Lembaga Dakwah Kampus Al-Iqtishod Institut Agama Islam Tazkia

Pengecas Ruhani Pemberi Inspirasi

Artikel

Sahabat bisa dapatkan artikel seputar Islam yang bisa menambah pemahaman kita mengenai Islam.

Audio

Download audio kajian dari asatidz terpercaya agar kita lebih mantap dalam memahami agama ini.

Join Us

Dapatkan info mengenai pendaftaran keanggotaan LDK Al Iqtishod terbaru.

Tampilkan postingan dengan label Ramadhan Awesome. Tampilkan semua postingan

Ihdinash Shiratal Mustaqiim

Ihdinash shiratal mustaqiim. Tunjukkanlah kami jalan yang lurus.”

Tidak sah sholat kita tanpa membaca Surah Al Fatihah di tiap raka’atnya. Dan dalam senarai 7 ayat terdahsyat ini, usai kita memuji Allah, memuliakan dan mengagungkan-Nya, dengan tunduk kita menadah karunia-Nya. Ialah doa kita agar Allah karuniakan petunjuk ke jalan yang lurus. Kita membacanya setia hari sekurangnya 17 kali, sebab ialah doa terpenting, permohonan petunjuk, dan pinta paling utama.

Jalan yang lurus.

Terjemah itu mungkin membuat sebagian kita membayangkan bahwa jalan lurus itu bagus, halus dan mulus. Kita mengira bahwa shiratal mustaqiim adalah titian yang gangsar dan tempuhan yang lancar. Kita menganggap bahwa ia adalah jalan yang bebas hambatan dan tiada sesak, tanpa rintangan dan tiada onak. Kita menyangka bahwa di jalan itu, segala keinginan terkabul, setiap harapan mewujud, dan semua kemudahan dihamparkan.

Frasa “jalan yang lurus” membuat kita mengharapkan jalur yang tanpa deru dan tanpa debu.

Maka kadang kita terlupa, bahwa penjelasan tentang jalan yang lurus itu tepat berada di ayat berikutnya. Jalan lurus itu adalah, Jalan orang-orang yang telah Kau beri nikmat. Bukan jalan orang-orang yang Kau murkai, dan bukan pula jalan mereka yang sesat.

Maka membentanglah Al Qur’anul Karim sepanjang 113 surah bakda Al Fatihah untuk memaparkan bagi manusia jalan orang-orang yang telah diberi nikmat itu. Ialah jalan Adam dan Hawa; jalan Nuh; Hud, dan Shalih; jalan Ibrahim hingga Ya’qub sekeluarga; jalan Musa dan Saudaranya; jalan Daud dan putranya; jalan Ayyub dan Yunus; jalan Zakariyya dan Yahya, serta Maryam dan ‘Isa. Jalan indah itu sesekali ditingkahi jalan mereka yang dimurka dan sesat, jalan iblis dan Fir’aun, hingga Samiri dan Qarun.

Cerita kehidupan Adam hingga ‘Isa itu adalah lapis-lapis keberkahan.

Kisah mereka berkelindan, mengulurkan makna-makna yang mengokohkan cipta, serta karsa Sang Rasul terakhir dan ummatnya yang bungsu. Kisah mereka bertautan, melahirkan artian-artian yang menguatkan iman dan perjuangan Sang Penutup rangkaian kenabian beserta para pengikutnya; menghadapi kekejaman Abu Jahl, kekejian Abu Lahab, keculasan Al ‘Ash ibn Harits, tuduhan Al Walid ibn Mughirah, dongengan An Nazhar ibn Harits, rayuan ‘Utbah ibn Rabi’ah, cambukan ‘Umayyah ibn Khalaf, hingga timpukan ‘Uqbah ibn Abi Mu’ith.

Adalah Rasulullah memerah wajahnya pada suatu hari, ketika beliau bangkit dari berbaring berbantal surban di dekat Ka’bah. Adalah Khabbab ibn Al Arat, lelaki pandai besi yang kerap disiksa Abu Jahl dengan diikat pada selongsong logam dan dipanggang di atas bara peleleh besi; hari itu menghadap dan berbisik. “Ya Rasulullah,” demikian lirih dia berkata seakan masih merasakan bagaimana punggungnya melepuh lalu pecah dan arang penyiksan terpadam oleh tetesan cairan luka bakarnya, “tidakkan engkau berdoa atau menolong kami?”

Di antara kedua alis bertaut junjungannya, ada pembuluh yang kian membiru. Itu pertanda bahwa manusia paling pengasih ini marah karena Rabbnya. “Demi Allah,” ujar beliau bergetar, “orang-orang sebelum kalian ada yang disisir dengan sikat besi hingga terpisah daging dari tulangnya, ada yang digergaju tubuhnya hingga terbelah badannya; tapi itu semua tak memalingkan mereka dari Laa ilaaha illallaah; tiada sesembahan yang benar selain Allah.”

Khabbab sama sekali tidak bersalah ketika bertanya. Khabbab sungguh harus difahami kerisauannya. Khabbab telah mengorbankan seluruh dirinya; hingga sakit dan luka, dengan disiksa dan dinista, demi risalah yang dibawa Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Tetapi, demikianlah Sang Nabi hendak mengajarkan padanya dan kepada kita, apa makna jalan lurus.

Dan sesungguhnya Allah adalah Rabbku dan Rabb kalian, maka sembahlah Dia. Inilah jalan yang lurus. (Q.s. Maryam [19]: 36)

Jalan lurus itu diikat oleh satu hakikat. Yakni beribadah hanya kepada Allah satu-satunya, tiada sekutu bagi-Nya. Bahwa di dalamnya ada nestapa dan derita, ia hanya penggenap bagi kebersamaan dan cinta. Bahwa di dalamnya ada kehilangan dan duka, ia hanya penguat bagi sikap syukur dan menerima. Bahwa di dalamnya ada pedih dan siksa, ia hanya penyempurna bagi rasa nikmat dan mulia.

“Demi Allah, Dia pasti akan menyempurnakan urusan ini,” demikian Sang Nabi melanjutkan sabdanya pada Khabbab, kini dengan senyuman bercahaya, “hingga seseorang berjalan dari Shan’a ke Hadhramaut dan tiada yang ditakutinya selain Allah. Tetapi kalian tergesa-gesa.”


Sumber: Buku Lapis-Lapis Keberkahan
Oleh: Salim A. Fillah

Ramadhan dan Hidup Bermasyarakat

Berpuasa merupakan sebuah implementasi rasa syukur umat muslim terhadap bulan Ramadhan. Di samping hal tersebut, dengan adanya kebaikan-kebaikan yang diganjar tinggi oleh Allah, maka situasi seperti ini juga harus dimanfaatkan oleh ummat muslim untuk melakukan peningkatan hubungan ke sesama, yaitu melakukan ibadah sosial. Sebab, perkara kehidupan tidak hanya mengenai ibadah formal saja seperti sholat, puasa, haji, dsb, melainkan juga mencakup ibadah sosial seperti menolong ke sesama, silaturrahim, dan lain-lain.

Rasulullah saw menyampaikan sebuah hadist yang berbunyi:

وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ الَّه صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم قَالَ : حَقُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ خَمْسٌ : رَدُّ السَّلَامِ، وَعِيَادَةُ الْمَرِيْضَ، وَاتِّبَاعُ الْجنَائِزِ، وَإِجَابَةُ الدَّعْوَةِ، وَتَشْمِيْتُ الْعَاطِسِ (مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ)
“Dari Abu Hurairah ra. yang berkata bahwa Rasulullah saw. bersabda: Haknya seorang muslim terhadap orang muslim yang lain ada lima, yaitu menjawab salam, mengunjungi yang sakit, mengikuti jenazahnya, memenuhi undangannya dan bertasymit kepada yang bersin”. (Muttafaq 'alaih)

Hadits di atas diartikan sebagai sebuah gambaran yang mana disetiap diri saudara sesama muslim terdapat hak-haknya yang harus ditunaikan. Jadi, Islam sangat menekankan kebaikan-kebaikan yang mampu mengantarkan umat muslim kepada lingkar persaudaraan.

Melakukan ibadah sosial berfungsi sebagai pemupukan sifat empati dan menghilangkan rasa ego di dalam diri. Maka, dengan hadirnya kepedulian untuk menebarkan kebaikan kepada sesama, hubungan antar manusia akan semakin baik dan berimplikasi kepada lingkungan yang lebih luas lagi. Sebab, beragamnya masyarakat membuat kita harus turut andil dalam perbaikan sistem komunikasi sosial yang baik. Untuk menciptakan sebuah lingkungan yang baik maka harus dimulai dari lingkup terkecil dulu.

Oleh karena itu, dengan hadirnya bulan Ramadhan ini, ada baiknya bila kita merenungkan beberapa hikmah yang terkandung di dalam bulan  itu sendiri, seperti semakin eratnya tali silaturrahim, penjagaan yang kuat terhadap lisan dan perbuatan serta terciptanya rasa peduli. Barangkali perenungan yang kita lakukan, bisa membangkitkan spirit berbuat kebaikan yang tinggi.


Oleh: SLA

Mengapa Tubuh Lemas Saat Puasa ?

Saat berpuasa, tak sedikit orang yang merasa lemas, tak berenergi. Sehingga membuatnya malas bergerak. Sebenarnya apa sih penyebabnya? Lalu bagaimana mengatasinya?

Dokter Spesialis Gizi Klinik, Samuel Oetoro, mengatakan saat puasa, kita tidak boleh makan dan minum selama 13 sampai 14 jam. Nah, waktu tidak makan, kadar gula darah harus dijaga agar tetap stabil dan lumayan tinggi. Tapi faktanya, orang puasa banyak yang lemah. Terutama saat jam 11 siang.

Samuel mengatakan mereka lemah, karena saat sahur, biasanya mereka minum teh manis. Ia mengungkapkan, manis itu memang membuat kuat, tapi hanya dalam waktu singkat. Dan menjelang siang tubuh akan drop.

“Sebab gula itu menaikkan kadar gula kita melonjak dalam waktu setengah jam, tapi dalam waktu satu jam dia drop, waktu drop disitu Anda lemas, lapar. Makanya waktu bulan Ramadhan menjelang imsak, disarankan makan karbohidrat kompleks, tinggi serat yaitu buah diblender, bukan di jus,” jelasnya.

Ia menjelaskan buah blender itu sebaiknya diblender dengan kulitnya dengan ampas. Karena serat dalam buah itu menyebabkan karbohidrat penyerapannya pelan-pelan. Kalau naiknya pelan-pelan, turunnya juga pelan-pelan, sehingga badan akan tetap terasa kenyang.

Dokter Spesialis Gizi Klinis, Tirta Prawita Sari, mengatakan masalah yang sering terjadi saat puasa adalah lapar. Karena metabolisme tubuh selesai mengabsorpsi atau meneyrap makanan saat sahur selama empat jam. “Titik lapar kita itu dari sahur plus empat jam, jadi sekitar jam 10 sampai 11 kita lapar. Jadi sering berhalusinasi, jam segini enaknya kita minum kopi plus pisang goreng enak, atau buka enaknya makan ini atau makan itu, mengkhayal,” ujarnya.

Namun, ketika jam 12 sampai jam satu, tubuh biasanya sudah ganti moda pembakarannya. Sehingga yang dimakan saat makan sahur, dibakar jadi lemak. “Biasanya kalau habis Dzuhur kita bisa segar kembali, energi yang didapat bukan dari glukosa, tapi dari lemak. Nah bagi yang mau menurunkan berat badan, ini cara yang baik,” ujarnya.

Ia juga mengakui saat jelang buka, tubuh bisa sangat lemas. Itu karena kekurangan cairan dan pada saat sahur minum minuman manis. Karena itu, pilih karbohidrat yang kuat, yang dibakar pelan-pelan dan yang diserap pelan-pelan, sehingga punya cadangan cukup.

Selain itu, lemas saat berbuka puasa kerap dialami. Dokter Tirta mengungkapkan ini karena saat buka puasa sejumlah makanan masuk tubuh sangat cepat, perut penuh, sehingga seluruh darah fokus ke perut.  Akibatnya aliran darah ke otak, berhenti, karena semua fokus di perut.

Karena alirah darah berfungsi mengangkut oksigen, karena makan banyak ini, akibatnya alirannya berkurang. Sehingga timbul kantuk dan lemas. “Puasa, bukan membuat kita kelaparan, jangan terlalu heboh menyikapi lapar. Jangan karena puasa, malas-malasan dan Rasul pun mencontohkan jangan makan sebanyak itu,” ujarnya.

Ia menyarankan makan seperti biasa saja, tidak perlu heboh dengan sop buah dan lainnya. Untuk berbuka bisa pilih kurma tiga biji. Karena kurma memiliki indeks glikemik tinggi, tapi jangan terlalu banyak. "Tiga biji cukup untuk mengembalikan energi," ujarnya.

____________________
Sumber: republika.co.id


Infuse Water : Minuman Kesukaan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa Sallam


  • [ Infuse Water : Minuman Kesukaan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa Sallam ]

    Minumlah air rendaman kurma, inilah yang akan terjadi pada tubuh anda :

    Air nabeez adalah air rendaman (infused water) kurma / kismis (raisins). Kurma atau kismis di rendam dalam air masak semalaman (dalam wadah yang bertutup) dan diminum keesokkan paginya. Air nabeez ini merupakan kegemaran Rosulullah. Nabi merendam beberapa butir kurma atau kismis (salah satunya) di dalam air matang dalam wadah bertutup selama 12 jam. Airnya diminum & buah kurma yang sudah lembut ditelan sekali telan.

    Ada beberapa hadis yang menyebutkan tentang cara membuat air nabeez ini, salah satunya riwayat dari Imam Muslim sebagai berikut :

    Dari Aisyah Radhiyallahu 'anha dia berkata : “Kami biasa membuat perasan untuk Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam di dalam air minum yang bertali di atasnya, kami membuat rendaman di pagi hari dan meminumnya di sore hari, atau membuat rendaman di sore hari lalu meminumnya di pagi hari.” (H.R. Muslim)

    Berbicara mengenai infused water. Orang barat baru sekarang faham dan baru mempopulerkan khasiat infuse water ini. Tetapi Rasulullah Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam telah lama melakukan hal ini. *Dari segi kesehatan tubuh, buah kurma telah terbukti sebagai*

    1. Pemberi & pemulih tenaga (inilah sebab mengapa kita disunahkan untuk memakan buah kurma pada saat berbuka puasa). 2. Tinggi kandungan fiber ~ menghilangkan kolestrol jahat yang terkumpul di dalam tubuh. Sangat bagus dalam menghilangkan sembelit (atau meredakan & memulihkan diri dari sembelit). 3. Pemberi zat besi yang sangat bagus.

    4. Kaya akan pottassium, penting dalam menjaga jantung & menstabilkan tekanan darah. *Khasiat air nabeez*

    Air nabeez adalah minuman beralkali, yang mampu menolong membuang kelebihan asam pada perut dan memulihkan sistem pencernaan tubuh. Juga membantu badan untuk menyingkirkan toksin yang berbahaya didalam tubuh, dalam kata lain berguna sebagai detox.

    Disebabkan air nabeez tinggi akan kadar fiber, ia mampu membantu proses pencernaan yang baik & meningkatkan / menajamkan fikiran agar kita tidak mudah lupa. *Cara membuat air nabeez*
    👇👇👇

  • *Cara membuat air nabeez*

    Rendamlah beberapa butir kurma (sebagusnya dalam bilangan ganjil) ke dalam air masak didalam segelas air. Alangkah baiknya dibuat pada waktu sore menjelang malam, dan pastikan gelas rendaman kurma tersebut tertutup rapat. Keesokkan paginya (+ 8-12 jam setelah perendaman), air rendaman baru boleh diminum & buah kurma hasil rendaman yang telah lembut ikut dimakan.
    Kurma yang baik digunakan untuk membuat air nabeez adalah kurma ajwa. Tapi kalo tidak ada kurma ajwa bisa menggunakan buah kurma yang lainnya.

    Kalau ingin membuat air nabeez dengan menggunakan buah kismis pun bisa.

    Caranya ambil segenggam kismis, kemudian direndam dalam segelas air. Dan dibiarkan semalaman seperti membuat air rendaman kurma.

    Kalau ingin meminum air nabeez di waktu pagi hari, siapkan rendaman kurma / kismis pada sore menjelang malam. Dan kalo ingin meminum air nabeez di waktu malam, buatlah rendaman kurma / kismis di waktu pagi hari (+ 8 sampe 12 jam perendaman). Sebaiknya hanya menggunakan satu macam buah saja Kurma atau Kismis, jangan dicampur.

    Air nabeez bila tersimpan di dalam lemari es bisa bertahan 1 hingga 2 hari.Tetapi dilarang meminum air rendaman kurma / kismis yang sudah memasuki lebih dari 3 hari, karena akan terjadi proses fermentasi, yang menjadikan air rendaman kismis / kurma tersebut menjadi arak, dan dan hukumnya haram untuk diminum. Silahkan bagikan tips sehat ala Nabi ini.
    __________________
    Sumber : herbalsehat.co.id

Ragam Sholat Tarawih Dan Qunut Witir Nabi


Syaikh Al-Albani telah menjelaskan perinciannya dalam kitab yang lain “Shalat Tarawih” (hal.101-105), kemudian disini hendak meringkasnya untuk mempermudah pembaca dan sebagai peringatan.

Cara Pertama
Shalat 13 rakaat yang dibuka dengan 2 rakaat yang ringan atau yang pendek, 2 rakaat itu menurut pendapat yang kuat adalah shalat sunnah ba’diyah Isya’. Atau 2 rakaat yang dikhususkan untuk membuka shalat malam, kemudian 2 rakaat panjang sekali, kemudian 2 rakaat kurang dari itu, kemudian 2 rakaat kurang dari sebelumnya, kemudian 2 rakaat kurang dari sebelumnya, kemudian 2 rakaat kurang dari sebelumnya, kemudian witir 1 kali.

Cara Kedua
Shalat 13 rakaat diaantaranya 8 rakaat salam pada setiap 2 rakaat kemudian melakukan witir 5 rakaat tidak duduk dan salam kecuali pada rakaat kelima.

Cara Ketiga
Shalat 11 rakaat, salam pada setiap 2 rakaat dan witir 1 rakaat.

Cara Keempat
Shalat 11 rakaat, shalat 4 rakaat dengan 1 salam, kemudian 4 rakaat lagi seperti itu kemudian 3 rakaat. Lalu apakah duduk (tasyahud –pent) pada setiap 2 rakaat pada yang 4 dan 3 rakaat? Kami belum mendapatkan jawaban yang memuaskan dalam masalah ini. Tapi duduk pada rakaat kedua dari yang tiga rakaat tidak disyariatkan !.

Cara Kelima
Shalat 11 rakaat diantaranya 8 rakaat, tidak duduk kecuali pada yang kedelapan, (pada yang ke-8 ini –pent) bertsyahud dan bershalawat kepada Nabi Shallaalhu ‘alaihi wa sallam, kemudian berdiri lagi dan tidak salam, kemudian witir 1 rakaat, lalu salam, ini berjumlah 9 rakaat, kemudian shalat 2 rakaat lagi sambil duduk.

Cara Keenam
Shalat 9 rakaat, 6 rakaat pertama tidak diselingi duduk (tasyahud –pent) kecuali pada rakaat keenam dan bershalawat kepada Nabi Shallaalhu ‘alaihi wa sallam dan seterusnya sebagaimana tersebut dalam cara yang telah lau.

Inilah tata cara yang terdapat dari Nabi Shallaalhu ‘alaihi wa sallam secara jelas, dan dimungkinkan ditambah cara-cara yang lain yaitu dengan dikurangi pada setaip cara berapa rakaat yang dikehendaki walaupun tinggal 1 rakaat dalam rangka mengamalkan hadist Rasulullah Shallaalhu ‘alaihi wa sallam yang telah lalu (“…Barangsiapa yang ingin, witirlah dengan 5 rakaat, barangsiapa yang ingin, witirlah dengan 3 rakaat, barang siapa yang ingin,witirlah dengan 1 rakaat) 

[Faedah penting : Berkata Ibnu Khuzaimah dalam “Shahih Ibni Khuzaimah” 2/194, setelah menyebutkan hadist Aisyah dan yang lainnya pada sebagian cara-cara tersebut, maka dibolehkan shalat dengan jumlah yang mana dari yang disukai dari yang telah diriwayatkan daari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukannya tida larangan bagi siapapun padanya, Saya katakan: Ini difahami sangat sesuai dengan apa yang kita pilih yang konsisten dengan jumlah yang shahih. Dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan tidak menambahinya. Segala puji bagi Allah atas taufiq-Nya dan aku meminta Nya untuk menambahi keutamaan-Nya.].

Shalat 5 dan 3 rakaat ini, jika seseorang menghendaki untuk melakukannya dengan 1 kali duduk (tasyahud –pent) dan satu kali salam sebagaimana pada cara kedua, boleh. Dan jika ingin, bisa dengan salam pada setiap 2 rakaat seperti pada cara ketiga dan yang lain dan itu lebih baik. 

Adapun shalat yang 5 dan 3 rakaat denagn duduk (tasyahud –pent) pada setiap 2 rakaat tanpa salam, kita tidak mendapatinya terdapat dari Nabi Shallaalhu ‘alaihi wasallam, pada asalnya boleh, akan tetapi nabi Shallaalhu ‘alaihi wa sallam ketika melarang untuk 3 rakaat dan memberikan alasannya dengan sabda beliau “Jangan serupakan dengan shalat mahgrib…” (diriwayatkan At-Thahawi dan Daruquthni dan selain keduanya lihat “Shalatut Tarawih” hal 99-110) .

Maka bagi yang ingin shalat witir 3 rakaat hendaknya keluar dari cara penyerupaan terhadap mahgrib dan itu dengan 2 cara :

1. Salam antara rakaat genap dan ganjil itu lebih utama.
2. Tidak duduk (tasyahud –pent) antara genap dan ganjil, (yakni pada rakaat kedua –pent).

(Dinukil dari terjemahan kitab “Qiyamu Ramadhan”, karya Syaikh Muhammad Nashiruddin al Albani, edisi Indonesia “Shalat Tarawih Bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ”, Penerjemah : Al-Ustadz Qomar Su’aidi, Bab “Tata Cara Shalat Tarawih”
Hal : 60 – 71, Penerbit “Cahaya Tauhid Press)

"Ringkasan ragam sholat Tarawih & qunut witir Rasulullah"
Salafy.or.id

Doa Dua Dunia

Bila kamu membaca tulisan ini, ini untukmu
Ditulis kala kami tidak tahu siapa kamu
Bagaimana rupamu, bahkan kami tidak tahu bahwa kamu akan menjadi milik kami

Maaf bila kami tidak banyak bicara
Dan cinta kami yang tidak memberikan rasa
Melainkan, hanya seutas doa terbaik untukmu yang kami alirkan dalam raga
Walau begitu kami percaya, mungkin tidak sekarang, tapi suatu saat nanti kamu akan mengerti mengapa
Dan semoga doa kami juga tersematkan dalam jiwa

Sisi terbaik yang ada di dalam dirimu, adalah ketika kamu bisa menjadi dirimu sendiri
Hari ini, begitu banyak orang lebih mudah menjadi orang lain
Dengan segala macam bentuk manipulasi rupa dan sikap

Mungkin memang tidak terlihat berharga
Seperti doa yang diterima teman-temanmu dari orang tua mereka
Percayalah, bukan tanpa alasan kami memilihkan doa itu untukmu
Bukankah sudah menjadi tugas orang tua, untuk memberikan yang terbaik bagi anak-anaknya ?

Doa itu, doa yang tak berumur sapanjang masa usia
Ia melintas mengarungi zaman, meliputi dua dunia

Mengapa menjadi diri sendiri itu selalu lebih sulit ?
Karena mungkin hanya sedikit orang yang akan menerimamu, berjalan bersamamu, mendengarkan
bicaramu, atau memahami maksudmu

Ah, kadang kita lupa. Kita mencari kebahagiaan dengan cara-cara yang salah
Kebahagiaan itu tidak diukur dengan besar kecilnya penerimaan orang lain terhadap dirimu kan ?
Melainkan diukur dari bagaimana kamu menerima dirimu sendiri
Dalam wujud rasa syukur atas apapun yang kita miliki
Dalam bentuk lahir maupun batin

Maka dari doa itu pula kita belajar, bahwa yang terpenting bukan seberapa cepat
sebuah munajat diijabat, melainkan seberapa lama ia memberi manfaat

Berikan perasaan terbaikmu pada doa kami. Berjuanglah. Berusahalah. Dan bermanfaatlah.

Kalau sederhananya kamu bisa mewujudkan diri menjadi doa yang kamu miliki dan setiap anak
melakukan hal yang sama. Niscaya kehidupan ini akan dipenuhi oleh orang-orang yang baik

Jangan lupa bahagia
Bahagia dalam kesederhanaan

Sesederhana bahwa doa itulah yang kelak menjadi nama panggilanmu dihadapan Sang Pencipta


Oleh: MAA