Lembaga Dakwah Kampus Al-Iqtishod STEI Tazkia

Pengecas Ruhani Pemberi Inspirasi

Artikel

Sahabat bisa dapatkan artikel seputar Islam yang bisa menambah pemahaman kita mengenai Islam.

Audio

Download audio kajian dari asatidz terpercaya agar kita lebih mantap dalam memahami agama ini.

Join Us

Bergabung dengan sahabat lainnya di page facebook, twitter dan instagram untuk update artikel keren dan artwork awesome.

Berdo'alah...

Allah Azza wa Jalla berfirman:

"...Berdo'alah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu...." (QS. Al-Mu'min: 60)

"Dan apabila hamba-hambaKu bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah) bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo'a apabila ia memohon kepada-Ku..."
(QS. Al-baqarah: 186)

Beberapa Rahasia Do'a

Kita sering menjumpai do'a sejumlah orang yang dikabulkan Allah Azza wa Jalla. Do'a-do'a tersebut kadang dipanjatkan ketika kondisi terjepit, dengan disertai ketundukan hati kepada Allah, bertepatan dengan waktu-waktu dikabulkannya do'a, dan atas dasar kebaikan yang pernah dilakukan sebelumnya sehingga Allah mengabulkan do'a tersebut sebagai tanda syukur terhadap kebaikan orang yang berdo'a, serta hal-hal lain yang menyebabkan do'a terkabul.

Orang yang salah persepsi menyangka bahwa rahasia terkabulnya do'a tadi ada pada lafazh (kalimat) do'a yang digunakan. Ia pun memakai lafazh itu, tetapi mengabaikan perkara dan kondisi yang menyertai orang yang do'anya dikabulkan tadi. Peristiwa ini diumpamakan seperti seseorang yang menggunakan obat yang manjur, pada waktu dan cara yang tepat, sehingga obat itu bermanfaat baginya. Kemudian, orang lain menyangka bahwa ia dapat memperoleh manfaat yang serupa hanya dengan sekadara memakai obat yang sama (sementara ia mengabaikan berbagai segi lain yang menyertai penggunaan obat tersebut). Orang seperti ini benar-benar telah salah persepsi. Memang, banyak orang yang salah dalam memahami permasalahan ini.

Contoh lain dari kekeliruan mereka, kadang ada orang yang benar-benar berada dalam kondisi terjepit berdo'a di kuburan, lalu do'anya pun dikabulkan. Orang yang bodoh lantas menyangka bahwa rahasia terkabulnya do'a tadi terletak pada kuburan. Ia tidak tahu bahwa rahasia sebenarnya dari dikabulkannya do'a tersebut justru terletak pada kondisi pemohon yang benar-benar terjepit dan kesungguhannya dalam memohon kepada Allah. Sekiranya hal itu dilakukan di dalam salah satu rumah Allah, tentulah akan lebih baik dan lebih dicintai oleh-Nya.

Do'a Laksana Senjata

Do'a dan ta'awwudz (memohon perlindungan kepada Allah Azza wa Jalla dari sesuatu) memiliki kedudukan sebagaimana layaknya senjata. Kehebatan sebuah senjata sangat bergantung  kepada pemakainya, bukan hanya dari ketajamannya. Jika senjata tersebut adalah senjata yang sempurna, tidak ada cacatnya, lengan penggunanya adalah lengan yang kuat, serta tidak ada suatu penghalang, maka tentulah ia mampu dipakai untuk menghantam dan mengalahkan musuh. Namun apabila salah satu dari ketiga hal tersebut hilang, maka efeknya juga akan melemah dan berkurang.

Begitu pula do'a. Jika do'a tersebut pada dasarnya memang tidak layak, atau orang yang berdo'a tidak mampu menyatukan antara hati dan lisannya, atau ada sesuatu yang menghalangi terkabulnya do'a tersebut, maka tentu saja efeknya juga tidak akan ada.

Korelasi antara Do'a dan Takdir


Ada sebuah pertanyaan yang cukup masyhur (populer) dalam pembahasan kali ini : "Jika perkara yang diminta oleh seorang hamba itu memang telah ditakdirkan, niscaya hal itu pasti akan terjadi, baik ia berdo'a ataupun tidak. Jika memang tidak ditakdirkan, niscaya hal itu tidak akan terjadi, naik ia berdo'a ataupun tidak. Bukankah demikian?"

Segolongan orang menyangka bahwa pernyataan di atas adalah sebuah kebenaran. Mereka pun lantas meninggalkan do'a seraya mengatakan: "Do'a itu sama sekali tidak berfaedah!" Seiring dengan kedunguan dan kesesatan mereka, sikap mereka ini sangat kontradiktif.

Sesungguhnya konsekuensi dari penerapan pemikiran mereka ini hanya akan meniadakan dan menafikan salah satu bentuk atau adanya faktor-faktor penyebab dari sebuah kejadian.

Sebagai bantahan, kita katakan kepada mereka: "Seandainya Anda memang ditakdirkan untuk kenyang dan terbebas dari rasa dahaga, tentulah hal itu pasti akan terjadi, baik  Anda makan ataupun tidak. Demikian pula jika memang tidak ditakdirkan (untuk kenyang), tentu Anda tidak akan pernah merasa kenyang, baik Anda makan ataupun tidak.Begitu pula dengan keturunan, sekiranya Anda memang ditakdirkan untuk memilikinya, tentulah hal itu pasti akan terjadi, baik Anda menyetubuhi istri dan budak Anda ataupun tidak. Namun, jika memang tidak ditakdirkan, tentu Anda tidak akan pernah memiliki keturunan. Oleh sebab itu, tidak ada manfaatnya Anda menikah dan memiliki budak wanita. Begitulah seterusnya.

Adakah orang berakal, ataupun manysia pada umumnya, yang akan berpendapat seperti itu? Hewan ternak saja diberi naluri untuk berinterkasi dengan faktor penyebab, dalam rangka menjaga kelangsungan hidup dan eksistensi mereka. Ini artinya, hewan-hewan tersebut lebih pandai daripada orang-orang tadi. Mereka memang seperti ternak, bahkan lebih sesat lagi jalannya.

Di antara mereka ada orang-orang yang sok pintar dan mengatakan: "Menyibukkan diri dengan do'a termasuk ibadah mahdhah(seperti shalat, haji, dan yang semisalnya), supaya orang memberikan pahala kepada orang yang berdo'a, meskipun do'a tersebut sebenarnya tidak mempunyai efek sedikit pun terhadap apa yang diminta."

Menurut orang yang berlagak pandai ini, tidak ada bedanya antara berdo'a dan berdiam diri, baik secara lisan maupun hati, untuk mendapatkan apa yang diinginkan. Keterkaitan do'a dengan tercapainya keinginan itu seperti halnya keterkaitan orang yang diam saja untuk mendapatkannya. Sama saja, tidak ada bedanya.

Ada golongan yang lebih sombong lagi. Mereka berkata: "Do'a itu sekadar tanda yang Allah berikan sebagai isyarat atas terpenuhinya hal-hal yang diinginkan atau dibutuhkan. Jika Allah memberikan taufik kepada seorang hamba untuk berdo'a, maka itu merupakan tanda dan isyarat bahwa kebutuhannya (yang dia inginkan) itu telah dipenuhi. Hal ini diumpamakan seperti halnya jika kita melihat awan hitam di musim penghujan, yang merupakan pertanda turunnya hujan."

Mereka melanjutkan: "Hal  yang sama juga berlaku pada hukum ketaatan dengan pahala, serta hukum kekafiran dan kemaksiatan dengan siksa. Ketaatan, kekafiran, dan kemaksiatan hanyalah tanda dari pahala atau siksa, buka merupakan penyebab keduanya."

Begitulah pendapat mereka. Menurut mereka, sama sekali tidak ada hubungan sebab-akibat dalam peristiwa pecah dan memcahkan, terbakar dan membakar, serta terbunuh dan membunuh. Tidak ada hubungan antara keduanya selain hanya rentetan peristiwa biasa, bukan rangkaian sebab dan akibat.

Pendapat nereka ini bertentangan dengan perasaan, akal, syari'at, dan fitrah. Pemikiran mereka juga telah berseberangan dengan semua orang yang berakal, sekaligus menjadi bahan tertawaan mereka.

Pendapat yang benar ialah ada bagian ketiga yang tidak tercantum dalam pertanyaan diatas, yaitu apa yang ditakdirkan itu terjadi karena adanya sejumlah sebab, di antaranya adalah do'a. Tidak mungkin sesautu itu ditakdirkan terhadi begitu saja tanpa adanya sebab. Ia pasti memiki keterkaitan dengan sebab. Jika seorang hamba mengerjakan sebab, maka terjadilah apa yang ditakdirkan; begitu pula jika ia tidak mengerjakannya, maka apa yang ditakdirkan itu tidak terjadi.

Ini sebagaimana ditakdirkannya kenyang karena makan dan minum, keberadaan anak karena bersetubuh, panen hasil pertanian karena menyemai, kematian ternak karena disembelih, dan memasuki Surga atau Neraka karena amal perbuatan. Demikianlah pendapat yang benar, namun hal ini tidak disinggung oleh penanya. Tampaknya, ia belum mendapatkan taufik untuk memahami perkara ini.

Jika demikian, do'a merupakan salah satu faktor penyebab yang paling kuat. Apabila apa yang diminta dalam do'a ditakdirkan terjadi dengan sebab do'a tersebut, maka tidak benar jika dikatakan do'a itu tidak ada faedahnya, sebagaimana apabila dikatakan bahwa tidak ada faedah dari makan, minum serta segala bentuk aktifitas dan perbuatan. Tidak ada sebab yang lebih bermanfaat selain do'a, dan tidak ada cara yang lebih cepat untuk mendapatkan apa yang diinginkan melebihi do'a.

Para Sahabat Radhiyallahu anhum adalah orang-orang yang paling mengenal Allah dan Rasul-Nya serta paling memahami ajaran agama-Nya dari kalangan ummat ini. Oleh sebab itu, merka adalah orang yang paling baik dalam berdo'a dan teguh dalam melaksanakan syarat-syarat maupun adab-adabnya dibandingkan dengan selain mereka.

Dahulu, Umar bin Khaththab radhiyallahu anhu memohon pertolongan atas musuhnya dengan do'a, bahkan ia menganggap do'a sebagai tentaranya yang terhebat. Beliau berkata kepada para Sahabatnya: "Kalian tidak mendapat pertolongan dengan jumlah kalian yang banyak, tetapi kalian mendapatkan pertolongan dari langit." Umar juga berkata: "Sesungguhnya yang aku pentingkan bukanlah pengabulan, tetapi do'a (permohonan) itu sendiri. Jika kalian berdo'a, maka pengabulan akan ada bersamanya."

Oleh karenanya, berdo'alah disamping kita berikhtiar, perhatikan adab-adab, waktu-waktu dan tempat-tempat yang tepat untuk berdo'a. Bukankah Dia Yang Maha Mengatur Segalanya. Jangan pernah berputus asa dalam berdo'a, dan jangan pula tergesa-gesa dalam mengharap terkabulnya do'a. Salah satu kesalahan yang dapat menghalangi terkabulnya do'a ialah ketergesa-gesaan seorang hamba. Ia menganggap do'anya lambat dikabulkan, lantas ia merasa jenuh dan letih, sehingga akhirnya meninggalkan do'a.

Ini ibarat orang yang menabur benih atau menanam tanaman, kemudian ia menjaganya dan menyiraminya. Namun, karena merasa terlalu lama menunggu hasilnya, orang itupun membiarkan dan mengabaikan tanaman tersebut.

Dalam Shahiihul Bukhari (no.5981) terdapat sebuah riwayat dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, bahwasanya Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda:
"Do'a masing-masing dari kalian akan dikabulkan selama ia tidak tergesa-gesa, yaitu dengan berkata: 'Saya sudah berdo'a, tetapi belum juga dikabulkan.'"

(Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah dalam kitab Ad-Daa' wa Ad-Dawaa', Macam-Macam penyakit hati yang membahayakan dan resep pengobatannya, pentahqiq : Syaikh 'Ali Hasan bin' Ali al-Halabi al-Atsari)

0 komentar:

Share is caring, Silahkan berbagi apa saja di sini.