Lembaga Dakwah Kampus Al-Iqtishod STEI Tazkia

Pengecas Ruhani Pemberi Inspirasi

Artikel

Sahabat bisa dapatkan artikel seputar Islam yang bisa menambah pemahaman kita mengenai Islam.

Audio

Download audio kajian dari asatidz terpercaya agar kita lebih mantap dalam memahami agama ini.

Join Us

Bergabung dengan sahabat lainnya di page facebook, twitter dan instagram untuk update artikel keren dan artwork awesome.

Miskinnya Budaya Menghargai

Oleh Zamzami Zainuddin


Semua orang pasti ingin dihargai, karena prinsip menghargai mampu membawa  hidup seseorang pada sebuah motivasi diri yang lebih positif. Bukan hanya orang tua saja yang ingin di hargai, namun anak kecil yang belum mengerti tentang arti menghargai pun ingin jua dihargai. Namun apabila kata menghargai ini diabaikan begitu saja, tidak menutup kemungkinan akan timbul kebencian dan kedengkian dari diri seseorang.

Budaya menghargai sudah menjadi sikap langka dan mahal untuk dilakukan di negeri ini. Lemahnya budaya menghargai tidak terlepas dari miskinnya pendidikan karakter yang tertanam pada masyarakat kita. Terutama karakter yang ditanamkan oleh orang tua kepada anak-anaknya semenjak dini.

“Tidak menghargai” sudah menjadi budaya ketidaksadaran kita, budaya yang muncul karena perbedaan kasta, suku, bangsa dan agama. Krisis menghargai terjadi karena kita dibutakan oleh ego, pengalaman, pangkat dan jabatan kita sehingga menganggap remeh orang lain yang pengalaman, posisi atau pendidikannya di bawah kita, yang tua tidak menghargai pendapat yang muda, sehingga dipandang sebelah mata, dengan alasan duluan saya lahir dengan kamu”, begitupula yang bergelar serjana menganggap rendah yang tidak bergelar dan yang bergelar pun ingin dihargai karena gelarnya yang di anggap sakral dan keramat.

Sejenak kita belajar dari budaya Jepang bagaimana mereka menghargai orang lain, dengan sangat ringannya mereka mengatakan ”arigatoo” (Terima kasih), dan “otsukaresamadeshita” (maaf, Anda telah bersusah payah), ketika mendapat bantuan orang lain dan tidak menganggap remeh jerih payah orang meskipun bantuan yang tidak seberapa.
Begitu pula dengan karakter menghargai yang ditanamkan orang tua di negara barat kepada anak-anaknya hanyalah dengan tiga kosakata: “Thank you” (terima kasih), “I am sorry” (saya minta maaf) dan “Excuse me” (permisi). Maka bukanlah hal yang asing jika di Amerika “Negara tak bersyari’at” kata-kata ini sering kita dengar di ucapkan masyarakatnya berulang-ulang dengan sangat ringan tanpa bosan. Ketika hal kecil dilakukan, mereka akan mudah mengucapkan “thank you”, bahkan ketika murid atau mahasiswa yang menjawab pertanyaan guru di kelas dengan kurang tepat ataupun ngawur, maka guru akan menghargai siswanya dengan ucapan “thank you very much” (terima kasih banyak) dan “very good” (sangat bagus), sambil menjelaskan kembali pelajaran tersebut tanpa bosan. Suatu sikap menghargai siswa dengan tidak membunuh semangat mereka dan tidak pula melebel mereka dengan perkataan “bodoh” bahkan mengatakan “salah”.

Walaupun orang lain berbuat salah, tetapi mereka berani mengucapkan maaf “I am sorry”. Bahkan ketika orang tua berbuat salah kepada anaknya ataupun tidak sengaja menjatuhkan bayinya, dengan sangat mudah mereka akan berkata kepada bayinya “I am sorry, I am sorry, I sorry” sampai berkali-kali, budaya meminta maaf kepada anaknya yang masih kecil menjadi pelajaran berharga bagi si anak di kemudian hari, bukan malah membohongi anaknya dengan menyalahkan yang lain, (seperti menyalahkan kucing dalam budaya kita). Tanpa kita sadari, pelajaran ini kemudian menjadikan anak sering menyalahkan orang lain ketika dewasa. Begitu juga dengan budaya permisi “excuse me”, sudah menjadi budaya menghargai kehidupan sehari-hari, bahkan orang tua yang melewati anak kecil pun mengucapkan kata permisi.
Bukankah dalam agama dan budaya kita diajarkan menghargai lebih dari tiga kata tersebut? namun kemana menghilangnya sikap ini pada masyarakat kita? Ini hanyalah contoh kecil fakta lemahnya pendidikan karakter bangsa, pendidikan karakter yang ditanamkan dalam keluarga, sekolah dan masyarakat. Belum lagi dengan miskinnya kejujuran, kepedulian, kedisiplinan dan tannggung jawab.

           Seyogianya menjadi tanggung jawab utama keluarga sebagai sekolah dan guru pertama dalam mengajarkan bersikap dan beretika kepada anak-anaknya, sehingga kelak akan melahirkan masyarakat yang menghargai, masyarakat yang selalu mengucapkan terima kasih ketika ada yang memberikannya satu hal kecil, yang tua tidak malu menghargai yang muda dan yang muda punya etika untuk menghargai yang tua, masyarakat yang mau meminta maaf ketika kakinya terinjak, masyarakat yang dengan mudah mengucapkan kata “permisi”, serta masyarakat yang tidak tega “membunuh tetangganya” terutama para ibu dan anak-anak dengan “asap racun”.

Semoga kita bisa menjadi manusia yang saling menghargai, bukan hanya menghargai orang lain, tetapi juga menghargai budaya sendiri, menghargai karya orang lain, menghargai pahlawannya, menghargai keyakinan orang lain, menghargai bangsanya sendiri, dan menghargai agama serta Tuhannya. Mari kita budayakan sikap menghargai, karena menghargai itu mudah, semudah kita ingin dihargai orang lain. ketertarikan orang terhadap suatu agama adalah dari sikap dan perilaku pemeluknya, Islam adalah agama yang mengajarkan sikap menghargai, sudahkah pemeluknya menebarkan sikap ini kepada sesama? Ataupun hanya mengaku Islam tapi tidak mencerminkan sikapnya yang Muslim dan menghargai.

Wallahu a’lam bishshawab...
  


0 komentar:

Share is caring, Silahkan berbagi apa saja di sini.