Lembaga Dakwah Kampus Al-Iqtishod STEI Tazkia

Pengecas Ruhani Pemberi Inspirasi

Artikel

Sahabat bisa dapatkan artikel seputar Islam yang bisa menambah pemahaman kita mengenai Islam.

Audio

Download audio kajian dari asatidz terpercaya agar kita lebih mantap dalam memahami agama ini.

Join Us

Bergabung dengan sahabat lainnya di page facebook, twitter dan instagram untuk update artikel keren dan artwork awesome.

Direksi: Watch Your Step!


DIREKSI AL-IQTISHOD
Sentul, 13 Desember 2016


Kajian rutin LDK Al-iqtishod dari divisi kalam yang selalu diadakan disetiap hari selasa yang  pekan ini bertepatan dengan tanggal 13 Robiul Awal 1438 H. Sebagai seorang muslim, juga sebagai generasi muda islam yang  sesungguhnya erat kaitannya dengan dakwah amatlah penting untuk memahami bagaimana seharusnya seorang Da’iyah berakhlaq dan berperilaku. 
Al ustadz Abdul Mughni, Lc.,M.Ag. yang didaulat sebagai pembicara pada DIREKSI pekan ini, beliau membahas tentang bagaimana seorang Da’iyah seharusnya berakhlaq. Dalam kesempatan ini pula, beliau sekaligus mengkaji tentang buku yang berjudul “Min Akhlaqid Daa’iyah” karangan Syeikh Salman Fahd Al-Audah.



Berikut Notulensi Kajian DIREKSI LDK Al-iqtishod

Akhlaq dan dakwah adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Berikut adalah ayat yang menjelaskan tentang perintah untuk berdakwah :

أُدْعُوْا إِلَى سِبِيْل رَبِّكَ بِالحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِى هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيْلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِيْنَ (ِالنحل:125)


Artinya : “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhan mu dialah yang lebih mengetahui tentang dialah yang tersesat dari jalanNya dan dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (Al-ahzab: 125)
Adapula ayat yang lain, dalam surat Ali Imran Ayat 104,


وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُوْنَ إِلَى الْخَيْرِ وَ يَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَأُوْلَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ
Artinya : “Dan hendaklah ada diantara kamu segolongan ummat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.”

Dari Ali bin Abi Thalib Rasulullah saw dalam salah satu do’anya beliau mengucapkan
الَّلهُمَّ اهْدِنِيْ لِأَحْسَنِ الْأَخْلَاقِ فَإِنَّهُ لَا يَهْدِيْ لِأَحْسَنِهَا إِلَّا أَنْتَ وَاصْرِفْ عَنِّيْ سَيِّئَهَا لَا يَسْرِفُ عَنِّيْ سَيِّئَهَا إِلَّا أَنْتَ (رواه مسلم و أبو داود و الترميذ)
“Ya Allah tunjukkanlah aku pada akhlaq yang baik, karena tidak ada yang bisa menujukkanya selain engkau. Ya Allah jauhkanlah aku dari akhlaq yang tidak baik, karena tidak ada yang mampu menjauhkannya dariku selain engkau.”(HR. Muslim, Abu Daud, Tirmidzi)

Do’a diatas, adalah do’a untuk meminta ditunjukkan kepada akhlaq yang baik, karena hanya Allah yang berkuasa atas itu.
Dan dalam buku Syeikh Salman Fahd Al-audah, Min Akhlaaqid Daa’iyah terdapat beberapa do’a yang dikutip di dalamnya, agar meminta akhlaq yang baik dan dijauhkan dari akhlaq yang buruk, berikut do’a-do’a tersebut:
 الَّلهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُبِكَ مِنْ مُنْكَرَاتِ الْأَخْلَاقِ وَالْأَعْمَالِ وَالْأَهْوَاءِ (رواه االترميذ)

“Ya Allah aku berlindung kepadaMu dari akhlaq, amal, dan hawa nafsu yang munkar.” (HR. Tirmidzi no. 3591)

الَّلهُمَّ كَمَا حَسَّنْتَ خَلْقِيْ فَحَسِّنْ خُلُقِيْ

“Ya Allah sebagaimana engkau telah ciptakan aku dengan baik, maka perbaikilah akhlaqku”

Dalam buku Syekh Salman Al-Audah ini, disebutkan bahwa ada enam hal yang harus dimiliki oleh seorang Daa’iyah, yaitu:

Pertama, As-Shidqu, atau jujur yang meliputi jujur dalam membawa agama, dalam perkataan dan perbuatan. Mengimani agama zahir dan bathin, tidak khianat dalam beragama. Dan jujur dalam perkataan, dalam buku ini penulis mengutip bahwa ingatlah tentang perkataan Abu Sufyan (yang ketika itu belum masuk islam) kepada Hercules, ketika ia ditanya tentang Nabi Muhammad saw, “Demi Allah, jika bukan rasa malu akibat tudingan pendusta yang mereka lontarkan kepadaku, niscaya aku berdusta kepadanya.” Penulis mengambil kesimpulan bahwa, orang yang belum memeluk islampun mengedepankan kejujuran, bagaimana dengan orang islam, yang Nabinya mengedepankan kejujuran dalam perkataan. Lalu, jujur dalam perbuatan, yaitu perbuatan yang ikhlas lillahi ta’ala. Dalam surat Al-Mulk ayat 2 :
الَّذِى خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَوةَ لِيِبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا وَهُوَ الْعَزِيْزُ الْغَفُوْرُ (الملك: 2)
“Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa diantara kamu yang lebih bai amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.”
Menurut imam Fudhoil bin ‘iyadh, amal dan perbuatan yang akhlash dan  ashwab. Amal itu bukan dilihat dari kualitasnya, akan tetapi dilihat dari kuantitasnya. 

Kedua, As-Shobru, atau sabar. Seoranng daa’iyah harus memiliki sifat sabar, dan di dalam Al-quran banyak pula dijelaskan tentang sabar.
Ketiga, At-Tawadhu’, atau rendah diri, supel, humble, sifat ini penting sekali dimiliki seoranng daa’iyah.
Keempat, Al-‘Adlu, atau adil. Adil untuk semua golongan, justice for all. 
Kelima, Al-‘Athifah Al Hayyah, memiliki sensitifitas kepedulian yang tinggi.
Keenam, Ath-Thumuh, visioner untuk kemajuan ummat.

Wallahu A’laam Bish-Showwaab… Wallahu Waliyyut Taufiq….
 

Semoga bisa memberikan manfaat untuk kita semua, serta bisa menjadi acuan untuk senantiasa memperbaiki amalan wajib kita dan amalan-amalan sunnah lainnya. Semangat menjemput keberkahan. Barakallahu fikum.



 


RED: Divisi Syiar LDK AL-IQTISHOD







 

 

 


0 komentar:

Share is caring, Silahkan berbagi apa saja di sini.