Lembaga Dakwah Kampus Al-Iqtishod STEI Tazkia

Pengecas Ruhani Pemberi Inspirasi

Artikel

Sahabat bisa dapatkan artikel seputar Islam yang bisa menambah pemahaman kita mengenai Islam.

Audio

Download audio kajian dari asatidz terpercaya agar kita lebih mantap dalam memahami agama ini.

Join Us

Bergabung dengan sahabat lainnya di page facebook, twitter dan instagram untuk update artikel keren dan artwork awesome.

Mengenal Lebih Dekat dengan Hari Kasih Sayang

Bismillahirrahmanirrahim

Siapa yang tidak kenal dengan Hari Kasih Sayang atau yang dalam bahasa Inggris disebut dengan nama Valentine’s Day ?

Umumnya masyarakat dunia pasti sangat familiar dengan momen yang dikeramatkan pada setiap tanggal 14 Februari ini, terkhusus bagi kalangan anak muda yang kerap kali menjadikan hari ini sebagai hari yang tepat untuk menyatakan rasa sayang atau cinta pada pria/wanita yang ia idam-idamkan.

Ada banyak sumber yang menceritakan asal mula terciptanya hari ‘spesial’ tersebut. Dan sumber-sumber tersebut juga menceritakan kisah ini dengan alur cerita yang berbeda-beda. Akan tetapi dari semua kisah itu, satu hal yang disepakati adalah bahwa Hari Kasih Sayang memiliki keterkaitan dengan dewa-dewa.

Melalui tulisan ini, saya akan melampirkan ulasan sejarah hari kasih sayang berdasarkan versi Romawi dan Yunani.

Bersumber dari rumaysho.com, peristiwa sejarah ini dimulai ketika dahulu kala bangsa Romawi memperingati suatu hari besar setiap tanggal 15 Februari yang dinamakan Lupercalia. Perayaan Lupercalia adalah rangkaian upacara pensucian di masa Romawi Kuno (13-18 Februari). Dua hari pertama, dipersembahkan untuk dewi cinta (queen of feverish love) Juno Februata. Pada hari ini, para pemuda mengundi nama–nama gadis di dalam kotak. Lalu setiap pemuda mengambil nama secara acak dan gadis yang namanya keluar harus menjadi pasangannya selama setahun untuk senang-senang dan dijadikan obyek hiburan. Pada 15 Februari, mereka meminta perlindungan dewa Lupercalia dari gangguan serigala. Selama upacara ini, kaum muda melecut orang dengan kulit binatang dan wanita berebut untuk dilecut karena anggapan lecutan itu akan membuat mereka menjadi lebih subur.

Ketika agama Kristen Katolik menjadi agama negara di Roma, penguasa Romawi dan para tokoh agama katolik Roma mengadopsi upacara ini dan mewarnainya dengan nuansa Kristiani, antara lain mengganti nama-nama gadis dengan nama-nama Paus atau Pastor. Di antara pendukungnya adalah Kaisar Konstantine dan Paus Gregory I (The Encyclopedia Britannica, sub judul: Christianity). Agar lebih mendekatkan lagi pada ajaran Kristen, pada 496 M Paus Gelasius I menjadikan upacara Romawi Kuno ini menjadi Hari Perayaan Gereja dengan nama Saint Valentine’s Day untuk menghormati St. Valentine yang kebetulan mati pada 14 Februari (The World Book Encyclopedia 1998).

Kisah versi lainnya, bersumber pada islampos.com, Sejarahwan menyebutkan bahwa titik awal Valentine day berasal dari era Yunano Kuno, dimana menurut kalender Yunani kuno, pertengahan bulan Februari adalah hari penghormatan terhadap pernikahan dewa mereka, Dewa Zeus dengan Hera. Itulah mengapa pada pertengahan Februari selalu dilakukan pesta pora memeriahkan hari kasih sayang para dewa mereka.

Sejarah terus bergulir, sampai pada masa masa keemasan agama Katolik di Eropa, saat Paus Gelasius I, pada tahun 496 menetapkan tanggal 14 Februari sebagai hari untuk mengenang jasa-jasa santo Valentinus, walau disebutkan bahwa Paus Gelasius I tidak mengetahui martir bernama santo Valentinus.

Untuk memperkuat legenda Santo Valentinus ini, tulang belulang dari makam Santo Hyppolytus yang berlokasi di Tibertinus dekat Roma, disebutkan sebagai kerangka jenazah St. Valentinus. Kemudian kerangka itu dimasukkan dalam peti terbuat dari emas dan ditempatkan di gereja Whitefriar Street Carmelite Church di Dublin, Irlandia oleh Paus Gregorius XVI pada tahun 1836. Hingga sekarang, peti jenasah terbuat dari emas yang berisikan kerangka itu setiap tanggal 14 Februari selalu banyak diziarahi oleh pemujanya, kemudian diadakan misa khusus untuk memberkati para muda-mudi yang tengah mabuk asmara.

Legenda Santo Valentinus yang mengusung perayaan hari Valentine Day dihapus dari kalender gerejawi pada tahun 1969 dalam rangka menghapuskan santo-santo gadungan yang tidak dikenal asal-usulnya.

Namun kata “Valentine Day” sendiri baru tersebutkan secara tertulis pada abad pertengahan (sekitar abad 14) lewat karya sastra Geoffrey Chaucer pada abad ke-14 yang berjudul Parlement of Foules (Percakapan Burung-Burung), berikut ini kutipannya :

“For this was sent on Seynt Valentyne’s day
When every foul cometh there to choose his mate.”


Pada era itu, setiap tanggal 14, pasangan-pasangan kekasih saling menukarkan catatan atau surat-surat cinta, dan menyebut pasangannya sebagai “My Valentine”.

Demikian ulasan dua versi kisah asal muasal terciptanya Hari Kasih Sayang. Semoga dapat bermanfaat, menjadi bahan pertimbangan sebelum melakukan suatu perbuatan yang digemari dan dilakukan oleh orang-orang non muslim serta menjadi bahas muhasabah saat sudah melakukannya. Wallahu a'lam.


0 komentar:

Share is caring, Silahkan berbagi apa saja di sini.