Lembaga Dakwah Kampus Al-Iqtishod STEI Tazkia

Pengecas Ruhani Pemberi Inspirasi

Artikel

Sahabat bisa dapatkan artikel seputar Islam yang bisa menambah pemahaman kita mengenai Islam.

Audio

Download audio kajian dari asatidz terpercaya agar kita lebih mantap dalam memahami agama ini.

Join Us

Bergabung dengan sahabat lainnya di page facebook, twitter dan instagram untuk update artikel keren dan artwork awesome.

Urgensi Maqasid Syariah dalam Pendidikan

Oleh Fauzan

Belajar adalah sebuah proses tahapan yang dijalani oleh manusia, belajar memiliki banyak bentuk, kita belajar dari buku, melalui membaca, kita belajar dari keadaan/lingkungan sekitar, melalui pengamatan, kita belajar dari kesalahan orang lain, kita belajar dari melihat perilaku orang lain, kita belajar dari mendengar perkataan orang lain, belajar dari qudwah Hasanah (perangai yang baik) orang lain, kita belajar dari segala sesuatu yang memberikan kita pengetahuan.

Kita sebagai manusia yang merupakan makhluk ciptaan allah yang paling sempurna di antara makhluk ciptaan yang lainnya, salah satu kelebihannya adalah karena manusia diberikan otak oleh allah swt untuk bisa belajar, berfikir dan melakukan sesuatu berdasarkan pengetahuannya. Kemajuan teknologi yang semakin canggih saat ini adalah salah satu buah yang dihasilkan oleh otak manusia melalui petunjuk-Nya.

Banyak yang bisa kita ambil pelajaran dari keadaan di sekeliling kita, baik lingkungan social, pendidikan, politik, ekonomi dan lainnya. Adapun dari islam, kita mengenal sosok nabi Muhammad yang bisa kita ambil pelajaran dari segala sisi kehidupan beliau, mulai dari sifat keseharian beliau, kehidupan berekonomi, politik, sosial, dakwah, dll. Lantas kalau kita kondisikan dengan negara kita Indonesia sekarang, yang mana negara kita mayoritas beragama islam, akan tetapi masih banyak ketimpangan dan ketidak sesuaian dari ajaran islam yang kita lihat di negara ini. mulai dari pemerintah, masyarakat dll, maka timbul beberapa pertanyaan ;

Apa yang mesti diteladani muslim dari nabi Muhammad Shallallahu‘alaihi wa Sallam dalam konteks masa sekarang ini?

Qudwah Hasanah rasulullah sangat banyak. Untuk konteks Indonesia, menurut kami, masyarakat harus meneladaninya dari beberapa sisi. Pertama, masyarakat meniru sifat amanah dan kejujuran rasul.

Mengapa hal ini sangat penting?

Saat ini, bangsa Indonesia miskin dengan kedua sifat tersebut. Di negeri ini, orang berpendidikan dan cerdas cukup banyak, namun kita lihat, sedikit sekali orang yang berpendidikan sekaligus mempunyai kejujuran. Ada orang yang jujur tapi kurang cerdas dan kurang berpendidikan.

Setelah kejujuran, keteladanan, apalagi yang mesti dipraktikkan umat islam termasuk generasi muda muslim?

Hal pentingnya adalah kearifan dalam menghadapi persoalan. Maksudnya, bagaimana kita menjadi bangsa yang mampu bersikap bijaksana dalam menghadapi perbedaan. Setiap orang boleh saja berbeda, namun jangan sampai menistakan orang lain yang berbeda dengannya.

Bagaimana Rasulullah Shallallahu‘alaihi wa Sallam memberikan contoh dalam menghadapi perbedaan ini?

Rasulullah Shallallahu‘alaihi wa Sallam pernah meninggalkan contoh indah ketika beliau menghargai pendapat yang tidak sreg dengan nuraninya. Pada saat perang uhud, hati kecil rasul sebenarnya ingin kaum muslim bertahan di dalam kota. Melihat orang-orang muda saat itu bersemangat menghadang musuh di luar kota madinah, rasul menghargai dan menuruti mereka.

Jadi, bangsa kita butuh orang-orang yang bisa menghargai orang lain. Yaitu, mereka yang bisa memahami bahwa berbeda belum tentu semuanya jelek. Kalau ada perbedaan, seharusnya kan tidak perlu menistakan orang yang berbeda dengan kita. Selanjutnya, kita bisa meniru rasul yang selalu berfikir futuristic.

Kita kebanyakan lebih memilih menyelesaikan masalah dengan penyelesaian sesaat, tidak sistemik dan tambal sulam. Contohnya, ketika harga cabai mahal melambung tinggi, begitu mudah pemerintah meminta semua petani menanam cabai. Padahal dengan kebijakan itu, kalau semua petani menanam cabai, harga cabai bisa jatuh. Sementara harga komoditas lain seperti bawang manjadi mahal. Itu yang terjadi jika berfikir tambal sulam.

Apa yang harus dilakukan untuk memperbaiki kondisi semacam ini. Apakah ada yang salah dalam pendidikan agama selama ini?

Harus ada perbaikan yang terintegrasi. Tak ada istilah perbaikan akhlak harus dimulai dari pejabat atau anak-anak. Semua pihak harus sama-sama bekerja. Di dunia pendidikan, dari mulai taman bermain sampai Sarjana, harus benar-benar ditanamkan ketiga keteladanan yang dimilik rasul itu.

Begitu juga dengan pemerintah dan pengusaha. Mereka harus mengedepankan kejujuran. Pembelajaran agama yang ada di Indonesia sebenarnya sudah bagus. Namun, metode pembelajarannya harus diperbaiki, karena pembelajaran agama dari TK sampai perguruan tinggi, metode pengajarannya lebih pada hafalan.

Sementara pengajaran agama yang berupa aplikasi minim sekali. Padahal, pengajaran agama seharusnya ada sisi ritual, ideology, keyakinan dan pemahamannya. Memang, dalam agama harus ada hafalan, tapi tidak semua hafalan harus ada penghayatan dan pengamalannya. Pelajaran agama sudah bagus, tapi metodenya harus di perbaiki supaya lebih mengena dari sisi maqashid syariahnya.

Maqashid syariah ialah makna-makna dan hikmah-hikmah yang diinginkan oleh syari’ dalam setiap penetapan syariatnya demi berdirinya maslahat manusia, baik di dunia maupun akhirat.

Kalau kita lihat produk-produk fiqih para ulama terdahulu, terlalu terpaku pada teks tanpa mengindahkan konteks. Dengan demikian, produk hukum yang dihasilkan pun menjadi mati, ambigu, bahkan terkadang kurang manusiawi. Keambiguan ini disebabkan methodology yang ditempuh terlalu ushuli kurang memperhatikan maqashid syariahnya.

Kami mencoba memberikan corak dari pemikiran Imam Syatibi yang mencoba menggabungkan teori-teori (nadhariyat) usul fiqh dengan konsep maqashid syariah sehingga produk hukum yang di hasilkan lebih hidup dan lebih kontekstual.

Dalam pengamatan, ada kesalahan fatal sikap masyarakat Indonesia khususnya terhadap fiqh. Ia lebih dipahami sebagai ilmu yang membahas tentang ritual dan tata cara ibadah, yang terlepas dari nilai-nilai rububiyyah murni dan nilai-nilai kemanusiaan. Hal ini terlihat misalnya, mereka lebih asyik dengan menempelkan dahi di atas sajadah daripada memperhatikan tetangganya yang bergelut melawan penyakit yang menggerogoti tubuhnya yang kurus kering kurang gizi. Mereka lebih merasa berdosa tidak berdzikir setelah shalat atau makan daging anjing dari pada berbohong, menipu dan korupsi. Paling tidak, kesalahan ini adalah karena fiqh dipahami hanya ibadah yang kaitannya antara manusia dan Tuhan saja.

Ada semacam pembatasan pemahaman fiqh di kalangan masyarakat dewasa ini sehingga lebih mementingkan menghafal syarat sah, syarat wajib, rukun dan lainnya dari pada efek ibadah itu sendiri. Padahal pada awalnya fiqh mencakup pula persoalan tauhid dan akhlak seperti yang terdapat dalam Kitab al-Fiqh al-Akbar karya Imam Abu Hanifah atau Ihya Ulumiddin karya Imam Ghazali.

Di samping itu, silabus pengajaran fiqh di Indonesia, juga kurang mengarah pada Fiqh Maqashidy. Hampir tidak ada dalam hemat penulis, silabus yang khusus membahas tentang Maqashid al-Syari’ah. Karenanya, tidaklah heran ekses fiqh tidak berpengaruh pada tataran amaliyyah yaumiyyah, ia lebih pada tataran fardhiyyah syakhsiyyah. Akhirnya, shalat dan ibadah rajin, korupsi jalan terus. Inilah gambaran bagaiman fiqh itu mati, ambigu, sangat ushuly tidak hidup dan tidak maqashidy.

Dari pernyataan di atas jelas, kebutuhan untuk memahami dan mengkampanyekan Maqashid al-Syari’ah, di samping Ushul Fiqh, menjadi sangat penting adanya. Wallahua’lam Bis shawab.

0 komentar:

Share is caring, Silahkan berbagi apa saja di sini.