Lembaga Dakwah Kampus Al-Iqtishod STEI Tazkia

Pengecas Ruhani Pemberi Inspirasi

Artikel

Sahabat bisa dapatkan artikel seputar Islam yang bisa menambah pemahaman kita mengenai Islam.

Audio

Download audio kajian dari asatidz terpercaya agar kita lebih mantap dalam memahami agama ini.

Join Us

Bergabung dengan sahabat lainnya di page facebook, twitter dan instagram untuk update artikel keren dan artwork awesome.

DIREKSI SPESIAL "MISTERI DIBALIK HARI PERAYAAN NATAL



Press Release Direksi, 15 Desember 2015
Judul               : Menguak Sejarah Natal dan Tahun Baru
Pemateri          : Aa’ Ardhy Surya  Nugraha






بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

A. Sejarah Natal
Sebelum menyingkap sejarah natal, Allah berfirman dalam Surat Al-Isra ayat 36 yang berbunyi:


Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.
Umat Kristiani berasumsi bahwa perayaan Natal merupakan sebuah momentum untuk memperingati kelahiran Nabi Isa, atau dalam sebutan mereka ialah Yesus. Namun, banyak kejanggalan yang terlihat apabila kita sebagai Muslim jeli untuk mengetahui akan rentetan sejarah yang berada di belakang perayaan Natal itu sendiri. Sehingga nantinya kita tidak termasuk kaum yang hanya mengikuti suatu perbuatan tanpa ada ilmu di dalamnya.
Setelah 325 tahun wafatnya Nabi Isa ‘alayhi assalam, tepat pada abad ke-4 seorang pendeta Katolik bernama Paus Liberius datang ke Romawi. Tujuannya bukan lain ialah untuk menyebarkan agama Kristen Katolik kepada kaum disana. Tatkala itu, Romawi sebelum abad ke-4 M telah menganut kepercayaan Paganis Poletheisme. Mereka mensakralkan Sunday (Hari Minggu) yang bertepatan pada tanggal 25 Desember sebagai hari untuk merayakan kelahiran Dewa Matahari yang mereka sembah. Hal setupa juga terjadi di berbagai kawasan, seperti Babylonia dan Mesir. Kedua daerah tersebut juga mengabadikan tanggal 25 sebagai hari kelahiran dewa.
Maka supaya agama Katholik bisa diterima dalam kehidupan masyarakat Romawi diadakanlah sinkretisme (perpaduan agama-budaya / penyembahan berhala), dengan cara menyatukan perayaan kelahiran Sun of God (Dewa Matahari) dengan kelahiran Son of God (Anak Tuhan = Yesus). Lalu, kesepakatan tersebut dibawa ke dalam sebuah pertemuan besar hingga lahirlah UU NICEA yang berisikan:
1. Mengangkat Yesus sebagai Tuhan.
2. Menetapkan 25 Desember sebagai hari kelahiran Yesus.
3. Mengganti hari Sabtu menjadi Sunday sebagai hari ibadah
4. Lambang dewa matahari yaitu sinar yang bersilang dijadikan lambang Kristen.
5. Membuat patung-patung Yesus untuk menggantikan patung Dewa Matahari.

Saat perayaan Natal, pohon cemara yang berhiaskan berbagai pernak-pernik menjadi ikon yang sudah mengabadi. Padahal, sebelumnya itu merupakan tradisi kaum Mesir yang menyembah berhala. Maka setelah adanya sinkretisme tadi, tradisi penyembahan berhala (pagan) digabungkan dengan pohon natal yang ada di Eropa.
Dapat ditarik kesimpulan bahwa apa-apa yang terjadi mulai dari pembentukan hingga penetapan Natal merupakan semata-mata dogma yang harus diterima oleh kaum Katolik. Bahkan secara hukum seharusnya pengangkatan Yesus sebagai Tuhan tidaklah sah. Bagaimana mungkin manusia dapat mengesahkan seorang manusia juga yang sebelumnya dianggap Nabi menjadi Tuhan? Dan apakah diterima mengangkat seseorang yang sudah meninggal 325 tahun lamanya sebagai Tuhan? Bahkan, sejatinya tak seorang pun mengetahui hari kelahiran Yesus. Selain itu, dogma agama bahwa Yesus adalah anak Tuhan dan bahwa Tuhan mempunyai tiga pribadi (konsep trinitas) juga merupakan suatu kebohongan yang diakui oleh Paus Liberius.
B. Sejarah Tahun Baru
Sebelum penetapan tanggal 1 Januari sebagai perayaan tahun baru, pada tahun 7 SM bulan Maret-lah yang dijadikan sebagai bulan awal atas dasar perhitungan yang dilihat dari peredaran matahari. Setelah itu, pada tahun 45 SM, seorang kaisar Romawi bernama Julius Caesar menetapkan Januari sebagai bulan awal dan mengesahkan kalender tahunan bernama Kalender Julian. Dalam bahasa Romawi Januari disebut Januarius. Penamaan bulan terus berganti sesuai dengan nama kaisar yang memimpin pada masanya. Lalu, setelah bergulirnya waktu, Paus Gergorius XIII menetapkan 1 Januari pada tahun 1582 sebagai tahun baru Masehi.
Perayaan tahun baru pada masa kekaisaran Romawi semata-mata untuk menyembah Dewa Janus yang dipercaya sebagai dewa pintu permulaan dan akhir. Dan, atas dasar alasan itulah mengapa Julius Caesar menjadikan Januari sebagai tahun baru. Adapun beberapa atribut yang sering dikenakan manusia bahkan umat muslim sekalipun dalam perayaan tahun baru yaitu salah satunya adalah topi yang berbentuk kerucut yang bernama Sanbenito. Menurut sejarah, topi tersebut bermula saat Andalusia dijajah oleh Gereja Khatolik Roma. Maka dengan penyiksaan dan penindasan, umat Muslim diperintahkan untuk meninggalkan keislaman mereka dan harus memeluk agama Katholik. Sebagai simbol pemurtadan, mereka yang menyerahkan diri untuk menjadi Khatolik dipakaikan topi Sanbenito.
Jadi, masihkah ada keinginan untuk sekadar merayakan Natal dan Tahun Baru meskipun tanpa mengimani? Tidakkah kita merasa bangga menjadi Muslim dan Islam sebagai agama yang benar?
قَالَ يَا قَوْمِ أَرَأَيْتُمْ إِنْ كُنْتُ عَلَىٰ بَيِّنَةٍ مِنْ رَبِّي وَرَزَقَنِي مِنْهُ رِزْقًا حَسَنًا ۚ وَمَا أُرِيدُ أَنْ أُخَالِفَكُمْ إِلَىٰ مَا أَنْهَاكُمْ عَنْهُ ۚ إِنْ أُرِيدُ إِلَّا                                                                                      الْإِصْلَاحَ مَا اسْتَطَعْتُ ۚ وَمَا تَوْفِيقِي إِلَّا بِاللَّهِ ۚ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْهِ أُنِيبُ 

Syu'aib berkata: "Hai kaumku, bagaimana pikiranmu jika aku mempunyai bukti yang nyata dari Tuhanku dan dianugerahi-Nya aku dari pada-Nya rezeki yang baik (patutkah aku menyalahi perintah-Nya)? Dan aku tidak berkehendak menyalahi kamu (dengan mengerjakan) apa yang aku larang. Aku tidak bermaksud kecuali (mendatangkan) perbaikan selama aku masih berkesanggupan. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepada Allah aku bertawakkal dan hanya kepada-Nya-lah aku kembali. (QS. Hud:88)

Wallahu a’lam bisshowaab…

0 komentar:

Share is caring, Silahkan berbagi apa saja di sini.