Lembaga Dakwah Kampus Al-Iqtishod STEI Tazkia

Pengecas Ruhani Pemberi Inspirasi

Artikel

Sahabat bisa dapatkan artikel seputar Islam yang bisa menambah pemahaman kita mengenai Islam.

Audio

Download audio kajian dari asatidz terpercaya agar kita lebih mantap dalam memahami agama ini.

Join Us

Bergabung dengan sahabat lainnya di page facebook, twitter dan instagram untuk update artikel keren dan artwork awesome.

Jejak

Cerita ini bermula di suatu sore di permulaan bulan April. Tepatnya tanggal 1 April 2016, bertepatan dengan tanggal 23 Jumadil Akhir 1437 H. Matahari tengah melepaskan sisa-sisa sinarnya menembus kaki-kaki langit, menciptakan garis horizon berwarna oranye yang menyala terang. Indah. Ketika sore itu, sebuah mobil tronton menderu masuk ke pelataran tempat parkir masjid Andalusia, Sentul City.
Tidak banyak yang mengingatnya, sekitar empat belas abad yang lalu. Masa itu merupakan salah satu masa paling bersejarah bagi umat Islam. Seorang pemuda Arab yang dikenal dengan nama Muhammad, mendapatkan wahyu dari Allah untuk pertama kalinya saat ia sedang bermukim di gua Hira.

Diturunkannya wahyu Allah kepada Muhammad, yang sekaligus mengangkatnya sebagai Nabi Allah adalah untuk memberikan pedoman kepada manusia selama perjalanannya menjalani hidup di dunia. Hanya saja, kerasnya kepribadian orang-orang Arab dan asingnya wahyu Allah yang bernama Al Quran tersebut di telinga umat manusia saat itu. Begitupun dengan keterbatasan Muhammad yang tidak pandai membaca dan menulis, menjadi dinding kokoh yang amat menghalangi langkahnya untuk menyampaikan, menyebarkan serta mengajarkan Al Quran yang telah ia dapatkan. Namun itulah yang mereka namakan sebagai bibit taman Surga.

Akan tetapi, kisah ini bukan tentang peristiwa besar itu. Apalagi tentang sepak terjang Nabi Muhammad dalam menebarkan benih-benih kabar gembira dan peringatan dari Allah ke khalayak manusia. Bukan. Kisah ini lebih sederhana, tapi tetap bersejarah, setidaknya bagi semua orang yang terlibat di dalamnya.

Ayas yakin dimulai dari hari ini sampai dua hari ke depan dia akan melakukan sebuah perjalanan hidup yang tidak biasa. Sebelum lantunan adzan Subuh berkumandang, dia sudah bangun dan bersiap. Padahal hawa dingin masih terasa menusuk tulang.

Pukul 16.30 sore. Angin berhembus kencang. Membawa aroma hujan khas bau pohon Pinus menyeruak masuk ke dalam rongga hidung. Perlahan pesona langit memudar tertutupi gerumulan awan mendung yang datang belakangan. Ayas melangkahkan kakinya menyusuri 5 buah anak tangga memasuki lobi masjid Andalusia setelah dia memakirkan motornya tepat di bagian Utara masjid itu. Hanya berjarak 5 meter dari anak tangga pertama.

Ayas mengenakan stelan jins berwarna biru pada celana dan jaketnya. Dia juga mengenakan topi hitam kesayangannya. Sebuah topi yang sepertinya tidak bisa dia tinggalkan sama sekali. Ayas berjalan menuju meja yang terletak di depan barisan peserta perempuan, berniat melakukan pemeriksaan terakhir pada kameranya saat sudut matanya menangkap relasi kerjanya, April, sedang berbicara dengan saudara laki-lakinya yang tidak dia ketahui namanya. April mengenakan jaket tebal berwarna pink sebagai warna dasar dan warna hitam di kedua sisinya. Sarung tangan hangat terlihat di sarungkan di sisi kanan kantong jaketnya.

Sepertinya dia juga sudah menyiapkan dirinya dengan baik. Ayas bergumam sambil mengeluarkan kamera Canon 1100 D yang dia pinjam dari temannya. Kamera itu berwarna hitam legam. Ayas memastikan lensanya bersih dan fitur-fitur kameranya berfungsi dengan baik. Sebagai tahap pemeriksaan akhir. Ayas menyetel kameranya pada posisi manual.

Satu-dua peserta mulai memasukan perlengkapan mereka ke dalam mobil tronton tersebut, sesaat setelah mendapatkan pengarahan dari panitia. Mobil itu berwarna hijau lumut. Warna yang cukup baik untuk berkamuflase saat dibawa bertugas ke hutan. Tanpa merasa terbebani, mereka memasukan semua perlengkapan ke dalam dibantu oleh tentara yang bertugas menjadi supir mobil. Sesekali terdengar suara tawa yang terlempar saat peserta laki-laki mengangkat perlengkapan pribadi dan kelompok dari lobi masjid menuju mobil.  Menertawakan mereka yang basah kuyup. Padahal diri mereka sendiri juga kebasahan.

Hujan menerjang semakin deras. Genangan air mulai merendam permukaan tanah bebatuan, menghasilkan suara cipratan yang bertalu-talu saat diinjak oleh peserta perempuan yang satu per satu masuk ke dalam bagian belakang mobil. Ayas sudah masuk ke dalam mobil bagian depan, tepat di samping tempat kemudi. Dia sedang berusaha menutup jendela yang terbuka agar tidak ada air hujan yang ikut masuk ke dalam ketika ada telpon yang memang dia tunggu. Telepon dari Hanif Aulia Rahman, dialah penanggung jawab keberangkatan peserta menuju bumi perkemahan. Hanif memberikan intruksi untuk segera memberangkatkan peserta akhwat setelah semuanya masuk ke dalam. Tanpa berpikir panjang, Ayas menutup teleponnya bersegera turun dan memastikan. Lantas kembali setelah semuanya masuk dan menyuruh supir untuk langsung tancap gas.

Untuk menuju bumi perkemahan Citamiang yang berada di daerah gunung Kencana, Puncak. Bang Imron mengarahkan mobilnya melewati jalur tol Sukabumi-Puncak. Imron adalah nama dari supir mobil tersebut. Dia sudah dua tahun berada dalam kesatuan tentara Brimob.

Selama perjalanan, Ayas lebih banyak mendengarkan kelakar bang Imron. Bang Imron memiliki selera humor yang mengagumkan. Tapi juga mengkhawatirkan. Karena selama berkelakar, bang Imron lebih fokus pada ceritanya daripada tugasnya sebagai supir. Ayas jadi membayangkan bagaimana jadinya kalau bang Imron juga seperti ini saat membawa pasukan dalam misi.

Sambil mendengarkan bang Imron dan sesekali tersenyum simpul. Ayas menatap keluar jendela. Memandangi kendaraan dan bangunan yang basah diguyur hujan. Sesekali juga menghirup udara segar untuk membersihkan paru-parunya. Sementara itu, pikirannya sudah melayang-layang masuk ke dalam jiwanya. Antara yakin dan tidak dengan keputusannya pada acara ini. Tapi, mau bagaimana pun setiap manusia akan selalu melakukan perjalanan. Walau tidak yakin kemana perjalanan ini akan bermuara, pun jalan seperti apa yang akan dilalui. Maka yakinlah pada setiap perjalanan yang kita lakukan, mantapkan hati dan tegarlah. Karena selama perjalanan kita akan menemukan sesuatu yang lebih berharga daripada tujuan perjalanan yang kita inginkan. Bahkan sesuatu itu belum pernah kita harapkan kedatangannya.

Akhirnya, perjalanan pun dimulai.

---

Hari kedua Leadership Challenge. Seperti yang sudah direncanakan, pagi ini para peserta memasak sendiri menu sarapan mereka. Mereka akan memasak orek tempe dan telur. Satu-dua terlihat sibuk mencoba memasang gas tabung kecil, menyambungkannya ke kompor kecil berbentuk persegi. Yang lain mengambil bahan makanan yang di simpan di ruangan panitia. Memotongnya menjadi potongan-potongan kecil, lantas memasukannya ke dalam nesting dan meletakannya di atas kompor setelah api menyala dan minyak dipanaskan. Setiap kelompok menyelesaikan sarapannya dalam waktu empat puluh lima menit.

Semalam, waktu Ayas dan rombongan peserta perempuan sampai di bumi perkemahan, tempat itu masih dalam kondisi gelap. Tidak ada satu pun alat penerang yang menyala, samar-samar hanya terkena pancaran sinar rembulan. Di sisi kanan area perkemahan berjajar rapih rumah kecil yang disewakan untuk menginap. Ada tujuh rumah dan semuanya kosong. Di bagian tengah ada aula terbuka yang tiba-tiba saja menyala. Selintas tidak ada orang yang berada di dekat sana. Setelah menunggu beberapa saat, bapak penjaga area perkemahan terlihat berjalan menghampiri dari arah sana dengan mengenakan stelan jas hujan berwarna hitam.

Demi menghindari hawa dingin yang semakin menjadi, Ayas segera mengarahkan mereka menuju aula. Berharap mendapat kehangatan dengan berada di bawah sinar lampu yang tidak begitu terang. Sisa hari dihabiskan dengan pendirian tenda untuk seluruh peserta oleh peserta laki-laki setelah mereka tiba di bumi perkemahan dengan menggunakan motor. Kemudian memeriksa peralatan dan merapihkannya agar tidak tercerai. Malam itu rintik hujan masih saja mengguyur, keputusan pun diambil. Peserta laki-laki tidur di dalam tenda atau di tengah aula sedangkan peserta perempuan tidur di dalam mushola kecil yang berdiri kokoh di bibir sungai yang sedang mengalir deras.

Kehangatan sinar mentari membungkus hutan. Burung-burung sudah banyak beterbangan dan berkicau ke sana kemari mencari penghidupan. Debit aliran sungai juga sudah tidak sebesar semalam. Hujan itu menyisakan kesegaran yang tidak akan pernah ditemui di perkotaan.

Sepuluh menit sudah berlalu sejak semuanya selesai sarapan. Pagi ini upacara pembukaan tengah dilangsungkan. Petugas pembawa acara dengan suara lantang membacakan susunan acara. Beberapa ayat suci Al Quran dibacakan sebagai pembuka. Semuanya khusyuk mendengarkan. Usai mendengarkan sepatah-dua patah nasihat dan kata-kata penyemangat dari ketua LDK Al Iqtishod. Upacara ditutup dan Leadership Challenge resmi dimulai.

Ayas, 21 tahun. Dia orang yang ramping berkumis, lahir di Jakarta dan sudah menjadi pengguna kacamata sejak duduk di bangku empat sekolah dasar. Saat ini dia sedang tergabung dalam barisan kepengurusan LDK Al Iqtishod di kampusnya, STEI Tazkia. Dia hanya seorang wakil ketua divisi Syiar di sana. Bukan seseorang yang istimewa. Meskipun dia menganggap semua yang ada di sekitarnya sangat istimewa.

Saat itu pukul 10.00 pagi. Ayas berjalan mendekat ke arah aula. Di sana para peserta sedang mendengarkan materi tentang ‘Qiyadah wal Jundiyah’ dari bang Maul, begitu dia akrab disapa. Ayas keluar dari dalam mushola yang terbuat dari bahan dasar kayu dengan dua jendela besar terbuka di kedua sisi. Perlahan dia berjalan menyusuri tanah berair bekas guyuran hujan. Melewati pepohonan yang berdiri tinggi menjulang. Tertanam tegak secara acak dalam jumlah yang banyak. Dia membawa serta kameranya. Hendak memfoto kegiatan yang sedang berlangsung. Sekaligus mengabadikan momen-momen berharga aktivitas hutan di pagi hari. Setelah menaiki jalan berbatu dan sedikit menyibakan dahan pohon yang menutupi jalan. Ayas tiba di aula.

Ayas sedikit banyak mendengarkan paparan bang Maul sambil mengitari aula. Memburu angel yang tepat. Apa yang disampaikannya mengingatkan Ayas pada sebuah kisah perumpamaan. Mengambil posisi duduk di belakang peserta dan bersandar pada tiang. Dia menatap ke arah aliran sungai. Kembali melayangkan pikirannya. Serta terus menenangkan hatinya yang entah mengapa terasa gelisah saat mencoba mengingat kisah itu.

Dikisahkan seorang ayah sedang melakukan sebuah perjalanan bersama dengan dua generasi penerusnya. Satu anak laki-laki dan yang satunya anak perempuan. Hanya bertiga, tidak ada orang lain yang berada di sekitar mereka. Istrinya sudah meninggal sejak dua tahun yang lalu. Dan dia sedang mempersiapkan dua anak kesayangannya menjadi prajurit-prajurit Allah yang tangguh.
Berjalan bersama di tepi sebuah gunung. Berniat melihat prosesi tenggelamnya matahari. Meskipun ayah itu tau bahwa di sana rawan longsor, dia tetap bersikeras membawa dirinya dan anak-anaknya ke sana. Hingga akhirnya nasib buruk pun menimpa mereka. Di tengah perjalanan jalur tepi gunung yang mereka pijak tak kuasa menahan beban mereka bertiga dan terjadilah longsor. Beruntung semuanya terjatuh seketika. Akan tetapi hanya tinggal menunggu waktu sampai mereka semua terjatuh dan mati. Kondisinya saat itu adalah ayah tersebut tengah memegangi kedua anaknya agar tidak jatuh ke jurang yang dalam. Si anak laki-laki dipegang erat di tangan kanannya dan si anak perempuan di tangan kirinya. Satu jam berlalu sudah. Si ayah  mulai kelelahan dan tak sanggup lagi berusaha untuk mengangkat kedua anaknya. Semakin lama si ayah juga semakin ikut terseret beban kedua anaknya. Sambil terus memegang erat anak-anaknya, si ayah mencoba memikirkan solusi lain. Nihil. Hanya satu solusi yang mungkin bisa dilakukan. Tapi solusi ini membutuhkannya mengorbankan salah satu anaknya. Yaitu, melepaskan anak laki-lakinya dan menyelamatkan yang perempuan atau sebaliknya. Karena jika tidak, mereka bertiga malah akan terjatuh ke dalam jurang. Dan tentunya membiarkan dirinya dan anak-anaknya terjatuh ke dalam jurang bukan pilihan yang bijak.

Sampai detik ini, Ayas masih belum yakin pilihan apa yang akan dia ambil jika itu terjadi padanya. Memang benar itu hanyalah sebuah kisah. Tapi kisah itu mengajarkan tentang ketenangan dan kebijakan yang harus diutamakan dalam pengambilan keputusan. Dan bahwa selalu ada pengorbanan yang harus dibayar untuk setiap perjuangan. Suka ataupun tidak.

Pukul lima sore. Senja membungkus area perkemahan. Angin kencang kembali membawa butiran air hujan, telak membasahi para peserta yang sedang menjalani outbond. Semuanya bersemangat sekali dalam adu ketangguhan, ketangkasan dan kerjasama mereka. Mencoba membuktikan pada yang lain bahwa merekalah yang terbaik. Sejauh ini semua masih berjalan dalam kendali. Hanya saja, matahari kembali turun di peraduannya tanpa bisa disaksikan dengan apik.

Malam semakin larut. Para peserta sudah selesai berbenah diri, sholat Isya, menyantap makan malam dan mendengarkan materi yang disampaikan oleh bang Fatih al Aziz tentang ‘Muslim Negarawan’. Hujan masih saja setia menemani. Satu-dua peserta terlihat mengigil kedinginan. Bahkan Ayas sendiri memakaikan kain sarungnya dengan model ninja. Menutup utuh dari atas kepala sampai ke paha. Hanya terlihat mata dan hidungnya saja di bagian wajah.

Waktu menunjukan pukul sebelas malam. Kemudi acara diambil alih oleh komite disiplin Leadership Challenge, bang Ammar Multazim. Sejenak aula terasa lengang. Tidak ada yang berbicara. Hanya terdengar suara aliran sungai yang semakin menjadi dan desiran angin berbalut bisikan hewan-hewan malam.

Ammar berjalan di tengah-tengah peserta. Wajahnya mengkerut. Demi menunggu apa yang ingin diucapkan bang Ammar, semua peserta memilih untuk tetap diam. Tidak berani bertanya. Mereka tau, hanya ada satu jawaban pasti yang menjadi alasan bang Ammar menampakkan raut wajah seperti itu. Mereka sudah melakukan suatu kesalahan.

Dugaan mereka benar. Bang Ammar menyinggu para peserta yang sudah melanggar kesepakatan bersama dan tidak mau menghukum diri mereka sendiri dengan hukuman yang telah ditetapkan. Berdasarkan laporan dari panitia yang lain. Sebagian peserta ada yang sudah menyantap makan malam terlebih dahulu sebelum semua peserta berkumpul untuk makan bersama. “Apa ini yang kalian maksud dengan ‘amal jama’i !?” ucap bang Ammar dengan nada tegas dan keras. “Saat satu teman melakukan kesalahan, kalian menutupinya. Begitupun dengan mendahulukan kepentingan perut kalian masing-masing tanpa peduli apa yang perut teman kalian rasakan !” dia menambahkan.

Hingga pukul dua belas malam. Seluruh peserta melalui sisa hari dengan mendengarkan beberapa potong nasihat dari bang Ammar, sebelum akhirnya pergi ke tenda masing-masing dan tertidur.

Pemuda berusia dua puluh satu tahun itu berjalan sendirian di jalan setapak yang berbatu. Dia baru saja selesai makan malam saat para peserta kembali ke tenda masing-masing dengan kepala tertunduk. Dalam perjalanannya menuju aula dia sempat mendengar apa yang Ammar sampaikan dan mengerti maksudnya.

Ia menghela napas perlahan. Butiran air hujan yang mengecil memerciki wajahnya. Sejenak menatap hutan yang remang. Berbisik untuk kemudian kembali terdiam.

Pandanglah aku wahai gelap malam. Lihatlah orang yang selalu lihai menasihati orang lain, tapi tidak pernah bisa menasihati diri sendiri.

Pandanglah aku wahai hutan luas. Lihatlah orang yang selalu punya kata bijak untuk orang lain, tapi tidak pernah mendapati kata bijak untuk dirinya sendiri.

Ayas tertunduk menatap lantai aula. Meringkuk perlahan. Terpejam.

---

Cahaya matahari menyapa lembut tenda-tenda yang tertancap kuat. Tanggal 3 April 2016, hari ke 3 perjalanan. Atau hari terakhir acara Leadership Challenge. Panitia dan peserta tengah sibuk mempersiapkan diri dan perbekalan untuk melakukan pendakian ke gunung Kencana. Bukan pendakian yang berat, karena tujuannya hanya mencapai kaki gunung.

Pendakian dilakukan secara ber-iringan. Satu kelompok laki-laki berjalan lebih dahulu, dilanjutkan dengan dua kelompok perempuan setelah berjarak tiga meter yang dilanjutkan kembali dengan satu kelompok laki-laki setelah jeda jarak yang sama.

Rute pendakian mengikuti rute downhill. Karena memang hanya itu rute yang bisa diambil untuk mendaki gunung. Tiga puluh menit berlalu. Satu-dua peserta masih mendaki dengan semangat. Sesekali terdengar senda-gurau satu sama lain. Membantu temannya yang kesulitan saat menanjak jalur yang licin. Terkadang juga mentertawakan mereka yang terpeleset. Semuanya terlihat bahagia. Dalam satu kesempatan, mereka juga berpapasan dengan orang-orang yang sedang berolah-raga downhill. Seperti halnya anak muda kebanyakan, orang-orang itu dipaksa melakukan foto bersama.

Matahari sudah mencapai titik puncaknya. Setelah melewati dua sungai kecil dan sungai besar, tibalah mereka di tanah lapang di kaki gunung Kencana. Di atas sana semuanya melangsungkan sholat zuhur, berdiskusi, orasi ilmiah dan membaca ikrar kader LDK Al Iqtishod yang diwakili oleh dua belas peserta laki-laki.

Siang itu cuaca benar-benar cerah. Tidak banyak awan yang melintasi langit. Setelah puas bercengkrama di atas bukit. Semuanya kembali ke area perkemahan melalui jalur yang sama.
Selepas mendirikan sholat maghrib, seluruh peserta dan panitia kembali berbaris di antara pepohonan di depan mushola. Menyelesaikan apa yang telah dimulai. Upacara penutupan.

Beruntung malam itu hujan tidak turun. Upacara berlangsung dengan lancar. Sesaat setelah pembawa acara mengucapkan kalimat penutup. Semuanya mendesah napas. Lega. Satu-dua peserta mulai memeluk temannya satu sama lain. Saling meminta maaf dan memaafkan jika ada kesalahan yang tercipta. Tidak lupa, dua aktor utama pembuat onar juga ikut meminta maaf kepada seluruh peserta atas insiden yang terjadi sore tadi.

Beberapa jam sebelumnya. Pukul 17.00.

“Apa yang kau inginkan ?” Arif Sumandar, ketua LDK maju ke depan. Melangkah dan berhenti tepat di depan Ammar. “Mereka lelah, baru saja turun dari gunung. Tidakkah kau melihatnya ?”
Saat itu peserta laki-laki sedang berada dalam posisi siaga push up sedangkan yang perempuan dalam posisi siaga bending. Wajah mereka terlihat kuyu. Tak kuasa menahan lelah dan letih fisik mereka.

“Ow…Ow…” Ammar mengangkat tangannya. “Saya tahu mereka lelah. Tahu sekali. Berhari-hari mereka menjalani kegiatan yang padat dan baru saja menuruni kaki gunung Kencana. Tentu bukan hal yang wajar jika ada di antara mereka yang masih segar bugar. Tapi mau dikata apa. Nasi sudah menjadi bubur. Aturan sudah ditegakkan di awal.”

“Apa yang kau inginkan ?” Arif menggeram. Jika saja situasinya berbeda, sejak tadi ia akan meninju orang yang ada di hadapannya. Tapi di sekitarnya ada banyak kader-kadernya yang menyaksikan. Kondisinya sendiri juga sudah lelah.

“Hukuman. Itulah yang aku inginkan” Ammar menjawab sambil tersenyum merendahkan.

“Hei ! kau tid-“

“ Ow…Ow… benar-benar ketua yang berhati baik. Lihatlah ! dia mencemaskan kadernya. Meski kau harus tahu, kadang terlalu baik hati dekat sekali dengan kebodohan, Ketua.”

“Sejujurnya aku juga tidak suka harus melakukan ini. Tapi inilah faktanya. Ada sebab, ada akibat. Mereka sudah melanggar aturan yang ditetapkan. Maka harus ada hukuman yang mereka tanggung. Jika saja mereka patuh, hal ini tidak akan pernah terjadi.”

“Ayolah kawan, bagaimana kau akan membentuk kader-kader yang militan, tangguh dan peduli jika kau selalu mendidiknya seperti kau mengasuh bayi ?” Ammar menatap Arif tajam.

Kali ini Ammar mendorong Arif. Keras. Satu-dua panitia mencoba melerai mereka berdua. Gerah dengan situasi ini.

Sambil berjalan mengitari para peserta, Ammar melanjutkan “Coba kau ingat. Ada tiga cara untuk menyikapi kemungkaran. Dengan tangan, lisan dan dengan hati. Hei, jika begitu kemungkaran juga bisa terjadi melalui tiga tingkatan itu. Bayangkan jika ada musuh yang mengusik kenyamanan kalian. Perompak bersenjata lengkap dan berpengalaman misalnya. Apa bisa mengatasi kemungkaran sejenis itu dengan lisan ? atau mungkin dengan hati ? hah ! apa bisa !?” teriaknya.

“Bagaimana mungkin seorang kader bisa melindungi diri dan orang lain dari para perompak itu ? Kader yang apabila bersalah selalu dilindungi atau hanya di doakan dalam hati. Berharap segera berubah. Bilapun dimarahi, hanya sebatas retorika.”

“Mereka butuh penggemblengan fisik secara tegas, jika perlu sedikit dibumbui dengan kekerasan yang tentunya masih dalam batas kesanggupan mereka. Dan aku yakin mereka masih sanggup menanggung hukuman atas kesalahan yang mereka lakukan sendiri.” Ammar menarik napas dalam  dan berseru, “posisi siaga push up, bersiap push up 120 kali !”

Tidak lagi peduli dengan sekitarnya. Arif balas mendorong Ammar. Lebih keras. Tidak terima. Adu mulut pun tak terhindari. Saling mengumpat. Saling merendahkan. Merasa pendapatnya yang paling benar.

Ya Rabbi, Ayas bergumam.

Apalah artinya kebenaran jika kebenaran saling menjatuhkan. Hanya memandang dari satu sisi, mengabaikan sisi yang lain. Membiarkan keegoisan menghasut diri.

Dari kejauhan Ayas melihat ada dua peserta perempuan yang tumbang. Pucat. Sesak napas. Tidak kuat lagi menyaksikan perang di hadapan mereka.. Yang lain wajahnya terlihat cemas. Ada juga yang sampai menangis.

Matahari mulai condong ke ufuk Barat. Waktu maghrib hampir tiba. Dan pertengkaran belum juga selesai.

Kini, suara-suara hewan malam kalah riuh dengan pertengkaran mereka berdua. Menelan kesunyian malam yang seharusnya tercipta.
Akhirnya, setelah sejenak tenang. Mendengarkan lantunan kumandang adzan maghrib. Kesepakatan pun terjalin. Jumlah hukuman untuk peserta dikurangi menjadi dua puluh kali.

---

Satu jam kemudian. Suara deru mobil tronton kembali terdengar. Kali ini datang untuk menjemput peserta dan mengantarnya kembali ke Sentul. Di tengah gelap malam, lampu depan mobil itu mantap sekali menyinari lapangan area perkemahan. Peserta dan panitia sudah selesai mengemas perlengkapannya masing-masing dan kembali memasukkannya ke dalam mobil.
Sambil menyeret langkah, Ayas berjalan menuju mobil. Sudah tidak ada lagi tenaga yang tersisa baginya untuk melangkah tegap. Menengadahkan wajah. Memandang langit. Sejenak ia kembali merenung. Dan mengucapkan rasa syukur yang mendalam di atas segalanya kepada yang Maha Agung. Walau panas, insiden yang terjadi sore itu hanya sebuah drama. Ia juga bersyukur, kejadian itu mengingatkan dirinya atas nasihat lama.

Problematika kaum Muslimin saat ini bukan disebabkan jumlah mereka yang kurang. Problematika dakwah Islamiyah hari ini tidak terletak pada minimnya jumlah orang yang komit dengan keislamannya di tengah umat yang banyak meninggalkan sholat, berbuat bid’ah dan membawa pikiran-pikiran kafir. Karena di setiap kawasan Islam masih ada pemuda-pemuda baik yang banyak jumlahnya. Tetapi masalah yang sebenarnya adalah mereka tidak mendeklarasikan keislaman mereka dan tidak berdakwah, atau berdakwah namun tanpa koordinasi di antara mereka…berjalan sendiri-sendiri.

Sebelum menaiki mobil, di depan pintu mobil, Ayas berhenti dan berpaling. Menatap kembali hutan yang sudah banyak memberikannya pelajaran dengan tatapan syahdu. Dan bergumam,


Terima kasih.


*Feature News Leadership Challenge


0 komentar:

Share is caring, Silahkan berbagi apa saja di sini.