Lembaga Dakwah Kampus Al-Iqtishod STEI Tazkia

Pengecas Ruhani Pemberi Inspirasi

Artikel

Sahabat bisa dapatkan artikel seputar Islam yang bisa menambah pemahaman kita mengenai Islam.

Audio

Download audio kajian dari asatidz terpercaya agar kita lebih mantap dalam memahami agama ini.

Join Us

Bergabung dengan sahabat lainnya di page facebook, twitter dan instagram untuk update artikel keren dan artwork awesome.

Jiwa Penggamit Hati

Mari cemburu pada mereka yang selalu
Bercumbu dengan ilmu
Berlimpah dengan dakwah
Bemesra dengan Allah

“Nama lelaki di Surah Yaasin itu,” demikian dinyatakan ‘Ikrimah dari Ibn ‘Abbas, “adalah Habib ibn Surri An-Najjar, Seorang tukang kayu.”

Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan sosok yang sesungguhnya tak disebutkan namanya di dalam wahyu ini sebagai teladan tentang cinta yang tak habis-habis bagi ummat di sekelilingnya. Dia bukan rasul, bukan nabi, bukan pula ulama. Hal terawal yang difahaminya hanyalah bahwa para rasul yang datang ke kotanya itu orang-orang tulus. Mereka menghasung kebenaran dan mengajarkan kebajikan sama sekali tanpa meminta imbalan. Bagi Habib, mereka adalah orang-orang yang mendapat sekaligus membawa petunjuk.

Maka dengan bergegas-gegas dari ujung kota, dia berseru-seru, “Wahai kaumku, ikutilah para utusan Allah itu !” dan Habib An-Najjar, demikian menurut sebagian mufassirin, setelah menyimak apa yang disampaikan para terutus itu kemudian melantangkan dengan anggun pernyataan imannya.

“Mengapa aku tidak menyembah Dzat yang telah menciptaku, yang hanya pada-Nya kalian semua akan dikembalikan ? Apakah aku akan mengibadahi sesembahan-sesembahan yang jika Allah Sang Maha Pengasih menghendaki bahaya bagiku, maka syafa’at mereka sama sekali tiada bermanfaat bagiku dan tak dapat menyelamatkanku ? Sesungguhnya aku jika demikian itu benar-benar dalam kesesatan yang nyata.” (QS. Yasin [36]: 22-24)

Kalimat Habib An-Najjar lugas tapi menyentak, sederhana tapi menghujam, “Kalau Allah Pencipta kita,” begitu ujarnya, “mengapa kita menyembah selain Dia.  Padahal kepada-Nyalah semua insan kelak kembali untuk mempertanggungjawabkan perbuatan.”

“Dan seandainya Allah,” lanjutnya, “yang punya sifat Ar-Rahman, Maha Pengasih, sampai pula menghendaki bahaya bagiku; berhala-berhala ini semuanya takkan dapat menjadi perantara mohon pertolongan apatah lagi akan menyelamatkan. Mereka tak dapat melihat, mendengar, dan berbicara. Mereka sama sekali tidak berdaya.”

Mendengar ungkapannya itu, para pemuka kaumnya murka. Betapa seorang lelaki tak dikenal, dari kalangan jelata lagi miskin papa, mengajari mereka tentang agama. Betapa seorang yang bukan siapa-siapa, mengungkap kesejatian iman yang membuat apa yang mereka yakini selama ini tanpak bathil dan konyol. Maka diperintahkanlah para pengikut untuk mengeroyoj dan menyiksanya, hingga dadanya remuk dan isi perutnya terburai akibat diinjak-injak.

Di detak-detak terakhirnya, dalam sekarat yang meyergapkan manisnya iman, diiringi air mata para utusan Allah yang tak kuasa menolongnya, dia mencoba bicara. Nafasnya yang satu-satu, darahnya yang sisa-sia, tak menghalanginya menyunggingkan senyum ridha.

“Sesunggunya aku telah beriman kepada Rabb kalian. Maka dengarkanlah ikrar imanku ini.” (QS. Yasin [36]: 25)

Kata-katanya ini, menurut Imam Ath-Thabary, Khitab-nya ditujukan kepada para Rasul yang mendampingi di akhir hayatnya. Para Rasul itu takjub dan cemburu terhada iman yang menggerakkan Habib An-Najjar berdakwah dengan mempersembahkan raga dan nyawanya. Betapa sebentar dia belajar. Betapa cepat dia memahami. Betapa dalam dia meyakini. Betapa besar cinta pada kaumnya. Betapa hebat penyampaian dakwahnya. Dan betapa mahal pengorbanannya.

Kisah sang da’i tak berhenti sampai di sini. Sebab mereka yang ada di jalan dakwah yang Allah ridhai, tetap hidup sesudah mati. Hidup dengan semua arti yang terkandung dalam kata “hidup” itu sendiri. Habib An-Najjar membuktikan diri sebagai lelaki penggamit hati yang cinta ikhlas tuk kaumnya terus dia dengungkan dari dalam surga yang abadi.

“Aduhai alangkah baiknya seandainya kaumku mengetahui. Bersebab apa kiranya Rabbku mengampuniku dan menjadikanku termasuk orang-orang yang dimuliakan.” (QS. Yasin [36]: 26-27)

Inilah orang yang mencintai bagi seluruh kaumnya, apa yang dicintainya untuk diri sendiri. Inilah orang yang mengharapkan bagi kaumnya, apa yang diharapkannya bagi dirinya sendiri. Inilah orang yang mentakutkan atas kaumnya, apa yang ditakutkannya atas dirinya sendiri. Sungguh jiwa da’i sejati, yang kasinya kepada ummat dia bawa mati. Sungguh, setiap yang memiliki jiwa penggamit hati, adalah lapis-lapis keberkahan yang mencahayai zaman.

Habib An-Najjar sudah mati. Maka Allah yang Maha Santun dengan firman-Nya yang maha benar menyampaikan apa yang dia katakan dari alam yang sudah berbeda. Bahwa dia mencintai kaumnya, amat berhasrat menggamit semua hati untuk dibawa ke dalam cahaya, untuk diajak menikmati surga.

-----------
Sumber: Buku Lapis-lapis Keberkaha
Salim A. Fillah 



0 komentar:

Share is caring, Silahkan berbagi apa saja di sini.