Lembaga Dakwah Kampus Al-Iqtishod STEI Tazkia

Pengecas Ruhani Pemberi Inspirasi

Artikel

Sahabat bisa dapatkan artikel seputar Islam yang bisa menambah pemahaman kita mengenai Islam.

Audio

Download audio kajian dari asatidz terpercaya agar kita lebih mantap dalam memahami agama ini.

Join Us

Bergabung dengan sahabat lainnya di page facebook, twitter dan instagram untuk update artikel keren dan artwork awesome.

Andai Aku Mempunyai Doa Mustajab

Oleh Muhammad Taufik


Fudhail bin Iyadh (Ulama generasi Tabiin) rahimahullah berkata: “Seandainya aku memiliki suatu doa yang pasti dikabulkan (mustajabah) niscaya akan aku peruntukkan untuk penguasa, karena baiknya seorang penguasa berarti baiknya negeri dan rakyat. (Siyar A’alam An Nubala’ oleh Adz Dzahaby, 8/434).

Saudara pembaca yang semoga dirahmati Allah, sesungguhnya kepemimpinan dalam Islam merupakan perkara yang agung, amanah yang berat serta akan dituntut pertanggung jawabannya di hadapan Allah kelak pada hari kiamat. Sudah menjadi perkara yang wajar jika kita mengharapkan figur-figur pemimpin/penguasa yang adil, amanah, dan mampu mengayomi rakyatnya. Akan tetapi, terkadang harapan itu tidak sesuai dengan kenyataan. Terutama di zaman seperti sekarang ini, sangat sulit menemukan sosok pemimpin seperti Rasulullah shallahu alaihi wa sallam, Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu dan Umar bin abdul Aziz rahimahullah.

Benarlah sabda Rasulullah yang berbunyi, “Setelah wafatku akan ada para pemimpin yang tidak mengambil petunjuk dengan petunjukku, dan tidak meneladani sunnahku”. (HR Muslim No.1847). Maka, dengan memohon pertolongan dari Allah, pada edisi kali ini kami akan mengangkat pembahasan seputar muamalah dengan pemimpin/penguasa, wajibnya mendengar dan taat kepadanya dalam hal yang makruf, serta urgensi nasihat dan doa kebaikan bagi para penguasa yang zalim.

Menurut Dr. Khalid Al Anbari dalam Fiqhu as-Siyasah asy-Syar’iyyah, penguasa atau pemimpin suatu negeri Islam memiliki banyak gelar diantaranya imam, waliyyul amri, khalifah, sulthan, amirul mu’minin dan malik (Anbari, 2004:122-123). Istilah-istilah ini secara makna hampir sama intinya yaitu seseorang yang telah diangkat untuk memimpin suatu negeri kaum muslimin, menegakkan agama, membela orang-orang yang teraniaya dan memenuhi hak-hak rakyatnya. Begitu besar kedudukan penguasa, Rasulullah shallahu alaihi wa sallam bersabda, “Ada 7 golongan yang akan mendapatkan naungan Allah pada hari kiamat dimana tidak ada naungan selain naungan-Nya, diantaranya adalah imam (pemimpin) yang adil. (HR Muslim No.1031). ” Di samping itu, Rasulullah juga mengancam keras bahwa diharamkan masuk surga untuk para pemimpin yang berbuat curang terhadap rakyatnya. (HR Muslim, No.142)

           Sesungguhnya terdapat banyak ayat dan hadits yang memerintahkan kita untuk mendengar dan taat kepada penguasa baik yang adil maupun yang zalim. Allah Taala berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul-Nya, dan ulil amri di antara kamu”. (QS An Nisa’:59). Rasulullah shallahu alaihi wa sallam bersabda: “Wajib atas seorang Muslim untuk mendengar dan taat (kepada penguasa) pada apa-apa yang ia cintai atau ia benci kecuali jika ia disuruh untuk berbuat kemaksiatan, maka tidak boleh mendengar dan taat”. (HR Muslim No.1839)

Rasulullah shallahu alaihi wa sallam juga bersabda: Setelah wafatku akan ada para pemimpin yang tidak mengambil petunjuk dengan petunjukku dan tidak meneladani sunnahku, serta ada orang-orang yang hatinya seperti hati setan meskipun berbadan manusia, Hudzaifah  bertanya: ‘Apa yang harus saya lakukan saat itu wahai Rasulullah? Rasulullah bersabda: Engkau tetap mendengar dan taat kepada pemimpin meskipun punggungmu dipukul, hartamu dirampas, maka tetap mendengar dan taat. (HR Muslim No.1847).

Salah satu prinsip dalam agama Islam ini adalah nasihat bagi para pemimpin, sebagaimana sabda Rasulullah shallahu alaihi wa sallam, “Agama itu adalah nasihat, agama itu adalah nasihat, agama itu adalah nasihat. Mereka (para sahabat) bertanya: Untuk siapa, wahai Rasulullah? Rasulullah menjawab: Untuk Allah, Kitab-Nya, Rasul-Nya, Imam kaum Muslimin atau Mukminin, dan bagi kaum Muslimin pada umumnya” (HR Muslim No.55(95).

Dan merupakan kewajiban atas para dai dan orang-orang yang memiliki kecemburuan karena Allah untuk memperhatikan batasan-batasan syariat, menasehati pemimpin mereka dengan ucapan yang baik, bijak serta dengan cara yang baik pula, agar kebaikan itu bertambah banyak dan kejelekan semakin berkurang. Dengan demikian, Allah akan memberi petunjuk kepada para pemimpin kepada kebaikan dan keistiqamahan, dan hasilnya pun akan menjadi baik bagi semua orang.

Diantara cara yang tidak baik dan tidak bijak dalam menjalankan kewajiban menasehati penguasa atau orang lain ialah menyampaikan teguran atau kritikan di hadapan khalayak ramai baik di jalan-jalan, mimbar-mimbar, media masa maupun elektronik. Padahal, Rasulullah shallahu alaihi wa sallam telah memberikan petunjuk dan prosedur dalam menasehati penguasa dalam sabdanya:

“Barangsiapa yang ingin menasihati penguasa, janganlah ia menampakkan dengan terang-terangan. Hendaklah ia pegang tangannya lalu menyendiri dengannya. Jika penguasa itu mau mendengar nasihat itu, maka itu yang terbaik dan bila penguasa itu enggan (tidak mau menerima), maka sungguh ia telah melaksanakan kewajiban amanah yang dibebankan padanya.” (HR Ibnu Abi Ashim, Ahmad dan al-Hakim, dan dishahihkan oleh Syaikh al-Albani, Fiqhu as-Siyasah/207)

Bila hal ini berlaku pada perorangan, maka lebih pantas untuk diindahkan ketika kita hendak menyampaikan nasehat kepada para penguasa, pejabat pemerintahan, atau pemimpin suatu negara. Jika kita tidak mampu menasihati penguasa secara pribadi, maka kita serahkan amanah itu kepada ulama, dai, atau siapapun yang mampu menasihatinnya. Minimal yang dapat kita lakukan adalah bersabar dan berdoa agar Allah agar memperbaiki dan memberi petunjuk kepada penguasa yang zalim terhadap rakyatnya. Karena sebagian ulama berkata: Kezaliman penguasa selama 40 tahun lebih baik daripada kevakuman kekuasaan selama satu tahun. (Tahrirul Ahkam/48, dinukil dari Fiqhu as-Siyasah/120)

Salah satu ibadah yang banyak dilalaikan dan dilupakan oleh umat Islam sekarang ini adalah doa untuk kebaikan penguasa. Padahal, Rasulullah dan para ulama terdahulu sangat memperhatikan masalah ini. Rasulullah bersabda: “Sebaik-baik pemimpin kalian adalah yang kalian cintai dan mereka pun mencintai kalian, mereka mendoakan kalian dan kalian pun mendoakan mereka. Dan sejelek-jelek pemimpin adalah yang kalian benci dan mereka membenci kalian, kalian laknat mereka dan mereka un melaknat kalian. Ada yang bertanya:’wahai Rasulullah, bolehkah kita melawan mereka dengan pedang? Maka Rasulullah menjawab: ’Jangan’. Selagi mereka masih menegakkan shalat, apabila kalian mendapatkan sesuatu yang kalian benci dari pemimpin kalian, maka bencilah perbuatannya namun jangan sampai tidak menaatinya”. (HR Muslim No.1855)

Imam al-Barbahari pernah berkata:”Jika engkau melihat seseorang mendoakan keburukan kepada pemimpin, ketahuilah bahwa ia termasuk salah satu pengikut hawa nafsu, namun jika engkau melihat seseorang mendoakan kebaikan kepada pemimpin, ketahuilah bahwa ia termasuk orang yang berpegang kepada Sunnah (shahibus sunnah). (Syarhus Sunnah/42)

Fudhail bin Iyadh juga berkata:”Seandainya aku memiliki suatu doa yang pasti dikabulkan (mustajabah) niscaya akan aku peruntukkan untuk penguasa.” Ia ditanya: Wahai Abu Ali (Kunyah Fudhail bin Iyadh-pent) jelaskan maksud ucapan tersebut?” Beliau berkata: Apabila doa itu hanya aku tujukan bagi diriku, tidak lebih hanya bermanfaat bagi diriku, namun apabila aku tujukan kepada pemimpin dan ternyata para pemimpin berubah menjadi baik, maka semua orang dan Negara akan merasakan manfaat dan kebaikannya” (Syarhus Sunnah, hlm. 42-43). Semoga Allah memperbaiki keadaan para pemimpin di negeri-negeri kaum muslimin seluruhnya dan memberikan kesabaran kepada kita semuanya. Aamiiin

Wallahu a’lam bishshawab



2 komentar:

Share is caring, Silahkan berbagi apa saja di sini.