Lembaga Dakwah Kampus Al-Iqtishod STEI Tazkia

Pengecas Ruhani Pemberi Inspirasi

Artikel

Sahabat bisa dapatkan artikel seputar Islam yang bisa menambah pemahaman kita mengenai Islam.

Audio

Download audio kajian dari asatidz terpercaya agar kita lebih mantap dalam memahami agama ini.

Join Us

Bergabung dengan sahabat lainnya di page facebook, twitter dan instagram untuk update artikel keren dan artwork awesome.

Menjaga Sunnah Pentahapan (Marhalah) dalam Dakwah

Bismillahirrahmanirrahim

Dalam melakukan pengambilan tindakan yang mudah juga sangat dianjurkan untuk menjaga sunnah pentahapan dalam melakukan dakwah. Sebagaimana yang berlaku dalam sunnatullah pada makhluk-Nya dan pada perintah-Nya dan juga yang berlaku di dalam penetapan hukum Islam yang berkaitan dengan shalat, puasa dan ibadah-ibadah yang lainnya, serta pengharaman hal-hal yang diharamkan.
Contoh aling jelas yang kita ketahui bersama ialah pengharaman khamar, yang menetapkann hukumnya dilakukan secara bertahap.

Ada kemungkinan bahwa karena ada pentahapan yang berlaku di dalam penetapan hukum tersebut, maka Islam tetap melanjutkan “system perbudakan” yang tidak dihapuskan sama sekali, sebab bila sistem yang berlaku di seluruh dunia pada masa kemunculan Islam dihilangkan sama sekali, maka akan mengguncangkan kehidupan sosial dan ekonomi. Dan oleh karena itu, Islam mempersempit ruang geraksistem ini dan menyingkirkan segala hal yang dapat menimbulkannya sejauh mungkin. Tindakan seperti ini dapat dikatakan sebagai penghapusan system perbudakan secara bertahap.

Sunnah Ilahi berupa pentahapan ini harus kita ikuti dalam mendidik manusia ketika hendak menerapkan system Islam dalam kehidupan manusia pada zaman inim setelah berakhirnya periode perang pendidikan, syariat, dan sosial dalam kehidupan Islam.

Kalau kita hendak mendirikan “masyarakat Islam yang hakiki”, maka kita jangan berangan-angan bahwa hal itu akan dapat terwujud hanya dengan tulisan atau dikeluarkannya keputusaan dari seorang raja, presiden atau ketetapan dewan perwakilan rakyat (parlemen).

Pendirian masyarakat Islam akan terwujud melalui usaha secara bertahap, yakni dengan mempersiapkan rancangan pemikiran, kejiwaan, moralitas, dan masyarakat itu sendiri serta menciptakan hukum alternatif sebagai ganti hukum lama yang berlaku pada kondisi tidak benar yang telah berlangsung lama.

Pentahapan ini tidak berarti hanya sekedar mengulur-ngulur dan menunda pelaksanaannya, serta mempergunakan pentahapan sebagai ‘racun’ untuk mematikan pemikiran masyarakat yang terus-menerus hendak menjalankannya hukum Allah dan menerapkan syari’at-Nya. Tetapi pentahapan ini ialah penetapan tujuan, pembuatan perencanaan, dan periodisasi dengan kesadaran dan kejujuran, dimana setiap periode merupakan landasan bagi periode berikutnya secara terencana dan teratur, sehingga perjalanan itu dapat sampai kepada tujuan akhirnya, yaitu berdirinya masyarakat Islam yang menyeluruh.

Begitulah metode yang dilakukan leh Nabi Muhammad saw untuk mengubah kehidupan masyarakat jahiliyah kepada kehidupan masyarakat Islam.

Di antara tindakan seperti itu dan telah menampakkan hasilnya ialah apa yang diriwayatkan oleh para ahli sejarah tentang kehidupan Umar bin Abdul Aziz, yang oleh ulama kaum Muslimin dikatakan sebagai ‘khalifah rasyidin yang kelima” atau Umar kedua. Karena dia meniti jalan yang pernah diterapkan oleh datuknya, al Faruq Umar bin Khattab: bahwasannya anaknya, Abd al Malik –yang pada saat itu masih mudah, bertakwa dan memiliki semangat yang menggelora- berkata kepada ayahnya, “Wahai ayah, mengapa berbagai hal tidak engkau laksanakan secara langsung ? Demi Allah, aku tidak peduli bila periuk mendidih yang disiapkan untukku dan untukmu dalam melakukan kebenaran.”

Pemuda penuh gairah ini menginginkan ayahnya –yang telah diangkat oleh Allah swt intuk memimpin kaum Muslimin- agar menyingkirkan berbagai bentuk kezaliman, kerusakan dan penyimpangan sekaligus, tanpa harus menunggu-nunggu lagi, kemudian tinggal menunggu apa yang terjadi.

Akan tetapi ayahnya yang bijak menjawab pertanyaan anaknya, “Janganlah tergesa-gesa wahai anakku, karena sesungguhnya Allah swt mencela khamar dalam al Quran sebanyak dua kali, kemudian mengharamkannya pada kali yang ketiga. Dan sesungguhnya aku khawatir bila aku membawa kebenaran atas manusia secara sekaligus, maka mereka juga akan meninggalkannya secara sekaligus. Kemudian tercipta orang-orang yang memiliki fitnah.”

Khalifah yang bijak ingin menyelesaikan pelbagai masalah manusia dengan bijak dan bertahap, berdasarkan petunjuk sunnah Allah swt ketika Dia mengharamkan khamar. Dia menurunkan kebenaran sedikit demi sedikit, kemudian membawa jalan hidup kepada mereka selangkah demi selangkah. Dan memang beginilah fiqih yang sahih.


Sumber: Buku terjemahan dari “Fi Fiqhil Aulawiyat, Dirosah Jadiidah fii Dhou’il Qur’ani was Sunnah” karya Dr. Yusuf Qardhawi. “Fiqih Prioritas, Sebuah Kajian Baru Berdasarkan al Qur’an dan as Sunnah” penerjemah: Bahruddin F, Bab: Prioritas Dalam Bidang Fatwa Dan Dakwah.


0 komentar:

Share is caring, Silahkan berbagi apa saja di sini.