Lembaga Dakwah Kampus Al-Iqtishod STEI Tazkia

Pengecas Ruhani Pemberi Inspirasi

Artikel

Sahabat bisa dapatkan artikel seputar Islam yang bisa menambah pemahaman kita mengenai Islam.

Audio

Download audio kajian dari asatidz terpercaya agar kita lebih mantap dalam memahami agama ini.

Join Us

Bergabung dengan sahabat lainnya di page facebook, twitter dan instagram untuk update artikel keren dan artwork awesome.

Mengkaribi Jumat

Hai anak Adam, kalian tak lain hanyalah kumpulan hari-hari
Tiap berlalu sepetang dan sepagi, telah hilang bagian diri
(Hasan Al Basri)
---

Jumat

Sebaik-baik hari yang mentari terbit bersinar padanya adalah hari Jumat,” kata Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam seperti direkam oleh Imam Muslim, Ahmad, Abu Dawud, At Tirmidzi dan An Nasa’i. “Pada hari itu Adam diciptakan. Pada hari itu dia ditempatkan di dalam surga. Dan pada hari itu pula dia dikeluarkan darinya. Dan tidaklah Kiamat akan terjadi, melainkan di hari Jumat.”

Inilah detak-detik berharga yang menyapa kita di setiap pekannya. Ialah hari yang ditunjukkan Allah pada kaum Muslimin setelah Sabtu suci diambil oleh orang-orang Yahudi nan dimurkai dan Ahad didaku oleh orang-orang Nasrani nan sesat rugi. Pada Jumat, demikian menurut hadist yang dicatat oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim, terdapat sebuah saat mustajab yang jika seorang Muslim menetapinya dengan shalat dan berdoa, maka diijabah baginya apa pun yang diminta.

Wahai orang-orang yang beriman, apabila kalian dipanggil untuk shalat dari hari Jumat, maka bergegaslah menuju mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagi kalian sekiranya kalian mengetahui.” (QS. Al jumu’ah: 9)

Dari Jumat ke Jumat terjanjikan ampunan, ditambah dengan tiga hari sebagaimana dalam sabda Sang Nabi yang dibawakan Imam Muslim. Imam Al Bukhari mencatat sabda lainnya, bahwa berangkat bergegas padanya di waktu pertama setara dengan berqurban unta gemuk, disusul sapi di waktu kedua, kambing di waktu ketiga, serta ayam dan telur di kesempatan menjelang akhirnya. Ketika Imam telah berdiri menuju mimbar, para malaikat menutup catatannya dan turut menyimak khutbah.

Jumat di lapis-lapis keberkahan adalah Perayaan Adab; maka kita Mandi bersuci, berharum wewangi, bercelak mata, dan mensiwaki gigi; lalu bercermin dan memohon kepada Allah agar Dia hiaskan akhlaq mulia dalam diri.

Jumat di lapis-lapis keberkahan adalah Perayaan Taubat; maka kita berdandan, mengenakan pakaian terbersih, memakai kopiah indah, berselempang surban yang ranggi; kemudian memohon pada Allah ampunan, penghapusan dosa dan ditutupnya aib diri.

Jumat di lapis-lapis keberkahan adalah Perayaan Ibadah; maka kita memperbanyak shalawat atas Rasulullah agar kelak disambut beliau di telaga suci, diberi minum dari Al Kautsar yang wangi, bernaung di bawah panji, dan dikaruniai syafa’at Sang Nabi. Juga membaca surah Al Kahfi agar di antara dua Jumat kita senantiasa dicahayai, serta mentadabburi keteguhan para pemuda gua, semangat belajar Nabi agung Musa, pemilik kebun yang jemawa, serta keperwiraan Dzul Qarnain yang perkasa lagi bijaksana.

Jumat di lapis-lapis keberkahan adalah Perayaan Iman; berjuang agar Allah dan Rasul-Nya lebih kita cintai dari apa pun juga, berupaya agar menyuka dan membeci karena Allah semata, serta tak suka kembali pada jahiliyah lama sebagaimana diri ini benci dimasukkan ke dalam api yang menyala-nyala.

Jumat di lapis-lapis keberkahan adalah Perayaan Islam; kita berserah kepada Rabb yang Maha Kuasa dengan ketaatan sempurna, dan berjihad mengeluarkan manusia dari penyembahan kepada sesame menuju pengabdian pada Allah satu-satu-Nya.

Jumat di lapis-lapis keberkahan adalah Perayaan Ihsan; kita mengibadahi Allah seakan Dia tampak di hadapan, jikapun tak kuasa maka merasakan bahwa Dia senantiasa mengawasi dan memperhatikan. Di dalamnya kita bersungguh menahan kuap, menyimak khutbah, mengeja taat, lalu memohon pada Allah agar Dia karuniakan taqwa di dalam jiwa.

Jumat di lapis-lapis keberkahan adalah Perayaan Ukhuwah; kita menebar senyum, mengulukkan salam, menjabatkan tangan, serta memelukkan bahu. Kita berharap bahwa dengan saling mengenal. Saling memahami, saling menolong, serta saling menyokong, Allah akan mengaruniakan persaudaraan yang sebening prasangka, selembut nurani, sehangat semangat, senikmat pagi, dan sekokoh janji.

----------------------------
Lapis-Lapis Keberkahan
Salim A. Fillah


0 komentar:

Share is caring, Silahkan berbagi apa saja di sini.