Lembaga Dakwah Kampus Al-Iqtishod STEI Tazkia

Pengecas Ruhani Pemberi Inspirasi

Artikel

Sahabat bisa dapatkan artikel seputar Islam yang bisa menambah pemahaman kita mengenai Islam.

Audio

Download audio kajian dari asatidz terpercaya agar kita lebih mantap dalam memahami agama ini.

Join Us

Bergabung dengan sahabat lainnya di page facebook, twitter dan instagram untuk update artikel keren dan artwork awesome.

Kisah Abu Dzar Al Ghifary


Di atas bumi di bawah naungan langit ini
Tak ada orang yang lebih jujur katanya
Daripada Abu Dzar
                                                            --- Muhammad saw

Lembah Waddan yang menghubungkan kota Mekah dengan dunia luar dihuni oleh kabilah Ghifar. Kehidupan kabilah ini bergantung pada semacam pungutan yang dikenakan terhadap kafilah-kafilah dagang Quraisy yang hilir mudik dari dan ke Syam. Kadangkala, bila kafilah dagang yang lewat itu tak mau memberi, kabilah Ghifar merampok mereka.
Tersebutlah Jundub ibn Junadah yang lebih terkenal dengan sebutan Abu Dzar. Dia adalah seorang putra Ghifar yang terkemuka karena keberanian, kecerdasan dan wawasan berpikirnya yang luas.
Dada Abu Dzar terasa sesak menyaksikan kaumnya menyembah patung-patung mati. Dia mengecam akidah bangsa Arab yang rusak ini dan selalu berharap-harap akan datangnya seorang nabi baru yang mampu mengisi akal dan hati mereka dengan cahaya kebenaran dan mengeluarkan mereka dari kegelapan.
---
Akhirnya sampai juga di telinga Abu Dzar berita bahwa seorang nabi baru telah muncul di kota Mekah. Dia segera berkata kepada saudaranya, Anis: “Saudaraku, pergilaj ke kota Mekah untuk mencari berita tentang orang yang mengaku sebagai nabi yang menerima wahyu dari langit itu. Dengarlah apa yang diserukannya lalu ceritakan padaku.”
Anis segera berangkat ke Mekah. Di sana dia bisa bertemu Rasulullah dan mendengar seruannya. Setelah itu dia segera pulang dan disosong oleh Abu Dzar dengan berdebar-debar.
Kata Anis, “Demi Allah, aku melihat seseorang mengajak pada keluhuran budi dan akhlak. Kata-kata yang diucapkannya bukanlah syair.”
Abu Dzar bertanya, “Apa yang dikatakan orang-orang tentang dia ?”
“Orang-orang mengatakan bahwa dia tukang sihir dan penyihir.” Jawab Anis.
Kata Abu Dzar, “Demi Allah, penjelasanmu tidak memuaskan. Begini saja, maukah engkau menanggung keluargaku untuk sementara waktu ? Aku ingin menjumpai dan bercakap-cakap dengan nabi itu.”
“Baik. Tapi berhati-hatilah, jaga dirimu dari penduduk kota Mekah.” Pesan Anis.
Abu Dzar segera menyiapkan perbekalan. Dengan membawa qirbah (tempat air terbuat dari kulit binatang) kecil dia berangkat ke Mekah keesokan harinya. Hatinya sudah bulat. Dia harus bertemu dengan nabi itu dan menanyakan tentang apa yang diserukannya.
Singkat cerita, Abu Dzar sampai di kota Mekah. Dia telah banyak mendengar berita tentang keganasan Quraisy terhadap orang-orang yang ingin menjadi pengikut Muhammad. Oleh karena itu dia takut dan tak mau bertanya kepada siapapun tentang Muhammad, sebab dia tak tahu apakah yang ditanyai itu sahabar Muhammad atau justru musuhnya.
Ketika malam tiba Abu Dzar tidur-tiduran di masjid/ kemudia tak lama berselang Ali ibn Abi Thalib berlalu di depan masjid. Dalam sekejap Ali tahu bahwa Abu Dzar adalah pendatang dari luar kota sehingga ia berkata, “Saudara, mari menginap saja di rumahku.”
Jadilah Abu Dzar menginap di rumah Ali malam itu. Pagi harinya dia membawa qirbah dan kantung makanannya untuk kembali ke masjid bersama di tuan rumah. Namun kedua orang  itu tidak saling menanyakan urusannya.
Sampai hari kedua Abu Dzar belu juga mendapatkan keterangan tentang Nabi Muhammad. Maka ketika senja turun dia pergi ke masjid untuk tidur. Seperti kemarin, Ali ibn Abi Thalib melewati masjid, lalu bertanya, “Anda belum pulang ?”
Seperti kemarin pula, malam itu Abu dzar kembali menginap di rumah Ali. Begitupu keduanya tetap tidak saling bertanya atau memperkenalkan diri.
Pada malam yang ketiga, akhirnya Ali bertanya kepada tamunya, “Apa sebenarnya keperluan anda di Mekah ini “
Abu Dzar menjawab dengan hati-hati, “Pertama-pertama, berjanjilah dulu bahwa anda mau memberikan keterangan yang kubutuhkan.”
Setelah Ali memberikan janjinya, baru Abu Dzar berterus terang. “Sebenarnya kedatanganku kemari ini dari suatu tempat yang jauh adalah untuk menjumpai nabi baru itu. Aku ingin mendengar tentang sesuatu yang dia bawa.”
Mendengar itu wajah Ali membiaskan kegembiraan. Ia menuturkan dengan bergairah, “Demi Allah, beliau benar-benar Rasul Allah. Biasanya beliau begini dan begitu. Besok anda bisa ikut aku. Nanti bila ada hal-hal yang terlihat mencurigakan, aku akan berhenti dan pura-pura buang air. Bila aku berjalan lagi, teruslah mengikuti. Daan bila aku memasuki sebuah rumah, masuklah juga.”
Malam itu Abu Dzar tak mampu memicingkan mata sedikitpun karena rasa rindu yang meluap-luap untuk berjumpa dengan nabi dan mendengarkan wahyu Allah.
Pagi harinya mereka berdua berangkat ke rumah Rasulullah. Abu Dzar berjalan agak jauh di belakang Ali. Jalan yang mereka tempuh hanya lurus saja, tidak berbelok kenan ataupun ke kiri, sampai akhirnya memasuki sebuah rumah.
Begitu melihat Nabi saw, Abu Dzar memberi salam, “Assalamu’alaika, ya Rasulullah.”
            Rasulullah menjawab, “Wa’alaikassalamullahi wa rahmatuhu wa barakatuh.”
            Abu Dzar adalah orang orang pertama yang memberikan salah kepada Rasulullah dengan cara demikian. Ucapannya itu kemudian menjadi salam Islam dan ditiru oleh semua muslimin.
            Rasulullah kemudian menyeru Abu Dzar ke dalam Islam. Beliau membacakan dan mengajarinya al Quran. Sebelum meninggalkan tempat itu, Abu Dzar telah mengucapkan kalimat syahadat dan resmi memeluk Islam. Dia menjadi orang keempat atau kelima yang melakukannya.
            Berikut penuturan Abu Dzar:
            “…setelah itu aku tinggal bersama Rasulullah di Mekah. Beliau mengajariku ad-diin (agama) Islam dan membacakan al Quran. Beliau juga berpesan, “Jangan sekali-kali berterang-terangan tentang Islam di kota Mekah ini. Aku khawatir orang-orang akan membunuhnya.””
            Kataku, “Demi jiwaku yang ada di tangan-Nya, saya tidak akan meninggalkan Mekah sebelum pergi ke masjid dan mengumandangkan kebenaran Islam di tengah-tengah masyarakat Quraisy.”
            Rasulullah berdiam diri mendengar kekerasanku.
            Lalu aku pergi ke masjid. Orang-orang Quraisy sedang duduk-duduk sambil mengobrol. Di tengah-tengah mereka aku berdiri dan berteriak sekeras-kerasnya. “Hai orang-orang Quraisy, aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah Rasulullah.”
            Mereka terperanjat dan sedetik kemudian semua bangkit dari duduknya dan menyerbu ke arahku. “Hajar saja orang ini ! Dia telah keluar dari agamanya !” di sana-sini terdengar teriakan.
            Orang-orang telah menghujaniku dengan pukulan-pukulan keras tanpa ampun. Mungkin aku akan tewas kalau saja Abbas ibn Abdulmuthalib tidak segera dating. Dia berusaha melindungiku dan menghardik para pengeroyokku. “Celakalah kalian ! kalian hendak membunuh seorang Ghifar, padahal kafilah kalian harus melewati perkampungan Ghifar ?!”
            Mendengar itu, baru mereka berhenti.
            Setelah siuman, aku pergi menjumpai Rasulullah. Melihat keadaanku, beliau berkata, “Bukankah aku telah melarangmu mengumumkan Islam ?”
            Kataku, “Ya Rasulullah, niat dalam hati saya telah terpenuhi.”
            Beliau berkata lagi, “Pulangkah ke tempat kaummu dan beritahukan apa yang kau lihat dank au dengar di sini. Serulah mereka ke dalam agama Allah. Semoga Dia memberi petunjuk kepada mereka melalui engkau dan memberikan pahala kepadamu. Bila kau dengar posisi Islam dalam masyarakat sudah kokoh, datanglah kembali padaku.”
            Aku pun sesuai dengan perintah Rasulullah. Saudaraku, Anis menyongsong seraya bertanya, “Apa saja yang telah kau lakukan ?”
            “Aku memeluk Islam dan aku mempercayai Rasulullah.”
            Allah membukakan hari Anis sehingga dia berkata, “Aku tidak suka kepada agamaku. Aku menyatakan Islam dan membenarkan dakwah Rasulullah.”
            Kemudian kami berdua menjumpai ibu dan mengajaknya masuk Islam. Dia berkata, “Aku tidak suka kepada agamaku. Aku juga menyatakan Islam.”
---
            Sejak hari itu, keluarga yang beriman ini bergerak memperkenalkan Islam di daerah Ghifar tanpa jemu-jemu sehingga banyak penduduk Ghifar yang masuk Islam. Shalat 5 waktu pun aktif dilakukan di masjid-masjid.
            Segolongan orang berkata, “Sementara ini kita bertahan dalam agama kita. Nanti bila Rasulullah ke kota Madinah baru kita nyatakan keislaman kita-kita di depan beliau.”
            Begitulah. Setelah Rasulullah hijrah ke Madinah, mereka semua menyatakan keislamannya. Beliau berkata, “Ghifar, semoga Allah mengampuni mereka. Aslam, semoga Allah memberi mereka keselamatan.”
---
            Abu Dzar tetap tinggal di dusunnya sampai tercetusnya perang Badar, Uhud dan Khandaq. Sesudah itu dia pergi ke Madinah dan minta izin untuk menyertai Rasulullah dan melayani semua kebutuhan beliau. Sebaliknya, Rasulullah juga mengutamakan dan menghormati Abu Dzar. Setiap kali berjumpa, beliau pasti menjabat tangan Abu Dzar erat-erat sambil tersenyum menunjukan kegembiraan.
            Setelah Rasulullah berpulang ke rahmatullah, Abu Dzar pergi ke Damaskus. Di kota ini dilihatnya betapa kaum muslimin tenggelam dalam kemewahan dan sangat condong pada dunia. Kondisi ini sangat mengejutkan Abu Dzar.
            Suatu kali khalifah Utsman memanggilnya agar kembali ke Madinah. Abu Dzar segera memenuhi panggilan itu. Tapi lagi-lagi dia menjumpai kondisi yang sama. Kini hatinya cemas melihat manusia begitu cenderung kepada dunia. Sebaliknya, orang-orang pun merasa sesak menghadapi kekerasan hati Abu Dzar yang tak bosam-bosannya memeringatkan mereka dengan kata-kata pedas.
            Khalifah kemudian menyarankan agar Abu Dzar bermukim di Arrabdzah, sebuah desa kecil masih di wilayah Madinah. Abu Dzar menyetujuinya dan berangkat dengan segera. Dia hidup dengan harta benda yang berada di tangan orang lain. Berpegang pada cara hidup Rasulullah dan kedua sahabatnya yang mulia. Dia mengutamakan kehidupan akhirat yang kekal daripada kehidupan dunia yang fana.
            Suatu hari seorang lelaki mengunjungi rumah Abu Dzar. Melihat rumahnya kosong melompong, tamu itu bertanya, “Wahai Abu Dzar, di mana gerangan perabot-perabot rumah anda ?”
            Jawab Abu Dzar, “Kita punya rumah di kampong sana (akhirat) sehingga perabot-perabot yang terbaik kukirimkan ke sana.”
            Tamu itu mengerti maksudnya. Katanya lagi, “Tapi anda juga mesti memiliki perabot-perabot selama berada di kampong yang sekarang.”
            “Tapi si empunya rumah tidak mengizinkan kita menetap di rumah yang ini (dunia).” Jawab Abu Dzar.
            Pernah Gubernur Syam mengirimkan uang tiga ratus dinat kepada Abu Dzar disertai ucapam. “Pergunakanlah uang itu untuk kebutuhan anda.”
            Abu Dzar mengembalikan seluruhnya seraya berkata, “Apakah tuan Gubernur tidak menemukan soerang pun yang lebih miskin dari saya ?”
---
            Pada tahun 32 H, malaikat maut telah menjemput seorang zuhud yang tekun beribadah, yang oleh Rasulullah pernah disebut, “Tidak ada di atas bumi dan di bawah naungan langit orang yang lebih jujur daripada Abu Dzar.”

Sumber: Buku terjemahan Shuwar min Hayat ash Shahabat, "Sosok Para Sahabat Nabi" karya DR. Abdurrahman Raf'at al Basya

0 komentar:

Share is caring, Silahkan berbagi apa saja di sini.