Lembaga Dakwah Kampus Al-Iqtishod STEI Tazkia

Pengecas Ruhani Pemberi Inspirasi

Artikel

Sahabat bisa dapatkan artikel seputar Islam yang bisa menambah pemahaman kita mengenai Islam.

Audio

Download audio kajian dari asatidz terpercaya agar kita lebih mantap dalam memahami agama ini.

Join Us

Bergabung dengan sahabat lainnya di page facebook, twitter dan instagram untuk update artikel keren dan artwork awesome.

Ihdinash Shiratal Mustaqiim

Ihdinash shiratal mustaqiim. Tunjukkanlah kami jalan yang lurus.”

Tidak sah sholat kita tanpa membaca Surah Al Fatihah di tiap raka’atnya. Dan dalam senarai 7 ayat terdahsyat ini, usai kita memuji Allah, memuliakan dan mengagungkan-Nya, dengan tunduk kita menadah karunia-Nya. Ialah doa kita agar Allah karuniakan petunjuk ke jalan yang lurus. Kita membacanya setia hari sekurangnya 17 kali, sebab ialah doa terpenting, permohonan petunjuk, dan pinta paling utama.

Jalan yang lurus.

Terjemah itu mungkin membuat sebagian kita membayangkan bahwa jalan lurus itu bagus, halus dan mulus. Kita mengira bahwa shiratal mustaqiim adalah titian yang gangsar dan tempuhan yang lancar. Kita menganggap bahwa ia adalah jalan yang bebas hambatan dan tiada sesak, tanpa rintangan dan tiada onak. Kita menyangka bahwa di jalan itu, segala keinginan terkabul, setiap harapan mewujud, dan semua kemudahan dihamparkan.

Frasa “jalan yang lurus” membuat kita mengharapkan jalur yang tanpa deru dan tanpa debu.

Maka kadang kita terlupa, bahwa penjelasan tentang jalan yang lurus itu tepat berada di ayat berikutnya. Jalan lurus itu adalah, Jalan orang-orang yang telah Kau beri nikmat. Bukan jalan orang-orang yang Kau murkai, dan bukan pula jalan mereka yang sesat.

Maka membentanglah Al Qur’anul Karim sepanjang 113 surah bakda Al Fatihah untuk memaparkan bagi manusia jalan orang-orang yang telah diberi nikmat itu. Ialah jalan Adam dan Hawa; jalan Nuh; Hud, dan Shalih; jalan Ibrahim hingga Ya’qub sekeluarga; jalan Musa dan Saudaranya; jalan Daud dan putranya; jalan Ayyub dan Yunus; jalan Zakariyya dan Yahya, serta Maryam dan ‘Isa. Jalan indah itu sesekali ditingkahi jalan mereka yang dimurka dan sesat, jalan iblis dan Fir’aun, hingga Samiri dan Qarun.

Cerita kehidupan Adam hingga ‘Isa itu adalah lapis-lapis keberkahan.

Kisah mereka berkelindan, mengulurkan makna-makna yang mengokohkan cipta, serta karsa Sang Rasul terakhir dan ummatnya yang bungsu. Kisah mereka bertautan, melahirkan artian-artian yang menguatkan iman dan perjuangan Sang Penutup rangkaian kenabian beserta para pengikutnya; menghadapi kekejaman Abu Jahl, kekejian Abu Lahab, keculasan Al ‘Ash ibn Harits, tuduhan Al Walid ibn Mughirah, dongengan An Nazhar ibn Harits, rayuan ‘Utbah ibn Rabi’ah, cambukan ‘Umayyah ibn Khalaf, hingga timpukan ‘Uqbah ibn Abi Mu’ith.

Adalah Rasulullah memerah wajahnya pada suatu hari, ketika beliau bangkit dari berbaring berbantal surban di dekat Ka’bah. Adalah Khabbab ibn Al Arat, lelaki pandai besi yang kerap disiksa Abu Jahl dengan diikat pada selongsong logam dan dipanggang di atas bara peleleh besi; hari itu menghadap dan berbisik. “Ya Rasulullah,” demikian lirih dia berkata seakan masih merasakan bagaimana punggungnya melepuh lalu pecah dan arang penyiksan terpadam oleh tetesan cairan luka bakarnya, “tidakkan engkau berdoa atau menolong kami?”

Di antara kedua alis bertaut junjungannya, ada pembuluh yang kian membiru. Itu pertanda bahwa manusia paling pengasih ini marah karena Rabbnya. “Demi Allah,” ujar beliau bergetar, “orang-orang sebelum kalian ada yang disisir dengan sikat besi hingga terpisah daging dari tulangnya, ada yang digergaju tubuhnya hingga terbelah badannya; tapi itu semua tak memalingkan mereka dari Laa ilaaha illallaah; tiada sesembahan yang benar selain Allah.”

Khabbab sama sekali tidak bersalah ketika bertanya. Khabbab sungguh harus difahami kerisauannya. Khabbab telah mengorbankan seluruh dirinya; hingga sakit dan luka, dengan disiksa dan dinista, demi risalah yang dibawa Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Tetapi, demikianlah Sang Nabi hendak mengajarkan padanya dan kepada kita, apa makna jalan lurus.

Dan sesungguhnya Allah adalah Rabbku dan Rabb kalian, maka sembahlah Dia. Inilah jalan yang lurus. (Q.s. Maryam [19]: 36)

Jalan lurus itu diikat oleh satu hakikat. Yakni beribadah hanya kepada Allah satu-satunya, tiada sekutu bagi-Nya. Bahwa di dalamnya ada nestapa dan derita, ia hanya penggenap bagi kebersamaan dan cinta. Bahwa di dalamnya ada kehilangan dan duka, ia hanya penguat bagi sikap syukur dan menerima. Bahwa di dalamnya ada pedih dan siksa, ia hanya penyempurna bagi rasa nikmat dan mulia.

“Demi Allah, Dia pasti akan menyempurnakan urusan ini,” demikian Sang Nabi melanjutkan sabdanya pada Khabbab, kini dengan senyuman bercahaya, “hingga seseorang berjalan dari Shan’a ke Hadhramaut dan tiada yang ditakutinya selain Allah. Tetapi kalian tergesa-gesa.”


Sumber: Buku Lapis-Lapis Keberkahan
Oleh: Salim A. Fillah

0 komentar:

Share is caring, Silahkan berbagi apa saja di sini.