Lembaga Dakwah Kampus Al-Iqtishod STEI Tazkia

Pengecas Ruhani Pemberi Inspirasi

Artikel

Sahabat bisa dapatkan artikel seputar Islam yang bisa menambah pemahaman kita mengenai Islam.

Audio

Download audio kajian dari asatidz terpercaya agar kita lebih mantap dalam memahami agama ini.

Join Us

Bergabung dengan sahabat lainnya di page facebook, twitter dan instagram untuk update artikel keren dan artwork awesome.

Niat dan Keikhlasan

Oleh: H. Albirruni Siregar, Lc

Dalam sebuah hadits shahih Rasulullah saw bersabda: "Innamal a’maalu kal wi’aai, idzaa thooba asfaluhu thooba a’laahu, wa idza fasada asfaluhu fasada a’laahu"; "Sesungguhnya perumpamaan amal perbuatan itu seperti sebuah bejana, jika dasar permukaannya sempurna (baik), maka sempurnalah (baik) bagian atasnya. Dan jika cacat, maka cacatlah bagian atasnya" (Al-Hadits).

Sebagaimana sebuah bejana yang permukaan dasarnya retak dan berlubang, tentu tidak akan dapat menampung air. Begitupun sebuah bejana yang permukaan dasarnya berlumpur, tentu ketika dituangi air bening sekalipun, akan tampak air yang keruh kecoklatan.

Maka demikianlah identiknya sebuah amal (perbuatan), selalu ternilai dari apa yang menjadi niatnya semula. Jika niat awal adalah kebaikan, maka akan dihasilkan produk berupa amal shalih, begitu pula sebaliknya.

Sebagaimana rasulullah saw bersabda: "Innamal a’maalu biniyyaat wa innamaa likullimri’in ma nawaa"; "Sesungguhnya segala amal perbuatan itu ditentukan oleh niatnya, sesungguhnya seseorang itu dinilai dari apa yang menjadi niatnya". (Al-Hadits).

Menilik pada hadits ini, maka kita dapat ketahui bahwa standarisasi niat selalu menjadi pangkal penilaian dari baik atau buruknya sebuah amalan. Dan dengan niat itu juga, seseorang akan menyandang predikat baik atau buruk di tengah komunitas sosialnya.

Hakekat Niat 

Dr. Sayyid Husain Al ‘Affany dalam karyanya "Ta’thirul Anfaas min Hadiitsil Ikhlash" mengutip pendapat Ibnul Qayyim dari "Al-I’laam Al-Mawqi’iin" tentang definisi niat. Niat adalah kepala dari sebuah perkara dan sekaligus penyangganya, dia adalah asas dan pondasi, yang dengannya ditegakkan di atasnya sebidang bangunan. Ia adalah ruhnya amal perbuatan, pemimpin dan pemandunya. Amalan itu menyertainya dan dilakoni atas dasarnya. Sebuah amal perbuatan akan dinilai sah (benar) karena niatan yang sah, begitupun sebaliknya akan bernilai rusak (fasad) jika disertai oleh niatan yang buruk. Dengan kehadirannya akan memberikan titik terang dan harapan. Dengan ketiadaannya menjadikan segalanya hampa dan sia-sia. Dengan dihitungnya, ia akan membedakan tingkat, derajat dan golongan manusia di dunia dan akhirat.

Dalil tentang Niat 

Dari Umar ibnu Al-Khottob RA beliau berkata: Aku mendengar Rasulullah saw bersabda: "Innamal a’maalu biniyyaat, wa innamaa likullimri’in maa nawaa. Faman kaanat hijrotuhu ilallaahi, fahijrotuhu ilallaahi wa rasuulihi. Wa mankaanat lidunyaa yushiibuha, awimro’atin yankihuhaa. Fahijrotuhu ilaa maa haajaro ilaih"; "Sesungguhnya segala amal perbuatan itu berdasarkan niat-niatnya. Maka barangsiapa yang berniat hijrah karena Allah, maka hijrahnya kepada Allah dan rasulNya. Dan barangsiapa yang hijrahnya karena dunia yang mengarunginya atau wanita yang dinikahinya, maka hijrahnya sebatas dari apa yang dia berhijrah padanya (HR.Bukhari).

Dengan mengutip hadits ini, Al-Bukhari dalam kitabnya "Ash-Shohih" mengisyaratkan bahwa segala amalan yang tidak diniatkan karena Allah semata adalah bathil, tiada balasan (ganjaran) di dunia maupun di akhirat.

Al-Manawi dalam karyanya "Faidhul Qadir" mengatakan: "Hadits ini adalah dasar dari keikhlasan, dan tergolong dalam perkataan yang selalu dikaitkan dengan konteks amal. Bahkan Abu ‘Ubaid mengatakan:"Tiada dalam sekumpulan hadits-hadits yang lebih memiliki keluasan makna, kekayaan hakekat, sarat manfaat, dan mengandung banyak faidah dari hadits ini."

Definisi Niat dalam Terminologi 

"Niat" menurut Dr. Husain Al-’Affany adalah "Al Qoshdu wa Al ‘Azmu" yaitu "tujuan dan keinginan". Dan muncul dalam terminologi yang lebih khusus lagi, yang berarti "Qoshdul Ma’buud" (=God as the only purpose); "Tujuan pada dzat yang disembah (Allah swt) dengan mengambil esensi dari hadits "innamal a’maalu biniyyaat". 

Kata "niat" dalam perkataan ulama’ mengandung dua makna utama:

1.Tamyiizul ‘ibaadaat ba’dhuhaa ‘an ba’dhin; yakni membedakan jenis ibadah, antara satu jenis ibadah dengan ibadah lainnya.

Seperti halnya membedakan antara sholat dzuhur dari sholat ashar, antara puasa ramadhan dan puasa-puasa yang lain, membedakan ibadat dengan hal yang sekedar adat (kebiasaan), membedakan jenis mandi janabat dengan mandi biasa. Niat-niat inilah yang banyak dijumpai pada perkataan ahli fiqih (fuqaha) dalam buku-buku fiqihnya.

2. Tamyiizul Maqshuud bil ‘amal ; yakni membedakan maksud dari dikerjakannya sebuah amal.

Apakah amalan itu dilakukan karena Allah, atau karena Allah dan selainNya, atau karena selain Allah. Inilah niat-niat yang banyak dibahas oleh pakar ilmu akhlaq dalam buku-buku seputar akhlaq pada bab al-ikhlash.

"Niat" dalam Al Qur’an

Kata niat di dalam Al Qur’an tidak tertulis sesuai dengan tekstualnya sebagaimana dalam berbagai hadits, namun dipergunakan kata "al-irodah" dan "al-ibtigho’" sebagai gantinya, yang mana makna dan esensi zahirnya tidak keluar dari hakikat niat itu sendiri. 

Sebagai contoh seperti kata "al-irodah" dapat kita jumpai pada ayat-ayat berikut:

- "Minkum man yuriidu dunyaa wa minkum man yuriidul aakhiroh"; "Sebagian dari kamu ada yang menghendaki dunia, dan sebagian dari kamu ada pula yang menghendaki akhirat".(QS. Ali ‘Imran)

Adapun kata "al-ibtigho’" terdapat pada ayat:

-"Illabtighoo’a wajhi robbihil a’laa"; "tetapi (dia memberikan itu semata-mata) karena mencari keridhaan Tuhannya Yang Maha Tinggi".(Qs.Al-Lail:20)

-"Alladziina yunfiquuna amwaalahumub tighoo’a mardhootillahi wa tatsbiitan min anfusihim";"(Dan) mereka membelanjakan hartanya karena mencari keridhaan Allah dan untuk keteguhan jiwa mereka.(QS.Al-Baqarah:265)

Keutamaan "Niat"

1. Dibangkitkan manusia kelak karena niat-niat mereka 

Sebagaimana sebuah hadits dari Abu Hurairah RA. Bersabda Rasulullah saw: "Yub’atsu an-naasu ‘ala niyyatihim";"Kelak akan dibangkitkan manusia disebabkan niat-niat mereka".

2. Harapan di akhirat 

Dari Anas RA berkata bahwa rasulullah saw bersabda: "Man kaanatil aakhirotu hammahu, ja’alallahu ghanaahu fi qolbih";"Barangsiapa akhirat menjadi harapannya, Allah akan menjadikan kekayaan didalam hatinya".

Keabadian di surga atau di neraka disebabkan oleh niat 

Sebagaimana Al-Hasan berkata:"Innama kholada ahlul jannati fil jannah, wa ahlun-naari fin-naari biniyyaat" ;"Sesungguhnya kekalnya penghuni surga di surga dan penghuni neraka di neraka disebabkan niatnya".

Seseorang lebih memperoleh dari apa yang diniatkannya daripada amalan-amalan yang belum dicapainya. 

Berkata Ja’far ibnu Hayyan: "Raja dari amal perbuatan adalah niat. Sesungguhnya seseorang telah mendapat nilai (pahala) dari apa yang diniatkannya sekalipun ia belum meraih penyelesaian dari awal perbuatan itu".

Tsabit Al-Bannany dalam "Hilliyyatul Awliya’":Niat seseorang itu melampaui amalnya. Jika seorang mukmin berniat qiyamul lail, lalu berpuasa pada siang harinya, dan menginfakkan sebagian dari hartanya, kemudian karena suatu sebab dirinya tidak menyertai niatnya dengan amal perbuatan. Maka niatnya telah lebih dahulu memperoleh ganjaran dari amal perbuatannya".

Sebagaimana deskripsi dari sebuah hadits: Dari Sahal ibnu Hanif RA berkata bahwa rasulullah saw bersabda: "man sa’alallaha syahaadata bi shidqin, ballaghohullaahu manaazilasy-syuhadaa’I wa in maata’ala firoosyihi";"Barangsiapa yang memohon kepada Allah dengan sungguh-sungguh agar mati dalam keadaan syahid, maka kelak Allah akan mendapatkannya dalam manzilah syuhada’, sekalipun ia mati di atas pembaringannya (HR.Muslim).

Niat baik akan abadi selamanya meskipun sebuah amal terhenti. 

Telah berhenti sebagian amal jasmaniyah secara syar’i, seperti hijrah (dari Mekkah ke Yatsrib/Madinah), yaitu dikala islam sudah tersebar luas dan tujuan meninggikan kalimat Allah telah tercapai. Namun "niat", sepanjang nafas masih dikandung badan, akan terus menyertai setiap langkah setiap insan.


Hikmah dibalik Niat dan Keikhlasan 

Telah kita ketahui makna niat seutuhnya, baik makna secara bahasa, istilah dan berbagai kisah serta peristiwa yang sedikit banyak telah memberikan samudera hikmah dan pelajaran berharga untuk kita terus menapaki kehidupan ini dengan semangat dan optimisme. 

Tiada yang sia-sia dari setiap langkah amal perbuatan selama kita senantiasa mendahuluinya dengan niatan yang tulus lagi ikhlas karena Allah semata. Tiada hal yang mustahil dapat terwujud dalam lika-liku hidup ini, selama kita masih mau berazam dengan niatan yang baik. Dengan menanamkan niatan yang baik, ibarat sebutir benih, Insya Allah kita akan mengetam hasil panen yang baik pula.

Imam An-Nawawi pernah berpetuah:"An-niyyatu mi’yaarun litashiihil a’maal. Fa haitsu sholuhatun niyyah sholuhal ‘amal. Wa haitsu fasadat fasadal ‘amal";"Niat adalah standar dari benarnya amal perbuatan. Jika niat itu sungguh-sungguh ditegakkan dalam kebenaran, maka amalpun akan ikut menjadi benar adanya. Dan jika niat yang ditanamkan sejak awal adalah sebuah keburukan, maka yang muncul adalah amalan yang merusak (fasad).

Ibnul Mubarok mengatakan: "Rubba ‘amalun shagiir, tu’adzimuhu an-niyyah. Wa rubba ‘amalun kabiir, tushaggiruhu an-niyyah";"Bisajadi amalan yang kecil, dapat menjadi besar karena niatnya. Dan bolehjadi amalan yang besar menjadi kecil dikarenakan niatnya.

Allahu A’lam bis-shawwab

0 komentar:

Share is caring, Silahkan berbagi apa saja di sini.