Lembaga Dakwah Kampus Al-Iqtishod STEI Tazkia

Pengecas Ruhani Pemberi Inspirasi

Artikel

Sahabat bisa dapatkan artikel seputar Islam yang bisa menambah pemahaman kita mengenai Islam.

Audio

Download audio kajian dari asatidz terpercaya agar kita lebih mantap dalam memahami agama ini.

Join Us

Bergabung dengan sahabat lainnya di page facebook, twitter dan instagram untuk update artikel keren dan artwork awesome.

Kepemimpinan Dalam Islam

Oleh Sri Wahyuni

Dalam sebuah keluarga, organisasi, pemerintahan, seorang pemimpin itu sangat dibutuhkan untuk memimpin menuju visi, misi, tujuan, sasaran dan strategi yang sudah direncanakan.

Sekarang pertanyaannya pemimpin seperti apa sih yang kita butuhkan dan pemimpin bagaimanakah yang ideal yang cocok dijadikan pemimpin??

Pada dasarnya kita semua adalah pemimpin, karena amanah pemimpin itu Allah berikan untuk semua manusia yang hidup di dunia dan Allah memberikan potensi yang sama pada setiap manusia sebagai bekal untuk mengatur bumi ini. Selain itu, jika kita memahami marifatunnas yaitu mengenali siapakah manusia itu dan berasal dari manakah manusia itu, maka kita juga akan memahami tujuan hidup kita hanyalah untuk beribadah kepada-Nya dan mengharapkan ridha Allah SWT, seperti dalam firman Allah SWT :

Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.
(Adz Dzariyat : 56)

Kita juga akan memahami fungsi kita di dunia ini yaitu sebagai Khalifah (pemimpin) dimuka bumi, sebagaimana dalam firman-Nya.

Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada Para Malaikat: "Sesungguhnya aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi." mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, Padahal Kami Senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”. (Al-Baqarah:30)

Selain itu, dari marifatunnas (pengenalan siapakah manusia), kita juga akan memahami tugas kita dimuka bumi ini yaitu memelihara amanah yang Allah SWT pikulkan kepadanya, setelah langit, bumi dan gunung enggan memikulnya.

Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, Maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu Amat zalim dan Amat bodoh”. (Al-Ahzab : 72)

Setelah memahami ayat-ayat fungsi, tugas serta tujuan hidup kita, tentunya kita akan lebih bagaimana seharusnya pemimpin itu membawa anggotanya, yang harus kita pahami lagi bahwa sesungguhnya setiap kita adalah pemimpin yang harus bisa memegang tugasnya dengan penuh tanggungjawab, seperti dalam sabda Rasulullah saw yang berbunyi : “Ketahuilah, bahwa kalian semua adalah pemimpin, dan kalian semua akan dimintai pertanggungjawaban atas apa pun yang terjadi pada apa yang kalian pimpin, Maka seorang ~amir (penguasa) yang memimpin suatu kumpulan manusia (rakyat), maka akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya. Dan seorang suami adalah pemimpin bagi keluarganya dan ia bertanggungjawab atas mereka. Dan seorang istri adalah pemimpin atas keadaan rumah (selama suami tidak ada) serta terhadap anak-anaknya, dan dia akan diminta pertanggungjawaban atas apa yang dipimpinnya. Dan seorang budak adalah pemimpin atas harta majikannya dan ia akan bertanggungjawab atasnya. Katahuilah, kalian semua adalah pemimpin dan kalian semua akan diminta pertanggungjawaban atas apa yang kalian pimpin”

Dalam hadits di atas, Rasulullah mengingatkan bahwa kita semua adalah pemimpin baik dalam level paling individual yang sempit sampai level sosial yang luas cakupannya. Paling tidak kita harus ingat bahwa paling tidak kita adalah pemimpin untuk diri kita sendiri. Oleh karena itu, pemimpin itu harus mengerahkan potensi yang Allah berikan pada dirinya, seorang pemimpin juga harus memiliki karakter yang meononjol yang ada pada dirinya, sehingga dari karakter tersebut menjadikannya pemimpin yang ideal, pada dasarnya setiap orang memiliki karakter yang menonjol yang menjadikan seseorang menjadi sosok ideal, tapi tidak semua orang memiliki karakter yang lengkap seperti yang ada pada Rasulullah saw.

Ketika penulis dan teman-teman mendapatkan tugas wawancara studi kepemimpinan Islam, kami pun mewawancarai salah satu anggota DPR, kami terkesan dengan kata-kata beliau tentang bagaimanakah sosok pemimpin seharusnya, menurut beliau pemimpin itu harus memaksimalkan 3 potensi yang dia miliki yaitu :

1. Potensi Fisik

Dalam sejarah, kita mengetahui bahwa orang-orang yang menjadi pemimpin adalah orang-orang yang secara fisik kuat, seperti Nabi Muhammad saw yang keidealan ada pada dirinya, Khulaaur Rasyidin (Abu Bakar As-shiddiq, Umar Bin Khattab, Utsman Bin Affan, dan Ali Bin Abi Thalib), Salahuddin Al-Ayubi, Jengis Khan, dll. Yang menonjol dan kuat secara fisik.

2. Akalnya Berjalan

Rata-rata orang-orang yang sudah disebutkan di atas merupakan orang-orang yang secara pikirannya juga menonjol karena mereka bisa membaca kondisi sekitarnya ketika terjadi masalah dalam kepemimpinannya sehingga dapat cepat belajar dan mencari solusi atas masalah yang dihadapi dalam kepemimpinannya. Selain itu yang paling penting dalam penyebaran agama Islam ke berbagai daerah adalah orang-orang tersebut dapat membaca peta.

3. Memaksimalkan Potensi Spiritual

Pemimpin juga harus orang yang bertaqwa kepada Allah. Karena ketaqwaan ini sebagai acuan dalam melihat sosok pemimpin yang benar-benar akan menjalankan amanah. Bagaimana mungkin pemimpin yang tidak bertaqwa dapat melaksanakan kepemimpinannya? Karena dalam terminologinya, taqwa diartikan sebagai sebuah sikap menjaga semua potensi yang telah dianugerakan Allah agar sejalan dengan tujuan Allah ketika menciptakannya. Itulah kenapa biasanya taqwa diartikan sebagai " melaksanakan perintah-perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya". Taqwa berarti ta'at dan patuh terhadap apa pun yang telah digariskan oleh Allah dan sebuah rasa takut dalam hati ketika melanggar/mengingkari dari segala bentuk perintah Allah. Dan Allah juga akan senantiasa memberikan kemudahan urusan bagi orang-orang/pemimpin yang bertakwa:

" Dan barang siapa yang bertakwa kepada Alloh niscaya Allah akan menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya" (QS. Ath Thalaq 61 : 4)

Potensi spritual ini juga merupakan yang sangat diperlukan karena sebagai penentu ketika seseorang jabatannya sudah tinggi, apakah orang tersebut gila jabatan atau tidak dan apakah ketika kekuasaannya digoncang sabar atau tidak.

Beliau juga tidak hanya menjelaskan tentang pemimpin masa Rasulullah saw, namun beliau juga menjelaskan kenapa seorang Bapak Soekarno dan Bapak Soeharto menjadi pemimpin, ternyata mereka juga memilki karakter yang berbeda dengan orang lain yaitu bapak soekarno dengan rajinnya membaca buku-buku luar negeri teutama Belanda sehingga wawasannya luas, dan beliau juga mempelajari semua bahasa dimana orang-orang seusianya tidak kepikiran untuk mempelajari itu semua, selain itu bapak soekarno juga orang yang berani mengkritik Belanda. Kalau Bapak Soeharto memiliki pribadi yang menonjol pada bidang birokrasi yang kuat dan teliti.

Penjelasan di atas merupakan penjelasan berbagai karakter yang dimiliki oleh seorang pemimpin dari Nabi Muhammad saw sampai massa mantan presiden Indonesia.

Khalifah Abu bakar Assiddiq ra. pernah berpidato saat dilantik menjadi pemimpin ummat sepeninggalan Rasulullah SAW yang mana inti dari isi pidato tersebut dapat dijadikan pandangan dalam memilih profil seorang pemimpin yang baik. Isi pidato tersebut diterjemahkan sebagai berikut:

"Saudara-saudara, Aku telah diangkat menjadi pemimpin bukanlah karena aku yang terbaik di antara kalian semuanya, untuk itu jika aku berbuat baik bantulah aku, dan jika aku berbuat salah luruskanlah aku. Sifat jujur itu adalah amanah, sedangkan kebohongan itu adalah pengkhianatan. 'Orang lemah' di antara kalian aku pandang kuat posisinya di sisiku dan aku akan melindungi hak-haknya. 'Orang kuat' di antara kalian aku pandang lemah posisinya di sisiku dan aku akan mengambil hak-hak mereka yang mereka peroleh dengan jalan yang jahat untuk aku kembalikan kepada yang berhak menerimanya. Janganlah di antara kalian meninggalkan jihad, sebab kaum yang meninggalkan jihad akan ditimpakan kehinaan oleh Allah Swt. Patuhlah kalian kepadaku selama aku mematuhi Allah dan Rasul-Nya. Jika aku durhaka kepada Allah dan Rasul-Nya maka tidak ada kewajiban bagi kalian untuk mematuhiku. Kini marilah kita menunaikan sholat semoga Allah Swt melimpahkan Rahmat-Nya kepada kita semua".

Ada 7 poin yang dapat diambil dari inti pidato khalifah Abu Bakar ra ini, diantaranya:

1. Sifat rendah hati.

Pada hakikatnya kedudukan pemimpin itu tidak berbeda dengan kedudukan rakyatnya. Ia bukan orang yang harus terus di istimewakan. Ia hanya sekedar orang yang harus didahulukan selangkah dari yang lainnya karena ia mendapatkan kepercayaan dalam memimpin dan mengemban amanat. Ia seolah pelayan rakyat yang diatas pundaknya terletak tanggungjawab besar yang mesti dipertanggungjawabkan. Dan seperti seorang "partner" dalam batas-batas yang tertentu bukan seperti "tuan dengan hambanya". Kerendahan hati biasanya mencerminkan persahabatan dan kekeluargaan, sebaliknya ke-egoan mencerminkan sifat takabur dan ingin menang sendiri.

2. Sifat terbuka untuk dikritik.

Seorang pemimpin haruslah menanggapi aspirasi-aspirasi rakyat atau yang dipimpin dan terbuka untuk menerima kritik-kritik sehat yang membangun dan konstruktif. Tidak sepatutnya menganggap kritikan itu sebagai hujatan, orang yang mengkritik sebagai lawan yang akan menjatuhkannya lantas dengan kekuasaannya mendzalimi orang tersebut. Tetapi harus diperlakukan sebagai "mitra"dengan kebersamaan dalam rangka meluruskan dari kemungkinan buruk yang selama ini terjadi untuk membangun kepada perbaikan dan kemajuan. Dan ini merupakan suatu partisipasi sejati sebab sehebat manapun seorang pemimpin itu pastilah memerlukan partisipasi dari orang banyak dan mitranya. Disinilah perlunya social-support dan social-control. Prinsip-prinsip dukungan dan kontrol masyarakat ini bersumber dari norma-norma Islam yang diterima secara utuh dari ajaran Nabi Muhammad SAW.

3. Sifat jujur dan memegang amanah.

Kejujuran yang dimiliki seorang pemimpin merupakan simpati rakyat terhadapnya yang dapat membuahkan kepercayaan dari seluruh amanat yang telah diamanahkan. Pemimpin yang konsisten dengan amanat rakyat menjadi kunci dari sebuah kemajuan dan perbaikan. Khalifah Umar bin Abdul Aziz pernah didatangi putranya saat dia berada di kantornya kemudian bercerita tentang keluarga dan masalah yang terjadi di rumah. Seketika itu Umar mematikan lampu ruangan dan si anak bertanya dari sebab apa sang ayah mematikan lampu sehingga hanya berbicara dalam ruangan yang gelap, dengan sederhana sang ayah menjawab bahwa lampu yang kita gunakan ini adalah amanah dari rakyat yang hanya dipergunakan untuk kepentingan pemerintahan bukan urusan keluarga.

4. Sifat berlaku adil.

Keadilan adalah konteks real yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin dengan tujuan demi kemakmuran rakyatnya. Keadilan bagi manusia tidak ada yang relatif. Islam meletakkan soal penegakkan keadilan itu sebagai sikap yang esensial. Seorang pemimpin harus mampu menimbang dan memperlakukan sesuatu dengan seadil-adilnya bukan sebaliknya berpihak pada seorang saja-berat sebelah. Dan orang yang "lemah" harus dibela hak-haknya dan dilindungi sementara orang yang "kuat" dan bertindak zhalim harus dicegah dari bertindak sewenang-wenangnya. Allah berfirman : "Dan apabila kalian berkata, hendaklah adil walaupun kepada kerabat kalian sendiri dan penuhilah janji Allah " (Al-An`am 6: 152). Di ayat yang lain Allah berfirman :"Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kalian menjadi orang-orang yang menegakkan kebenaran karena Allah, dan menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencian kalian terhadap suatu kaum mendorong kalian untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebeih dekat kepada taqwa. Dan bertaqwalah kalian kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kalian kerjakan (Al-Maidah 5: 8)". Dan Rasulullah sendiri sangat menekankan keadilan sampai beliau bersabda :"Seandainya Fatimah binti Muhammad mencuri maka aku pun akan memotong tangannya".

5. Komitmen dalam perjuangan.

Sifat pantang menyerah dan konsisten pada konstitusi bersama bagi seorang pemimpin adalah penting. Teguh dan terus Istiqamah dalam menegakkan kebenaran dan keadilan. Pantang tergoda oleh rayuan dan semangat menjadi orang yang pertama di depan musuh-musuh yang hendak menghancurkan konstitusi yang telah di sepakati bersama. Rasulullah bersabda :" Bertaqwalah kalian semua dan kemudian istiqamahlah".

6. Bersikap demokratis.

Demokrasi merupakan "alat" untuk membentuk masyarakat yang madani, dengan prinsip-prinsip segala sesuatunya dari rakyat untuk rakyat dan oleh rakyat. Dalam term ini pemimpin tidak sembarangan memutuskan sebelum adanya musyawarah yang mufakat. Sebab dengan keterlibatan rakyat terhadap pemimpinnya dari sebuah kesepakatan bersama akan memberikan kepuasan, sehingga apapun yang akan terjadi baik buruknya bisa ditanggung bersama-sama. Ibaratnya seorang imam dalam sholat yang telah batal maka tidak diwajibkan baginya untuk meneruskan sholat tersebut, tetapi ia harus bergeser ke samping sehingga salah seorang makmum yang berada dibelakang imam yang harus menggantikannya.

7. Berbakti dan mengabdi kepada Allah

Dalam hidup ini segala sesuatunya takkan terlepas dari pandangan Allah, manusia bisa berusaha semampunya dan sehebat-hebatnya namun yang menentukannya adalah Allah. Hubungan seorang pemimpin dengan Tuhannya tak kalah pentingnya yaitu dengan berbakti dan mengabdi kepada Allah. Semua ini dalam rangka memohon pertolongan dan ridho Allah semata. Dengan senantiasa berbakti kepada-Nya terutama dalam menegakkan sholat lima waktu contohnya, seorang pemimpin akan mendapat hidayah untuk menghindari perbuatan-perbuatan yang keji dan tercela. Selanjutnya ia akan mampu mengawasi dirinya dari perbuatan-perbuatan hina tersebut, karena dengan sholat yang baik dan benar menurut tuntunan ajaran Islam dapat mencegah manusia dari perbuatan keji dan mungkar (lihat Q.S.Al Ankabut 29 :45 ). Sifat yang harus terus ia aktualisasikan adalah ridho menerima apa yang dicapainya. Syukur bila meraih suatu keberhasilan dan memacunya kembali untuk lebih maju lagi dan sabar serta tawakkal dalam menghadapi setiap tantangan dan rintangan, sabar dan tawakkal saat menghadapi kegagalan.

Selain itu sifat yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin adalah penghayatan terhadap ilmu pengetahuan. Syarat ini perlu dipenuhi oleh setiap individu yang menjadi pemimpin, segala tindakannya dan corak kepemimpinannya mestilah disandarkan pada ilmu. Sebagaimana firman Allah dalam Surat Al-Alaq 96: 1-5

"Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya"

Seorang pemimpin juga harus mampu senantiasa berlaku sebagai pemberi motivator bagi bawahannya. Pemimpin yang baik akan mampu memberikan rangsangan bagi organisasinya untuk bertindak positif dan bersikap optimis. Pandangan yang optimistik dan sikap dinamis yang dimilikinya mampu mempengaruhi kelompoknya untuk bersikap dan bertindak yang semisal. Dalam Surat As Saba’ ayat 28 dikatakan:

"Dan Kami tidak mengutusmu (wahai Muhammad), melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa kabar gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui"

Hal penting yang sering diremehkan oleh kita semua adalah sikap disiplin. Bagi seorang pemimpin, memiliki sikap disiplin adalah hal yang mutlak untuk dipenuhi. Dalam hal ini, seorang pemimpin harus bertindak sebagai suritauladan terhadap kelompok dan organisasinya. Sehubungan dengan hal ini, Allah telah memperingatkan kepada manusia untuk tidak melalaikan waktu karena tindakan (kebiasaan) manusia yang suka melaikan waktu (tidak disiplin). Sebagaimana difirmankanNya dalam Surat Al-Ashr ayat 1-3, "demi masa, sesungguhnya manusia dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan beramal saleh serta saling berwasiat dalam kebenaran dan kesabaran".

"Kami telah menjadikan mereka itu sebagai pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami, dan Kami telah mewahyukan kepada mereka untuk mengerjakan kebajikan, mendirikan sholat, menunaikan zakat, dan selalu menyembah (mengabdi) kepada Kami." (QS. al-Anbiya' 21:73). Wallahu A’lam bis Shawab.

0 komentar:

Share is caring, Silahkan berbagi apa saja di sini.