Lembaga Dakwah Kampus Al-Iqtishod STEI Tazkia

Pengecas Ruhani Pemberi Inspirasi

Artikel

Sahabat bisa dapatkan artikel seputar Islam yang bisa menambah pemahaman kita mengenai Islam.

Audio

Download audio kajian dari asatidz terpercaya agar kita lebih mantap dalam memahami agama ini.

Join Us

Bergabung dengan sahabat lainnya di page facebook, twitter dan instagram untuk update artikel keren dan artwork awesome.

Air Mata Rasul

“Menangislah, karena air mata adalah puisi kejujuranmu”. Petikan puisi ini sempat saya posting di notes facebook. Ada beberapa kawan fb dengan berbagai karakter yang berkomentar. Komentar mereka saya anggap sebagai ungkapan kejujuran, karena saya yakin semua orang pasti pernah menangis dan melinangkan air matanya, termasuk Rasulullah Shallal-Lâhu ‘alaihi wa Sallam.
Menangis bukan berarti cengeng seperti anggapan kebanyakan orang. Menangis lebih karena kepekaan hati seseorang terhadap segala hal yang terjadi di sekelilingnya. Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa Sallam pernah bersabda, “Andai Kalian tahu apa yang aku ketahui, tentu kalian akan lebih sering menangis daripada tertawa.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Rasulullah Shallallahu alaihi wa Sallam teramat sering menangis, terlebih dalam shalat-shalatnya. Ummul Mu’minin Aisyah Radhiyallahu anha pernah berkata, “Aku sering melihat Rasulullah menangis dalam salat-salat malamnya.”
Abdullah bin Syukhair berkata: “Aku pernah mendatangi Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa Sallam yang kala itu sedang melaksanakan salat. Ketika aku berada di dekatnya, aku mendengar suara gemuruh serupa air mendidih dari dada Rasul karena tangisannya.” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi)
Tidak hanya dalam shalat, Rasulullah juga sering menangis ketika memikirkan nasib umatnya. Pernah pada suatu hari, Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa Sallam meminta sahabatnya Abdullah bin Mas’ud membacakan surat An-Nisa, ketika bacaan Ibnu Mas’ud sampai pada ayat yang ke-41 yang berbunyi: “Maka bagaimanakah (halnya orang kafir nanti), apabila Kami mendatangkan seseorang saksi (rasul) dari tiap-tiap umat dan Kami mendatangkan kamu (Muhammad) sebagai saksi atas mereka itu (sebagai umatmu).” Rasulullah meminta Ibnu Mas’ud menghentikan bacaannya. Ketika itu Rasulullah berlinang air mata, meneteskan air mata karena memikirkan umatnya.
Rasulullah juga pernah menangis ketika putra tercintanya Ibrahim bin Muhammad saw. meninggal dunia. Kala itu para sahabat melihat kesedihan pada raut muka Nabi. Dan ketika Ibrahim hendak dikebumikan, rasulullah meneteskan air mata. Para sahabat bertanya, “Rasul, bukankah engkau pernah melarang kami menangis karena ditinggal mati oleh seseorang?”. Rasulullah menjawab, “Apakah kalian tidak mendengar, bahwa sesungguhnya Allah swt. tidak akan menyiksa orang yang meninggal karena ditangisi, tapi Allah akan menyiksanya karena tangisan yang tersedu-sedu dan yang berteriak-teriak?”
Sepulang dari pemakaman Ibrahim, masih terlihat gurat kesedihan di wajah Rasul, maka para sahabat mencoba untuk menenangkan dan membesarkan hati Beliau. Kemudia Rasulullah berkata kepada mereka, “Aku tidak dilarang bersedih. Yang dilarang adalah meratap berlebihan dengan suara kencang. Kesedihan dan air mata yang kalian lihat di wajahku adalah ungkapan cinta dan kasih sayang di hatiku.”
Adakah pemimpin negeri ini mempunyai rasa cinta, cinta akan tanah airnya, cinta akan rakyatnya, dan cinta segalanya. Sehinga mereka tidak akan terbuai oleh merahnya uang seratus ribuan, dan kata-kata KORUPSI tidak akan menjadi kemewahan baginya. Di antara Pemimpin Negeri ini masih banyak terdapat ketidak jujuran, kebohongan dibuat nyanyian dimana-mana, dan ketulusan untuk berbakti kepada nusa dan bangsa masih ada di tengah semudra yang membentang luas di seberang sana. Itulah kekurangan untuk menangisi kehidupan dunia yang fana ini, dunia yang hanya sementara, dunia yang hanya menipu belaka, dunia yang membuat si pencintanya menjadi sengsara.
Maka menangislah, karena akhiratmu dan menangislah karena kamu telah ditipu oleh duniamu, karena airmata adalah puisi pertamamu. Dan menangislah, karena air mata adalah puisi kejujuranmu, jujur untuk akhiratmu, jujur untuk kebahagiaanmu.

*Penulis adalah Santri Sidogiri asal Madura
Sedang melanjutkan studi di Sekolah Tinggi Ekonomi Islam Tazkia, Bogor.

0 komentar:

Share is caring, Silahkan berbagi apa saja di sini.