Lembaga Dakwah Kampus Al-Iqtishod STEI Tazkia

Pengecas Ruhani Pemberi Inspirasi

Artikel

Sahabat bisa dapatkan artikel seputar Islam yang bisa menambah pemahaman kita mengenai Islam.

Audio

Download audio kajian dari asatidz terpercaya agar kita lebih mantap dalam memahami agama ini.

Join Us

Bergabung dengan sahabat lainnya di page facebook, twitter dan instagram untuk update artikel keren dan artwork awesome.

Kecilmu Membesari Hatiku

Tiada yang boleh dikecilkan dalam kehambaan ini
Bahkan debu boleh jadi alat tayammum penyuci
Juga menempel di kaki jadi saksi jihadnya diri

---

“Janganlah kalian merendahkan satu pun di antara makhluq-makhluq Allah,” ujar Imam Al Ghazali, “sebab Allah tak pernah bermaksud menghinakan mereka, ketika Dia menciptakannya.” Adalah manusia yang paling berkah, Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, memperlakukan makhluq di sekitarnya dengan penghormatan yang sangat indah.

Telah sampai kepada kita bagaimana beliau menghibur unta yang menangiskan aduannya, menjawab salam dari pokok tunggul yang merindunya, serta memberi nama bagi benda-benda yang dipergunakannya; dari kendaraan, senjata, hingga sisir dan wadah minumnya.

Bahkan,amal yang paling puncak berupa jihad di jalan Allah, tak membuat para pejuang di lapis-lapis keberkahan meremehkan hal kecil yang bertaburan di sekelilingnya.

Adalah Shalahuddin Al Ayyudi, pahlawan besar pembebas Al Quds itu, meminta dibukakan sebuah buntalan kain menjelang akhir hayatnya. Benda itu, yang selalu membuat orang bertanya apakah kiranya, sebab senantiasa beliau bawa ke mana pun, dalam masa perang maupun damai. Pastilah ia sesuatu yang sangat berharga. Dan terhenyaklah semua ketika mengetahui bahwa isi dari kantung keramat itu hanyalah tujuh gumpalan tanah.

“Ini adalah debu-debu yang menempel di kakiku sepanjang aku berada dalam jihad fi sabilillah,“ ujar beliau lirih. “Aku telah mengumpulkannya dari berbagai pertempuran yang kuikuti agar kelak mereka menjadi saksi bagiku di sisi Allah. Maka jadikanlah kesemua ini bantalan bagi jenazahku di dalam kubur. Ya Allah, terimalah amalku dan ampunilah dosaku.”

Hujan

Dan Kami turunkan dari langit air yang diberkahi, lalu Kami tumbuhkan dengan air itu pepohonan dan biji-bijian tanaman yang diketam, dan pokok-pokok kurma yang tinggi yang memiliki mayang bersusun-susun. Untuk menjadi rizqi bagi para hamba. Dan Kami hidupkan dengan air itu negeri yang mati. Demikianlah terjadinya kebangkitan.” (QS. Qaaf: 9-11)

Perhatikanlah bagaimana Allah mengaruniakan daya bagi bebijian yang tertimbun di dalam bumi. Dengan air yang Allah siramkan, tunasnya yang lembut berkecambah, naik menembus tanah keras. Pun akarnya bercecabang ke bawah, mengejar air hujan yang meresap. Betapa kuatnya makhluq bernama benih yang telah Dia hidupkan setelah sebelumnya tertidur dalam kubur. Ia nantinya menjelma menjadi tanaman pangan yang diketam panennya, pokok kurma yang menulang dengan mayang bersusun, dan aneka bebuahan yang tegak maupun merambat. Semua menjadi rizqi bagi para hamba.

“Demikianlah perumpamaan bagi kebangkitan yang akan dialami manusia,” pungkas Imam Ibn Katsir dalam Tafsirnya. “Betapa mudah bagi Allah meniupkan kehidupan pada tulang belulang dan debu, untuk bangkit berhimpun mempertanggung jawabkan amal perbuatannya.”

Dalam hujan di lapis-lapis keberkahan, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memerintahkan kita untuk mentauhidkan Allah sebagai satu-satunya yang kuasa menurunkan karunia. Tersunnahkan ucapan: “Umthirna bifadhlillaahi wa rahmatih. Kami dikarunia hujan dengan karunia Allah dan rahmat-Nya”; agar kita tak menisbatkan rintik ataupun lebatnya pada bintang ini dan gemintang itu. Inilah yang akan menderaskan lapis-lapis keberkahan di dalam tiap butir-butir air yang berdebur.

Kambing

 Di antara hujan penuh berkah yang turun itu, sebagiannya menggenang di padang-padang untuk diminum para hewan. Sebagian yang turun di gunung-gunung tinggi, menembus tanah dan bersembunyi, untuk nanti memancar keluar sebagai mata air yang sejuk segar. Sebagian masuk pula merasuk ke dalam bumi, menumbuhkan rerumputan hijau segar.

“Peliharalah kambing,” demikian sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Ibn Majah, “karena di dalamnya terdapat keberkahan.” Berkah sang kambing tak hanya melekat pada hewannya. Sang Nabi juga bersabda tentang keberkahan di dalam kandangnya. “Shalatlah kalian di dalamnya,” jawab beliau ketika ditanya tentang kandang kambing dalam hadist dari Al Bara’ ibn Azib yang dibawakan Imam Ahmad dan Abu Dawud, “Karena di dalamnya terdapat keberkahan.”

“Kambing memiliki banyak faedah dan manfaat,” demikian disampaikan oleh Imam Al Qurthubi dalam Al Jami’ li Ahkamil Qur’an, “mulai dari bulunya untuk pakaian, kulitnya untuk perkakas, dagingnya untuk dimakan, susunya untuk diminum, hingga anaknya yang berbiak banyak hingga tiga kali dalam setahun.”

“Yang paling utama dari kesemua itu,” ujar beliau, “adalah karena kambing membawakan ketenteraman yang selalu mengiringi pemiliknya. Dalam menekuni penernakannya, ia dapat membuat pemilik dan penggembalanya dikaruniai sifat tabah, lembut, pemaaf, rendah hati, serta ramah terhadap sesama. Mungkin itulah mengapa, para Nabi dibangkitkan oleh Allah dari kalangan para penggembala kambing.”

Dan sesungguhnya pada binatang ternak itu terdapat pelajaran bagi kalian. Kami memberi minum kalian dari apa yang terdapat dalam perutnya, dari antara kotoran dan darah terdapat susu yang murni, yang mudah ditelan bagi peminum-peminumnya.” (QS. An Nahl: 66)


-----------------------------------------------------
Sumber: Lapis-Lapis Keberkahan
Salim A. Fillah


0 komentar:

Share is caring, Silahkan berbagi apa saja di sini.