dirham, mereka mewariskan ilmu, barang siapa yang mengambilnya maka ambillah dengan keuntungan yang banyak.” (HR. Abu Daud No. 3641, Ibnu Majah No. 223)

Ilmu Dalam Perspektif Para Sahabat Nabi

Tak ada generasi sebaik-baik generasi sahabat Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam. Hal ini Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam sebutkan sendiri. Dari ‘Imran bin Hushain Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Sebaik-baiknya umat adalah zamanku, kemudian setelah mereka, kemudian setelah mereka – ‘Imran berkata: saya tidak tahu penyebutan setelah zamannya itu dua kali atau tiga kali.” (HR. Bukhari No. 3450)

Di antara faktor mereka menjadi umat terbaik adalah kesungguhan mereka yang sangat besar terhadap ilmu.

Hal ini juga dilakukan oleh kaum wanita. Rasa malu tidaklah menghalangi mereka untuk menuntut ilmu yang mereka butuhkan untuk kebaikan mereka.

‘Aisyah Radhiallahu ‘Anha pernah mengatakan: “Sebaik-baiknya wanita adalah wanita Anshar, rasa malu tidak menghalangi mereka untuk memahami agama.” (HR. Bukhari, Bab Al Haya’ Fil ‘Ilmi)

Adab terhadap Ilmu.

Diantara adab penuntut ilmu terhadap ilmu dan pendidik, serta pendidik terhadap ilmu dan penuntut ilmu adalah sebagai berikut:

a. Adab yang harus dicamkan dalam diri peserta didik:
  • Membersihkan niat, dengan cara meyakini bahwa menutut ilmu itu hanya didedikasikan untuk Allah 'Azza wa Jalla semata, 
  • Membersihkan hati dari berbagai gangguan material keduniawian dan hal-hal yang merusak aqidah, 
  • Mempergunakan kesempatan belajar dengan sebaik-baiknya, 
b. Adab seorang peserta didik terhadap pendidik:
  • Melakukan perenungan dan meminta petunjuk kepada Allah 'Azza wa Jalla dalam memilih guru, 
  • Belajar sungguh-sungguh dengan menemui pendidik secara langsung, 
  • Memperhatikan hal-hal yang menjadi hak pendidik, 
  • Jangan sekali-kali menyela ketika guru belum selesai menjelaskan.
c. Adab peserta didik terhadap ilmu:
  • Mendahulukan ilmu yang bersifat fardhu ‘ain daripada ilmu-ilmu yang lain, 
  • Harus mempelajari ilmu-ilmu pendukung ilmu fardhu ‘ain, 
  • Berhati-hati dalam menanggapi ikhtilaf para ulama, 
d. Adab pendidik terhadap dirinya:
  • Berusaha sekuat tenaga untuk mendekatkan diri kepada Allah, 
  • Senantiasa takut kepada Allah, 
  • Bersikap tenang, 
  • Tidak memiliki sikap tinggi hati, tetapi tawadhu’. 
e. Adab pendidik terhadap ilmu:
  • Ketika mengajarkan ilmu kepada peserta didik hendaknya berniat untuk ibadah, 
  • Menyampaikan hal-hal yang diajarkan oleh Allah 'Azza wa Jalla, 
  • Membiasakan membaca untuk menambah ilmu pengetahuan, 
  • Dalam mengajar hendaknya mendahului materi yang paling penting dan disesuaikan dengan profesi yang dimiliki. 
f. Adab pendidik terhadap peserta didiknya:
  • Berniat mendidik dan menyebarkan ilmu pengetahuan serta menghidupkan ketentuan syara', 
  • Mencintai peserta didik sebagaimana mencintai dirinya sendiri, 
  • Memberi kemudahan dalam mengajar dan menggunakan kata-kata yang mudah dipahami, 
  • Membangkitkan semangat peserta didik dengan jalan memotivasinya,
g. Adab pendidik dan peserta didik terhadap buku:
  • Mengusahakan untuk mendapatkan buku-buku yang dibutuhkan, 
  • Jika buku itu rusak atau tidak dipakai hendaknya tidak sembarangan membuang buku tersebut, tetapi hendaknya meletakkannya pada tempat yang layak dan terhormat. 
Penutup

"Tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya". (At-Taubah: 122)

Pada ayat tersebut, Allah 'Azza wa Jalla membagi orang-orang yang beriman menjadi dua kelompok, mewajibkan kepada salah satunya berjihad fi sabilillah dan kepada yang lainnya mempelajari ilmu agama. Tidak berangkat untuk berjihad semuanya karena akan menyebabkan hilangnya ilmu, dan tidak pula menuntut ilmu semuanya. Karena itulah Allah 'Azza Wa Jalla mengangkat derajat kedua kelompok tersebut.

Wallahu A'lam bi Ash-Shawab.

0 komentar:

Share is caring, Silahkan berbagi apa saja di sini.