Lembaga Dakwah Kampus Al-Iqtishod STEI Tazkia

Pengecas Ruhani Pemberi Inspirasi

Artikel

Sahabat bisa dapatkan artikel seputar Islam yang bisa menambah pemahaman kita mengenai Islam.

Audio

Download audio kajian dari asatidz terpercaya agar kita lebih mantap dalam memahami agama ini.

Join Us

Bergabung dengan sahabat lainnya di page facebook, twitter dan instagram untuk update artikel keren dan artwork awesome.

Melintas Batas: Bertahan di Tengah Modernitas

Bismillahirrahmanirrahim

Maha suci Allah yang telah memperjalankan hamba dari Sentul City ke Rangkasbitung yang dilanjutkan kembali menuju daerah pemukiman tempat Suku Baduy luar tinggal, Cijahe. Perjalanan pertama berkunjung ke pedalaman, bukan sekedar jalan-jalan biasa, namun perjalanan yang membawa misi mulia.

Kisah ini berawal dari informasi yang aku terima melalui kotak masuk e-mail Lembaga Dakwah Kampus (LDK) Al Iqtishod STEI Tazkia. Tepatnya pada tanggal 24 Januari 2016, aku berniat merapihkan laman e-mail LDK yang dipenuhi dengan ribuan e-mail yang masuk. Setelah memasukan akun identitas beserta kata sandinya, mataku langsung tertuju pada baris pertama e-mail masuk tertanggal 24 Januari 2016. E-mail itu berasal dari Corps Dai Dompet Dhuafa (Cordofa) yang berisikan informasi undangan dari Cordofa kepada LDK Al Iqtishod untuk mengikuti program Cordofa Leadership Camp (CLC) yang akan di adakan mulai dari tanggal 1 sampai dengan 5 Februari 2016 bertempat di daerah Suku Baduy, Banten.

Dengan penuh semangat ku unduh semua lembaran file yang dilampirkan dan membacanya satu per satu. Aku cukup terkejut saat mengetahui pendaftaran akan ditutup di hari yang sama dengan hari kudapatkan informasi ini. Maka aku pun bergegas menyebarkan informasi ini ke teman-teman LDK dan menanyakan kesediaan mereka untuk ikut serta dalam program tersebut. Alhamdulillah, teman-teman meresponnya dengan cepat meski sedang menikmati hari libur dan mendapatkan empat nama yang menyatakan siap untuk turut serta. Selain diriku, tiga di antaranya bernama Annisa Zahratan Najwa, Fuji Maulida Kota Ien dan Fami al Hadi. Setelah itu aku segera mendaftarkan diri beserta tiga nama lainnya dan menunggu apa yang Allah akan tentukan selanjutnya.

Matahari mulai mencondongkan dirinya ke ufuk barat. Semilir angin masuk melalui celah-celah jendela, menghelai lembut lembaran rambut yang basah. Segar. Beberapa hewan malam mulai menampakkan dirinya dan berpadu suara menghasilkan lantunan melodi yang syahdu. Waktu menunjukan hanya tinggal 10 menit sebelum memasuki waktu maghrib. Usai membersihkan diri dan bersuci, ku raih handphone nokia jadulku yang sangat bersejarah dan memeriksa kotak sms. Nihil, tidak ada balasan sms yang masuk dari Cordofa. Sepertinya kuota peserta sudah terpenuhi dan Allah lebih meridhoi diriku dan teman-teman untuk mengikuti aktifitas yang lain, hiburku pada diri sendiri.

Selepas sholat Maghrib, terdengar nada dering tanda sms masuk dari hp nokiaku. Aku tidak merasa bahwa itu adalah sms balasan dari Cordofa, karena sebelumnya aku sudah berpikir bahwa kami tidak bisa mengikuti program itu meskipun masih ada sedikit pengharapan dalam hati. Allah selalu punya cara untuk membuat hamba-Nya merasa senang sampai nyengir-nyengir kuda. Alhamdulillah ternyata itu adalah sms dari Cordofa yang menyatakan bahwa kami sudah terdaftar dan meminta kami untuk mengikuti technical meeting di kantor Cordofa yang bertempat di Ciputat, Tanggerang keesokan harinya.

Pada tanggal 25 Januari 2016, hanya aku dan Annisa yang dapat menghadiri technical meeting. Saat itu Fuji sedang dalam kondisi tubuh yang tidak sehat, sedangkan Fahmi sudah memiliki janji lain di waktu yang sama. Technical Meeting dimulai pukul 13.00 WIB maka aku dan Annisa sepakat untuk berangkat di jam 11.00 WIB dari Kota Bekasi. Alhamdulillah kami tiba di lokasi lebih kurang pukul 14.00 WIB. Techmeet di akhiri dengan foto bersama usai menunaikan sholat Ashar. Sepulang dari sana, kami segera menyampaikan kepada Fuji dan Fahmi terkait hal-hal yang harus dipersiapkan selama camp.

Hari pun berlalu, berbagai persiapan telah kami lakukan, dari peralatan, kesehatan sampai teknis keberangkatan menuju stasiun Pondok Ranji yang menjadi meeting point kami serta teman-teman dari 12 LDK se-Jabodetabek dan Banten. Hidup tidak akan asik jika tidak ada masalah. Karena dengan adanya masalah kita tahu bahwa kita hidup. H-3 dari waktu keberangkatan, Fahmi memutuskan untuk membatalkan dirinya mengikuti program CLC. Mendengar kabar tersebut, aku langsung menghubungi pihak Cordofa dan menyampaikan kabar ini. Awalnya mereka kecewa dengan kami karena tiba-tiba membatalkan diri, namun Alhamdulillah setelah diberi penjelasan alasan Fahmi mengundurkan diri, mereka pun memaklumi dan mencoba mencari seorang pengganti dari LDK lain.

Tidak mau mengulangi kejadian yang sama, aku langsung menghubungi Annisa dan Fuji via chat. Menanyakan kembali kesanggupan mereka untuk meneruskan mengikuti CLC dan mengingat Fuji yang sedang tidak sehat, aku juga memastikan kondisi kesehatan mereka berdua.

Masalah lain datang dari teknis keberangkatan. Semula kami berencana untuk pergi menuju stasiun Pondok Ranji menggunakan motor, akan tetapi Allah berkehendak bahwa Annisa maupun Fuji tidak bisa membawa motor mereka. Karena sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan dan sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Begitulah yang tertulis dalam surat Al Insyirah ayat 5-6. Dan dengan Asma Allah yang Maha Berkuasa, Maha Pengasih, Maha Mengetahui dan Allah-lah yang Maha Memudahkan, Alhamdulillah Allah turunkan rahmat-Nya dengan menghadirkan teman kami yang bersedia mengantarkan kami menuju stasiun Pondok Ranji menggunakan mobil.

Inilah Hidup dalam Dakwah

Sebelum keberangkatan menuju suku Baduy, aku memang sudah mempersiapkan dan meyakinkan diri bahwa di sana aku akan hidup di bawah kata biasa. Setibanya di sana, peserta di pecah menjadi 10 kelompok yang terdiri dari 5 kelompok ikhwan dan 5 kelompok akhwat. Tidak ada waktu untuk istirahat. Itulah yang ditanamkan pada kami oleh para panitia, meskipun hal ini disamarkan dengan menggunakan penggalan dari ayat ke 16 surat As Sajdah, “…Lambung mereka jauh dari tempat tidur…”. Maka usai pemecahan kelompok, masih dalam kondisi lelah karena menempuh lebih dari dua jam perjalanan dari stasiun Rangkasbitung menuju kampung Baduy luar, kami mendirikan tenda pleton yang dapat menampung lebih dari 70 orang beserta barang bawaan hanya dengan waktu 15 menit.

Hari pertama, aku dan kelompokku mendapat tugas memasak untuk hari kedua dan jaga malam di malam pertama kami. Kegiatan di hari pertama berakhir pada jam 22.00 WIB. Selain kami, semua peserta di arahkan untuk tidur dan akan dibangunkan pada pukul 03.30 WIB. Dengan tim yang terdiri dari delapan orang, kami membagi tugas dengan memecah kembali menjadi dua kelompok yang berisikan empat orang di setiap kelompok, kelompok jaga malam dan kelompok masak. Aku dan teman-teman yang masuk ke dalam kelompok jaga malam bergegas keluar tenda untuk mulai berkeliling, sedangkan kelompok masak beristirahat agar dapat mulai memasak pukul 02.00 WIB.

Malam itu, angin terasa lebih kencang dari sebelumnya. Menyebabkan gesekan antara dedaunan pohon yang cukup untuk memecah kesunyian. Sambil berkeliling menyusuri medan perkemahan yang berbatu dan berbukit, kami menghangatkan dinginnya malam dengan berbagi cerita. Kami cukup terlena dengan cerita masing-masing, hingga kami hampir tidak menyadari ada dua anjing yang memantau kami. Gelapnya malam sukses menyamarkan keberadaan anjing-anjing tersebut yang memiliki warna kulit gelap. Merasa di pandangi, kami membalas dengan menghampiri kedua anjing itu. Alhamdulillah kedua anjing itu mundur dan beranjak pergi. Akan tetapi, kepergian anjing tersebut malah menambah masalah. Ada satu lagi anjing yang mencoba memasuki tenda yang menjadi tempat beristirahat akhwat. Bergegas kami memecah diri menjadi dua kelompok kecil. Aku dan tyas menjadi kelompok yang berjaga di daerah tenda akhwat.

Tiba di depan tenda akhwat, alhamdulillah anjing tersebut sudah pergi dan kami pun menggelar matras untuk membuat tempat duduk di sana. Waktu menunjukan pukul 00.00 WIB. Rupanya seluruh panitia masih belum beristirahat. Tempat peristirahatan panitia yang dekat dengan tenda akhwat masih menyala terang. Para panitia masih sibuk mengevaluasi jalannya agenda di hari pertama. Kami mendengarkan dengan seksama perbincangan mereka, menjadikan kami penguping dadakan. Cukup panas diskusi mereka. Namun, setiap perbedaan pendapat yang mereka lontarkan selalu mengarah ke dalam satu hal yang sama, setiap pendakwah harus bisa merasakan kondisi terburuk dari setiap target dakwah mereka, bahkan jika harus benar-benar menguras tenaga dan pikiran mereka. Ya, mereka berusaha membentuk kami menjadi pribadi dai yang militan. Panitia berdiskusi sampai jam 02.00 WIB. Dan sepertinya doa serta harapan mereka terkabul. Karena dalam prosesnya, peserta camp memakan makanan dengan kualitas di bawah kata biasa, meskipun makanan itu adalah buatan peserta sendiri. Fisik yang lelah dengan latihan fisik, menyusuri medan perkemahan yang naik turun setiap saat, jauhnya jarak menuju tempat MCK, hanya dapat mandi sekali dalam lima hari, kajian dan diskusi yang rutin sepanjang hari, ibadah sunnah menjadi seperti wajib karena jika ditinggal akan mendapat hukuman binding atau skotjam 30 kali per ibadah sunnah yang ditinggalkan dan lain sebagainya.

Mengenal Cinta, Kepedulian dan Kebersamaan

Dalam program camp ini, kami mulai memahami bahwa kami menyadari kami belum mengerti apa itu cinta, peduli dan bersama. Kami merasa malu pada tafsiran kami sebelumnya terhadap ketiga kata itu, di saat kami benar-benar belum merasakan dan melihatnya secara langsung. Selama camp berlangsung, dengan ikatan lelah dan peluh kami mendapati bahwa kami tidak bisa hidup tanpa bantuan orang lain. Kami juga tidak bisa hidup jika tidak bisa membantu orang lain. Karena kami mulai merasa bahwa setiap diri kami sudah terlebur dalam satu jiwa, satu semangat.

Di hari pertama, tepatnya di malam aku bertugas melakukan jaga malam. Bumi perkemahan kami diguyur hujan yang lebat. Sejenak kami dilanda bingung bagaimana mengatasi hal ini. Dengan menggunakan HT kami menghubungi teman kami yang berjaga di sekitar tenda ikhwan. Di sana mengabarkan bahwa tenda ikhwan sudah kebanjiran dan semua peserta ikhwan sudah terbangun. Aku dan tyas teringat bahwa kami belum terpikirkan untuk membuat parit di tenda ikhwan. Saatku lihat di tenda akhwat, rupanya mereka juga begitu. Menyadari panitia masih asik berdiskusi, kami tidak ingin mengganggu mereka. Akhirnya kami pergi ke sisi belakang tenda akhwat dan mengambil kapak, golok dan sekop kecil untuk membuat parit. Kami berusaha semaksimal mungkin untuk membuat parit dengan cepat yang mengitari tenda akhwat sebelum air memasuki tenda mereka. Cukup sulit untuk membuatnya, karena ada banyak akar pohon yang ada di bawah tanah sekitar tenda akhwat. Namun, aku dan tyas sepakat untuk tetap berusaha menyelesaikannya. Kami sudah tidak lagi melihat apakah mereka ikhwan atau akhwat. Yang kami tau, mereka yang ada di dalam tenda akhwat adalah keluarga kami. Alhamdulillah Allah menurunkan bantuan tenaga berupa dua orang yang berasal dari suku baduy dalam untuk membantu kami membuat parit. Meskipun awalnya kedua orang baduy dalam itu bingung kenapa kita membuat parit. Dan satu hal yang menjadikan kami juga bingung adalah kenapa dengan kondisi hujan yang lebat, angin yang menderu kencang serta suara kami membuat parit, keluarga kami yang akhwat ini tidak terbangunkan ? sungguh hebat.

Mengenal Kehidupan Suku Baduy

Orang Kanekes atau orang Baduy adalah suatu kelompok masyarakat adat Sunda di wilayah Kabupaten Lebak, Banten. Sebutan "Baduy" merupakan sebutan yang diberikan oleh penduduk luar kepada kelompok masyarakat tersebut, berawal dari sebutan para peneliti Belanda yang agaknya mempersamakan mereka dengan kelompok Arab Badawi yang merupakan masyarakat yang berpindah-pindah (nomaden). Kemungkinan lain adalah karena adanya Sungai Baduy dan Gunung Baduy yang ada di bagian utara dari wilayah tersebut.

Di hari ketiga kami, atas usulan para peserta, panitia mengarahkan kami untuk bertandang ke rumah-rumah warga suku baduy luar. Kami dianjurkan untuk beramah-tamah dengan mereka, berbagi salam dan saling bertanya tentang kondisi masing-masing. Kami mendapatkan kesempatan untuk mendatangi kediaman bapak Jahardi. Beliau termasuk warga yang mengenal dekat kepala suku atau pu’un suku baduy dalam. Darinya kami mengetahui bahwa suku baduy dalam mengenal Islam dan beberapa mengaku beragama Islam, hanya saja mereka tidak melakukan sholat. Kami juga mengetahui bahwa suku baduy dalam sangat menjaga alam, dibuktikan dengan area tempat tinggal yang tidak ada sampah berserakan, bangunan rumah yang terbuat dari bamboo dengan atau serabut kayu. Suku baduy dalam cenderung pendiam, tapi jika kita mencoba bertegur sapa dengan mereka, orang-orang suku baduy dalam akan menjadi sangat ramah dan murah senyum. Dalam kesehariannya, suku baduy dalam tidak pernah menggunakan alas kaki, belakangan kami mengetahui bahwa itu dilakukan sebagai salah satu bentuk penyatuan mereka dengan alam. Suku baduy terbagi menjadi dua, yakni suku baduy dalam dan luar. Suku baduy dalam adalah orang-orang yang masih memegang prinsip leluhur sedangkan suku baduy luar sudah mulai menerima pola hidup dunia luar. Seperti adanya listrik, alat elektronik, rumah yang terbuat dari bata dan lain-lain. Suku baduy dalam akan menjadi suku baduy luar dalam arti dikeluarkan dapat dengan cara melanggar aturan leluhur mereka atau menikah dengan suku baduy luar. Suku baduy dalam lebih cenderung menggunakan lilin untuk penerangan malam. Ciri yang menjadi khas untuk membedakan kedua suku ini adalah suku baduy dalam hanya mereka pakaian yang berwarna hitam dan putih. Dan pada kepalanya diikat oleh kain berwarna putih. Sedangkan suku baduy luar sudah mengenakan celana jins, pakaian berbagai macam warna dan dikepalanya diikat kain becorak batik.

Lihatlah pada apa yang diucapkan, bukan lihat pada siapa yang mengucapkan. Lima hari hidup berdampingan dengan suku baduy, membuat kami menyadari satu hal yaitu ketaatan suku baduy pada ajaran nenek moyang yang mereka percaya. “Pakaian hitam dan putih itu amanah dari nenek moyang , itu wajib. Kami harus taat pada aturan, begitu juga dengan rumah dan perabotan juga harus sama.” ujarnya dengan bahasa dialek Sunda-Banten.

Bagi masyarakat baduy dalam yang menganut kepercayaan Sunda Wiwitan, amanah leluhur adalah segala-galanya. Dalam beberapa aturannya, setiap rumah hanya diperbolehkan menghadap utara dan selatan, tidak ada perbedaan bentuk rumah maupun perabotan rumah yang digunakan setiap keluarga baduy dalam. Sulit membedakan strata sosial ataupun tingkat kekayaan warga baduy dalam. Karena kaya atau miskinnya dilihat dari jumlah lumbung padi yang diletakkan cukup jauh dari wilayah perkampungan. Menurut bapak Jahardi, padi yang di simpan dalam lumbung tersebut dapat bertahan hingga ratusan tahun. Dan pada saat kawalu, suku baduy dalam membuat sesembahan dari padi yang mereka simpan.

Saat tumbuh dewasa, anak-anak baduy yang telah berusia 18-20 tahun akan dinikahkan. Mereka dijodohkan oleh orang tua mereka dengan sesame wagra baduy dalam untuk menghindari sanksi diasingkan secara adat.

“Yang menikahkan itu pu’un, proses sejak lamaran sampai pesta pernikahan bisa sampai satu tahun. Setelah menikah mereka tidak boleh bercerai. Kalau bercerai mereka bisa diasingkan.” ujarnya.

Lalu, bagaimana dengan sikap kami terhadap ajaran dan aturan terhadap agama Islam yang kami anut dan percayai ?

Long March

Hari kelima adalah hari terakhir yang sangat kami damba-dambakan. Walau sesungguhnya kami sudah merasa nyaman tinggal dengan kondisi alam dan pola hidup keras seperti hari-hari sebelumnya. Hari ini adalah hari kami akan menempuh perjalanan pulang. Perjalanan ini merupakan lanjutan dari perjalanan yang sudah kami lakukan di sore hari keempat. Hanya saja kami menginap terlebih dahulu di rumah-rumah suku baduy luar. Dan seperti yang pernah aku beritahukan, mereka sangat ramah, padahal kami belum pernah saling mengenal sebelumnya. Kedua orang suami istri muda yang rumahnya kami tempati contohnya, mereka berdua tidak mau makan sebelum kami semua mulai makan. Sehingga membuat kami saling dorong-dorongan siapa yang akan memulai terlebih dahulu.

Perjalanan di hari kelima dilanjutkan pada pukul 08.00 WIB. Total jarak tempuh perjalanan hari ini jika ditarik garis lurus adalah 3 jam. Long march ini adalah inti dari semua pelatihan dan pelajaran yang kami dapati selama program camp. Dari perjalanan ini, akan diketahui bagaimana jiwa kepemimpinan dalam diri kami. Bagaimana mengeluarkan solusi dari setiap masalah yang kami temui selama perjalanan. Bagaimana memposisikan diri untuk kepentingan sendiri dengan kelompok dan masih banyak lagi. Karena bagaimanapun jalur yang kami lalui lebih banyak tebing dan jurang. Sehingga menuntut untuk saling menjaga satu dengan yang lain. Sebagaimana para pendaki gunung, saat melakukan pendakian. Yang seharusnya dilakukan adalah bukan siapa yang lebih cepat sampai di garis akhir. Akan tetapi bagaimana caranya agar semua bisa sampai di garis akhir bersama-sama. Kami pun menyelaraskan kecepatan laju kami dengan yang terlemah di antara kami dari sisi stamina.
Demikianlah perjalananku selama melatih diri mempersiapkan bekal dalam berdakwah yang penuh suka dan tangis. Selain ilmu yang kami dapat selama camp, sejumlah hal berhasil kami raih. Di antaranya adalah hubungan keluarga yang baik dengan masyarakat suku baduy dalam dan luar, keluarga baru dari 12 LDK se-Jabodetak dan Banten serta keluarga Cordofa. Kami juga mengikat kesepakatan untuk terus bersaudara dan menjadi mitra satu sama lain.


Hingga tibalah saatnya meninggalkan Banten untuk pulang pada tanggal 5 Februari 2016. Bertemu kembali dengan keluarga tercinta, melepas rindu pada keluarga dan makanan ibu setelah 5 hari merantau ke kampong orang. Sebuah pengalaman sangat berharga dan menjadi bekal untuk tugas dakwah selanjutnya, Insya Allah.


0 komentar:

Share is caring, Silahkan berbagi apa saja di sini.