Lembaga Dakwah Kampus Al-Iqtishod STEI Tazkia

Pengecas Ruhani Pemberi Inspirasi

Artikel

Sahabat bisa dapatkan artikel seputar Islam yang bisa menambah pemahaman kita mengenai Islam.

Audio

Download audio kajian dari asatidz terpercaya agar kita lebih mantap dalam memahami agama ini.

Join Us

Bergabung dengan sahabat lainnya di page facebook, twitter dan instagram untuk update artikel keren dan artwork awesome.

Tsiqoh - Kepercayaan


Bismillahirrahmanirrahim

Hal yang saya maksudkan dengan tsiqah (kepercayaan) adalah rasa puasnya seorang tentara atas komandannya dalam hal kapasitas kepemimpinannya maupun keikhlasannya, serta dengan kepuasan mendalam yang menghasilkan perasaan cinta, penghargaan, penghormatan, dan ketaatan. – Hassan al Banna

"Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu (Muhammad) hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka suatu keberatan terhadap sesuatu keputusan yang kamu berikan dan mereka menerima dengan sepenuhnya."
[QS. An Nisa: 65]

Pemimpin adalah unsur penting dakwah. Tidak ada dakwah tanpa kepemimpinan. Kadar kepercayaan- yang timbal balik- antara pemimpin dan pasukan menjadi neraca yang menentukan sejauh mana kekuatan system jamaah, ketahanan khithahnya, keberhasilannya mewujudkan tujuan dan ketegarannya menghadapi berbagai tantangan.

“Maka lebih utama bagi mereka ketaatan dan perkataan yang baik.”

Kepemimpinan menduduki posisi orang tua dalam hal ikatan hati, posisi guru dalam hal fungsi kepengajaran, posisi syaikh dalam aspek pendidikan ruhani dan posisi pemimpin dalam aspek penentuan kebijakan politik secara umum bagi dakwah. Dan tsiqah kepada kepemimpinan adalah segala-galanya bagi keberhasilan dakwah.

Wahai saudaraku yang kucintai…!

Untuk dapat mengetahui sejauh mana kepercayaan diri terhadap kepemimpinan yang ada, baiknya kita bertanya kepada diri tentang hal-hal berikut:
  1. Apakah sejak awal kita telah mengenal pemimpin kita; apakah pernah mempelajari riwayat hidupnya ?
  2. Apakah kita percaya kepada kapasitas dan keikhlasannya ?
  3. Apakah kita siap menganggap semua instruksi –yang diputuskan oleh pemimpin kita, tanpa maksiat tentu- sebagai instruksi yang haris dilaksanakan tanpa reserve, tanpa ragu, tanpa ditambah atau dikurangi, dengan keberanian memberikan nasihat dan peringatan untuk tujuan yang benar ?
  4. Apakah kita siap untuk meletakkan seluruh aktivitas kehidupan kita dalam kendali dakwah ? apakah dalam pandangan kita, pemimpin berhak untuk menarjih (menimbang dan memutuskan) antara kemaslahatan diri kita dan kemaslahatan dakwah secara umum ?

Dengan jawaban yang di sampaikan atas pertanyaan-pertanyaan tersebut atau yang semacamnya, kita dapat mengetahui sejauh mana kadar ikatan dan kepercayaan kita terhadap pemimpin. Adapun hati, ia berada di genggaman Allah.

“Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”
[QS. Al Anfal: 63]

Wahai saudaraku yang kucintai…!

Imanmu kepada bai’at ini mengharuskan kita untuk menunaikan kewajiban-kewajiban berikut, sehingga kita mampu menjadi “batu bata” yang kuat bagi bangunan.
  1. Hendaklah kita memiliki wirid harian dan membaca Kitabullah tidak kurang dari satu juz
  2. Hendaklah kita membaca Al Quran dengan baik, memperhatikannya dengan seksama dan merenungkan artinya. Hendaklah kita juga mengkaji sirah nabi dan sejarah para salaf sesuai dengan waktu yang tersedia.
  3. Hendaklah kita bersegera melakukan general check-up secara berkala atau berobat, begitu penyakit terasa mengenai. Di samping itu, perhatikanlah factor-faktor penyebab kekuatan dan perlindungan tubuh serta hindari factor-faktor penyebab lemahnya kesehatan.
  4. Hendaklah kita memperhatikan urusan kebersihan dalam segala hal, menyangkut tempat tinggal, pakaian, makanan, badan dan tempat kerja, karena agama ini dibangun di atas dasar kebersihan.
  5. Hendaklah kita jujur dalam berkatan, jangan sekali-kali berdusta.
  6. Hendaklah kita menepati janji, janganlah mengingkarinya, betapapun kondisi yang kau hadapi.
  7. Hendaklah kita pemberani dan tahan uji. Keberanian paling utama adalah terus terang dalam mengatakan kebenaran, ketahanan menyimpan rahasia, berani mengakui kesalahan, adil terhadap diri sendiri, dan dapat menguasainya dalam keadaan marah sekalipun.
  8. Hendaklah kita senantiasa bersikap tenang dan berkesan serius. Namun janganlah keseriusan itu menghalangimu dari canda yang benar, senyum dan tawa.
  9. Hendaklah kita bersikap adil dan benar dalam memutuskan suatu perkara, pada setiap situasi. Janganlah permusuhan membuat kita lupa dari pengakuan jasa baik dan hendaklah kita berkata benar meskipun itu merugikanmu atau merugikan orang yang paling dekat denganmu.
  10. Hendaklah kita merasa bahagia jika dapat mempersembahkan bakti untuk orang lain, gemar membesuk orang sakit, membantu orang yang membutuhkan, menanggung orang yang lemah, meringankan beban orang yang tertimpa musibah meskipun hanya dengan kata-kata yang baik dan senantiasa bersegera berbuat kebaikan.
  11. Hendaklah kita berhati kasih, dermawan, toleran, pemaaf, lemah lembut kepada manusia maupun binatang, berperilaku baik dalam berhubungan dengan semua orang, menjaga etika-etika sosial Islam, menyayangi yang kecil dan menghormati yang besar, memberi tempat kepada orang lain dalam majelis, tidak memata-matai, tidak menggunjing, tidak mengumpat, meminta izin jika masuk maupun keluar rumah.
  12. Hendaklah kita pandai membaca dan menulis, memperbanyak menelaah risalah dakwah para nabi, sahabat dan ulama, menguasai persoalan Islam secara umum, penguasaan yang membuat kita dapat membangun persepsi yang baik untuk menjadi referensi bagi pemahaman terhadap tuntuan fikrah.
  13. Hendaklah kita memenuhi hak pribadi dengan baik dan memenuhi hak-hak orang lain dengan sempurna, tanpa dikurangi dan berlebihan. Janganlah pula kita menunda-nunda pekerjaan.
  14. Hendaklah kita senantiasa merasa diawasi oleh Allah, mengingat akhirat, bersuci dengan baik dan senantiasa berwudhu di sebagian besar waktu, shalat dengan baik dan senantiasa tepat waktu dalam melaksanakannya. Usahakan senantiasa berjamaah jika itu mungkin dilakukan.
  15. Hendaklah kita menyertai diri dengan niat jihad dan cinta mati syahid. Bersiaplah untuk itu, kapan saja kesempatannya tiba. Senantiasa memperbarui tobat dan istighfarmu dan berhati-hatilah terhadap dosa-dosa kecil, apalagi yang besar.
  16. Hendaklah kita menyebarkan dakwah dimanapun dan memberi informasi kepada pemimpin tentang segala kondisi yang melingkupi. Hendaklah kita senantiasa menempatkan diri sebagai “tentara yang berada di garis depan, yang tengah menanti instruksi komandan.”

Inilah bingkai global dakwahmu dan penjelasan ringkas fikrah kita. Kita dapat menghimpun prinsip-prinsip ini dalam lima slogan: Allah ghayatuna (Allah adalah tujuan kami), ar rasul qudwatuna (Rasul adalah teladan kami), Al Quran syir’atuna (Al Quran adalah undang-undang kami), al jihad sabiluna (jihad adalah jalan kami), dan asy syahadah umniyyatuna (mati syahid adalah cita-cita kami).

“Wahai orang-orang yang beriman, suka kah kalian Aku tunjukan suatu perniagaan yang dapat menyelematkan kalian dari azab yang pedih ? (Yaitu) kalian beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwa kalian. Itulah yang lebih baik bagi kalian jika kalian mengetahuinya, niscaya Allah akkan mengampuni dosa-dosa kalian dan memasukkan kalian ke dalam surge yang mengalir di bawahnya sungai-sungai dan (memasukkan kalian) ke tempat tinggal yang baik di dalam Surga ‘And. Itulah keberuntungan yang besar. Dan (ada lagi) karunia lain yang kalian sukai (yaitu) pertolongan dari Allah dan kemenangan yang dekat (waktunya). Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang yang beriman. Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kalian penolong-penolong (agama) Allah sebagaimana Isa putra Maryam telah berkata kepada pengikut-pengikutnya yang setia, “Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongmu (untuk menegakkan agama) Allah ?” lalu segolongan dari kaum bani Israil beriman dan segolongan (yang lain) kafir, maka Kami berikan kekuatan kepada orang-orang yang beriman terhadap musuh-musuh mereka, lalu mereka menjadi orang-orang yang menang.”
[QS. Ash Shaff: 10-14]


Wassalamu’alaikum wa rahmatullah wa barakatuh
Sumber: Buku Risalah Pergerakan Al Ikhwan Al Muslimun 2 Bab Risalah Ta'lim karya Hasan Al Banna


0 komentar:

Share is caring, Silahkan berbagi apa saja di sini.