Lembaga Dakwah Kampus Al-Iqtishod STEI Tazkia

Pengecas Ruhani Pemberi Inspirasi

Artikel

Sahabat bisa dapatkan artikel seputar Islam yang bisa menambah pemahaman kita mengenai Islam.

Audio

Download audio kajian dari asatidz terpercaya agar kita lebih mantap dalam memahami agama ini.

Join Us

Bergabung dengan sahabat lainnya di page facebook, twitter dan instagram untuk update artikel keren dan artwork awesome.

Kebutuhan Umat Terhadap Fiqih Prioritas

Bismillahirrahmanirrahim
Di antara konsep terpenting dalam fiqih kita sekarang ini ialah apa yang sering saya utarakan dalam berbagai buku saya, yang saya namakan dengan “Fiqih Prioritas” (fiqh al-awlawiyyat). Yang saya maksud dengan istilah tersebut ialah meletakkan segala sesuatu pada peringkatnya dengan adil dari segi hukum, nilai dan pelaksanaannya. Pekerjaan yang mula-mula dikerjakan harus didahulukan, berdasarkan penilaian syari’ah yang shahih, yang diberi petunjuk oleh cahaya wahyu dan diterangi oleh akal
“…Cahaya di atas cahaya…” (An-Nuur: 35)
Dasarnya ialah bahwa sesungguhnya nilai, hukum, pelaksanaan dan pemberian beban kewajiban menurut pandangan agama adalah berbeda-beda satu dengan yang lain. Semuanya tidak berada pada satu tingkat. Ada yang besar, ada yang kecil. Ada pokok, ada pula cabang. Dia yang memegang peranan penting, ada juga sebagai pendukung.
“Apakah orang-orang yang memberi minuman kepada orang-orang yang mengerjakan ibadah haji dan mengurus Masjid al-Haram, kamu samakan dengan orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian serta berjihad di jalan Allah ? mereka tidak sama di sisi Allah dan Allah tidak memberikan petunjuk kepada kaum Muslim yang zalim. Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta benda dan diri mereka adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah dan itulah orang-orang yang mendpaat keuntungan.” (At-Taubah: 19-20)
Para sahabat Nabi saw memiliki antusiasme untuk mengetahui amalan yang paling utama (atau yang diprioritaskan), untuk mendekatkan diri kepada Allah swt. Oleh karena itu banyak sekali pertanyaan yang mereka ajukan kepada baginda Nabi saw mengenai amalan yang paling mulia, amalan yang paling dicintai Allah swt, sebagaimana pertanyaan yang pernah dikemukakan oleh Ibnu Mas’ud, Abu Dzar dan lain-lain.
“Shalat berjamaah itu lebih utama daripada shalat sendirian, dengan kelebihan sebanyak dua puluh tujuh tingkatan.” (Muttafaq ‘Alaih diriwayatkan oleh Ibn Umar)
“Sesuatu yang paling jelek yang ada di dalam diri seseorang ialah sifat kikir yang amat berat dan sifat pengecut.” (Diriwayatkan oleh al-Bukhori dalam at-Tarikh dan Abu Dawud dari Abu Hurairoh)
Dewasa ini, dibelahan dunia manapun, dapat kita temukan bahwa pengembangan terhadap dunia seni dan hiburan lebih diutamakan daripada yang menyangkut ilmu pengetahuan dan pendidikan. Dalam aktivitas pemudanya pun kita temukan bahwa perhatian terhadap olahraga lebih diutamakan atas olah akal pikiran. Lalu, apakah manusia itu hanya badan saja, akal pikiran saja, ataukah jiwa saja ?
Dahulu kita sering menghafal sebuah kasidah Abu al-Fath al-Bisti yang sangat terkenal, yaitu:
“Wahai orang yang menjadi budak badan, sampai kapan engkau hendak mempersembahkan perkhidmatan kepadanya.
Apakah engkau hendak memperoleh keuntungan dari sesuatu yang mengandung kerugian ?
Berkhidmatlah pula kepada jiwa dan carilah berbagai keutamaan padanya.
Karena engkau dianggap sebagai manusia itu dengan jiwa dan bukan dengan badan.”
            Apabila dilihat dari sisi material, perhatian mereka kepada dunia olahraga dan seni selalu memakan biaya yang tinggi dan pada saat yang sama, lapangan dunia pendidikan, serta kesehatan sangat sedikit mendapatkan dukungan dana dengan alasan tidak mampu atau untuk melakukan penghematan. Hal ini seperti yang pernah dikatakan oleh Ibn al-Muqaffa’, ”Aku tidak melihat suatu pemborosan terjadi kecuali di sampingnya ada hak yang dirampas oleh orang yang melakukan pemborosan itu.”
            Sahabat saya yang bernama Fahmi Huwaidi, pernah menulis suatu makalah yang mengatakan secara terang-terangan kepada kaum Muslimin, “Sesunggunya upaya penyelamatan kaum Muslim Bosnia lebih utama daripada kewajiban ibadah haji sekarang ini.”
            Akibatnya banyak yang bertanya tentang hal ini kepada saya dan saya menjawab, “Sesungguhnya pernyataan penulis itu benar dan juga benar jika ditinjau dari sudut fiqih, karena sebenarnya telah ada ketetapan syari’ah yang menyatakan bahwa kewajiban yang perlu dilakukan dengan segera harus didahulukan atas kewajiban yang bisa ditangguhkan. Dalam hal ini, ibadah haji termasuk ibadah yang bisa ditangguhkan. Dan tidak adanya tuntuan untuk menyegerakan melakukan ibadah haji. Sedangkan penyelamatan kaum Muslimin Bosnia dari ancaman akan kemusnahan mereka karena kelaparan, kedinginan, dan penyakit dari satu segi merupakan kewajiban yang harus disegerakan pelaksanannya. Lagipula saat ini ada begitu banyak yang melaksanakan haji sedangkan mereka sudah pernah melakukan hal itu ditahun sebelumnya.
            Bisyr al-Hafi pernah mengatakan, “Kalau kaum Muslimin mau memahami, memiliki keimanan yang benar dan mengetahui makna fiqih prioritas, maka ia akan merasakan kebahagiaan yang lebih besar dan suasana kerohanian yang lebih kuat setiap kali dia dapat mengalihkan dana ibadah haji itu untuk memelihara anak-anak yatim, memberi makan orang-orang yang kelaparan, memberi tempat perlindungan orang-orang yang terlantar, mengobati orang sakit, mendidikan orang-orang yang bodoh, atau memberi kesempatan kerja kepada pengangguran.”
            Saya juga pernah melihat para remaja yang tekun belajar pada kuliah di perguruan tinggi fakultas teknik, pertanian, sastra, atau fakultas-fakultas ilmu-ilmu umum lainnya. Akan tetapi tidak lama kemudian mereka meninggalkan itu semua dan memfokuskan diri untuk mendalami ilmu agama. Mereka tidak merasa sayang untuk meninggalkannya dengan alasan ingin ikut serta dalam berdakwah dan tabligh. Akibatnya tidak ada lagi pemuda Muslimin yang menguasi keilmuan di bidang-bidang tersebut dan mengalihkan perhatian masyarakat umum yang membutuhkan ilmu-ilmu tersebut kepada kaum Yahudi dan Nasrani. Padahal melalui pengetahuan-pengetahuan umum itu mereka juga dapat ikut andil dalam dakwah dan menjadikannya bernilai ibadah selama tidak melanggar syariat yang sudah Allah berikan.
            Termasuk dalam kategori ini adalah perhatian mereka yang sangat besar untuk menyingkirkan dosa-dosa kecil dan melalaikan dosa-dosa besar yang lebih berbahaya, baik dosa-dosa besar yang berkaitan denga agama seperti, menjadikan kuburan sebagai masjid, peramalan, sihir, perdukunan, meminta tolong atau berdoa kepada orang mati ataupun dosa-dosa lainnya yang berupa penyelewengan terhadap sosial dan politik seperti, mengabaikan musyawarah dan keadilan sosial, hilangnya kebebasan, kehormatan dan hak asasi manusia, penyerahan suatu urusan kepada yang bukan ahlinya, perampasan kekayaan umat, penyelewengan hasil pemungutan suara dan lain sebagainya.
            Dan semua ini membuat umat pada saat ini sangat memerlukan, bahkan sudah sampai pada batas darurat, terhadap fiqih prioritas yang harus segera dimunculkan, didiskusikan, diperbicangkan dan dijelaskan. Sehingga bisa diterima oleh pemikiran dan hati mereka, juga agar mereka memiliki pandangan yang jelas dan wawasan yang luas untuk melakukan perbuatan yang paling baik.


Sumber: Fiqih Prioritas karya Dr. Yusuf Al Qardhawy

0 komentar:

Share is caring, Silahkan berbagi apa saja di sini.